.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Thursday, 02 May 2019
Permohonan Sharing Knowledge
Muhammad Alfis Budi Sanjaya
Selamat Sore Apakah memungkinkan, kami mengundang Bapak untuk melakukan Sharing Knowledge di Perusahaan? Terima kasih Best Regards Muhammad Alfis
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 4
Total Pengunjung: 1095937

Artikel Sosial Politik :: Ekotama


Sunday, 31 Aug 2014
ANTRI BBM...?!?

ANTRI BBM...?!?

Aku geram melihat antrian kendaraan bermotor mencari "minum" di SPBU. Kepalaku panas karena terjebak kemacetan ditengah panas terik musim kemarau setiap melewati SPBU yang sekarang makin rapat saja jaraknya disetiap lajur jalan. Tapi kegeramanku itu bukan kutujukan kepada rakyat yang sedang mengantri BBM itu, tapi kutujukan kepada pemerintah yang tidak becus ngurus rakyat. Baru saja rakyat dibikin cemas gara-gara Pemilu yang baru lalu, kemudian dininabobokan dengan perayaan kemerdekaan yang kosong melompong, setelah itu langsung dijadikan kambing hitam sebagai penyebab langkanya BBM:

  1. Rakyat dituduh telah menghabiskan kuota BBM sebelum waktunya.
  2. Rakyat dituduh menggunakan BBM bersubsidi yang bukan haknya.
  3. Rakyat dituduh melakukan "panic buying" karena pembatasan BBM bersubsidi.
  4. Rakyat dituduh sebagai konsumen yang "manja" oleh Pertamina. 

[more...]


Saturday, 02 Aug 2014
KEKAYAAN SEMU

KEKAYAAN SEMU

Pada musim Lebaran 2014 ini ada dua orang temanku yang keheranan dengan gaya hidup para pemudik (orang udik). Yang pertama, temanku yang rumahnya di desa. Tetangganya banyak yang pulang kampung membawa mobil. Tentunya mobil plat Jakarta. Ia bercerita, bahwa mobil-mobil itu ketika malam tiba berbunyi sendiri saling bersahutan. Ia merasa terganggu sekali. Usut punya usut ternyata para pemudik yang membawa mobil itu sengaja membunyikan alarm untuk menarik perhatian para tetangganya. Alarm yang berbunyi belasan detik itu tidak segera dimatikan. Jadilah para tetangga mau tidak mau menengok mobil siapa yang berbunyi itu. Aku tertawa mendengar ceritanya. Kubilang kepada temanku itu, itulah gaya hidup orang kota yang kampungan. Temanku ikut tertawa meskipun dalam hatinya ia masih jengkel, terganggu dengan musik alarm mobil yang sama sekali tidak merdu itu. [more...]


Thursday, 01 May 2014
KISAH PELANCONG

KISAH PELANCONG

Tahukah kalian, bangsa Indonesia makin besar, tetapi kualitas kebangsaan dan nasionalismenya makin mengecil? Aku sangat sedih melihat kenyataan ini. Kisah-kisah yang akan kuungkapkan berikut ini adalah sedikit bukti yang menunjukkan bahwa bangsa kita jauh dari berdikari.

KISAH MRT
Temanku pulang dari melancong Singapura. Dengan bangganya dia cerita bahwa naik MRT di Singapura itu enak sekali, tidak seperti di Indonesia. Aku dengarkan semua cerita itu secermat-cermatnya. Setelah ia bercerita berapi-api, aku bertanya sambil tersenyum, "Pernahkah kamu naik KRL atau KRD di Indonesia?"
Temanku terperanjat. Ia terdiam. Kepalanya menggeleng. Kemudian aku berkata, "Kalau begitu, kenapa kau bilang naik MRT lebih enak daripada naik kereta komuter di Indonesia?"
Temanku itu wajahnya seketika merah padam. Tapi mulutnya kemudian terdiam. Semoga terdiam selamanya. [more...]


Wednesday, 26 Feb 2014
PEMILIHAN LANGSUNG

PEMILIHAