.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Friday, 08 Dec 2017
Bagaimana Agar Panggilan Kerja Datang Kepada Saya?
Novita Kurniastining Wulan
Selamat Malam Bapak Eko. Semoga bapak sehat selalu. Mohon maaf menggangu waktu bapak. Saya mau bertanya, saya ingin mendapat panggilan kerja dari Bank BTN. Rencananya, Saya akan mengirimkan lamaran ke bank tersebut. Saya mempunyai pengalaman sebagai
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 5
Total Pengunjung: 892729

PENGANTAR

SURYONO EKOTAMA dilahirkan dalam sebuah keluarga yang berkecimpung dalam dunia hukum. Kedua orang tuanya merupakan staff pengajar fakultas hukum sebuah universitas negeri. Begitu pula keluarga besarnya dari garis ibu banyak yang meniti karir dalam dunia hukum, baik sebagai staff pengajar maupun sebagai penegak hukum. Iapun mendapatkan pendidikan formal yang baik dalam dunia hukum sampai level master di sebuah universitas terkemuka pula. Secara informal, ia sudah terbiasa melahap buku-buku hokum sejak masih kanak-kanak yang tersebar di meja kerja orang tuanya.


Lingkungannya yang berada dalam lingkaran hukum ini membentuk pribadi dan pola pikirnya. Cara berpikirnya cenderung kaku sebagaimana halnya pasal-pasal dalam peraturan perundangan. Hal ini ditambah lagi dengan sikap tegasnya yang seringkali tanpa kompromi. Baginya, menegakkan peraturan adalah disiplin untuk menuju kepada kesuksesan. Hal ini sudah dibuktikannya dengan membuat bisnis franchise yang seratus persen tunduk pada sistem, bukan pada kehendak atau perintah pemilik bisnis. Sistem seperti inilah yang justru akhirnya dapat menduplikasi keuntungan bisnis.


Tidak ada Jenderal yang tidak tunduk pada peraturan disiplin. Mereka menjadi Jenderal karena mereka disiplin dan patuh pada peraturan disiplinnya pada saat mereka meniti karir mulai dari bawah. Pengusaha kecil yang membuat dan tunduk pada aturan sistem bisnisnya akan menjadi konglomerat suatu saat nanti.

(Ekotama, Agustus 2009)

Meskipun demikian, ia juga menganggap bahwa hukum yang sudah ditulis itu pasti mati! Oleh karena itu, sifat pemberontaknya kadangkala muncul. Ia ingin melahirkan hukum-hukum baru yang lebih mampu mengakomodir kepentingan umum dibandingkan dengan hukum-hukum lama yang sudah ketinggalan jaman. Seringkali ia juga merasa geram ketika mendapati sebuah hukum yang dibuat oleh pejabat yang korup. Baginya, hukum yang dibuat pejabat korup itu bukanlah hukum yang harus ditaati, tapi hukum yang harus dikubur kedalam perut bumi bersama-sama dengan kepala tikus koruptor yang membuat hukum itu.


Ketika ia terjun total kedalam dunia bisnis, pola pikir dan cara bertindaknya itu juga masih berbau hukum. Oleh karena itu ia menuangkan banyak hasil pemikirannya dengan balutan hukum. Ia menyebutnya dengan HUKUM EKOTAMA, yakni hukum-hukum yang ia buat sendiri. Namanya yang dicantumkannya disitu semata-mata untuk membedakannya dengan hukum bikinan orang lain. Berbeda dengan hukum negara, hukum ini bersifat tidak mengikat. Namun siapapun dapat mengikatkan diri pada hukum ini atau bahkan mencela hukum ini. Ia memiliki pertimbangan sendiri mengapa harus melahirkan hukum-hukum seperti ini.


Baginya, sebagai seorang sarjana hukum ia harus memberikan kontribusi yang positif bagi perkembangan hukum di Indonesia. Ia tidak mau menjadi sarjana mandul yang tidak pernah melahirkan pemikiran apapun bagi bangsa ini, bahkan cenderung menjadi benalu bagi bangsa yang masih melarat ini. Spesialisasinya dalam bidang hukum bisnis telah membawanya untuk melahirkan hukum-hukum yang berkaitan dengan ekonomi atau bisnis. HUKUM EKOTAMA tidak dilahirkan dalam waktu sekejap. Hukum ini dilahirkan dengan pemikiran yang sangat mendalam dengan melihat dan mempelajari fakta-fakta sejarah serta kegunaannya untuk masa-masa mendatang melalui proses yang sangat panjang. Artinya, HUKUM EKOTAMA ini bukanlah kata-kata mutiara untuk hiasan meja kerja kita belaka, namun dapat menjadi tuntutan hidup bagi mereka yang ingin menjadi majikan terdidik dalam arti yang sebenarnya.


Aku melahirkan hukum bukanlah untuk menghukum seseorang. Negara sudah melakukannya. Aku membuat rel bagi siapapun yang ingin menjadi majikan terdidik.


(Ekotama, Agustus 2009)


Makna yang terkandung dalam HUKUM EKOTAMA ini jauh lebih dalam dari cara penyampaiannya yang terkesan ringan. Adapun mengenai cara penyampaiannya yang terkesan ringan ini, ia beralasan bahwa hukum tersebut harus dapat dipahami setiap orang dengan latar belakang apapun. Baginya, kesederhanaan dapat memudahkan pemahaman. Sedangkan kedalaman makna dapat tertanam dalam hati siapa saja tentang kebenarannya yang akan mengontrol cara bertindaknya.


Kesederhanaan itu memudahkan pemahaman. Kedalaman makna membuatnya tertanam dalam hati siapa saja tentang kebenarannya dan akan menjiwai setiap tindakannya.


(Ekotama, Agustus 2009)


Akhirnya, HUKUM EKOTAMA dipersembahkan kepada masyarakat Indonesia untuk dipahami maknanya dan dapat menjadi acuan bertindak dalam berkarya menjadi majikan terdidik dalam arti yang sebenarnya. Anda mendapatkan kehormatan pertama dengan membacanya melalui website ini. Tentu saja kehormatan yang Anda miliki dapat berubah menjadi penghormatan bangsa ini kepada Anda jika Anda menjadi MAJIKAN TERDIDIK yang dapat memajukan dan mensejahterakan bangsa ini sebagaimana haknya atas tanah airnya.

 

Thursday, 15 Sep 2016

MEMPERINGATI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA, LAUNCHING BUKU BARU
RAHASIA MUDAH MENDAPATKAN PEKERJAAN

 

SURYONO EKOTAMA sering berkata pedas soal cara bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaannya. Mulai dari libur (tidak produktif), sampai lomba-lomba konyol yang tidak mendidik (balap karung, panjat pinang, makan kerupuk, dan sebagainya). Menurutnya, sebagai bangsa yang merdeka, seharusnya bangsa Indonesia mampu memperingati hari kemerdekaannya dengan cara yang lebih bermakna, misalnya lomba matematika, lomba fisika, lomba teknologi tepat guna, lomba disain baju, dan sebagainya yang menunjukkan kualitas manusia Indonesia yang sebenarnya.

Thursday, 21 Apr 2016

ULTAH KE-39, LAUNCHING BUKU


DATANG BAWA LAMARAN, PULANG BAWA SAHAM

 

Komitmen Suryono Ekotama untuk turut serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia betul-betul dibuktikan dengan karya nyata. Sepanjang tahun 2015, ia menerbitkan empat judul buku bertema peningkatan kualitas sumber daya manusia, yakni TRIK JITU JUAL DIRI (Gramedia Pustaka Utama), SUKSES MENEMBUS SELEKSI KARYAWAN (Gramedia Pustaka Utama), RAHASIA SUKSES SELEKSI WAWANCARA (Gramedia Pustaka Utama); CARA GAMPANG MENGUBAH KARYAWAN MENJADI ASET (Elex Media Komputindo).

Thursday, 05 Nov 2015

HARI SUMPAH PEMUDA, LAUNCHING BUKU

"CARA GAMPANG MENGUBAH KARYAWAN MENJADI ASET"

Hari Sumpah Pemuda diperingati sebagai kebangkitan pemuda pemudi Indonesia dan jiwa nasionalismenya. Pertanyaannya, apa yang sudah kita lakukan untuk memperingati hari sumpah pemuda ini untuk kemajuan bangsa Indonesia?

Banyak pemuda dan pemudi justru galau memperingati hari sumpah pemuda. Sudah sumpah pemudanya tidak hapal, tidak pula ada karya nyata yang disumbangkan untuk memajukan bangsa. Namun berbeda dengan Suryono Ekotama. Seperti biasanya, penulis yang masih mengklaim dirinya muda usia ini memperingati hari sumpah pemuda dengan karya nyata. Ia menerbitkan buku baru untuk memperbaiki kualitas bangsa Indonesia bersama Penerbit Elex Media Komputindo (Jakarta) berjudul CARA GAMPANG MENGUBAH KARYAWAN MENJADI ASET YANG PRODUKTIF DAN MENGUNTUNGKAN. Buku ini adalah buku ke-20 dari serial buku bisnis praktis yang diterbitkan oleh Suryono Ekotama.

Copyright 2009 - 2017 :: ekotama. All Rights Reserved.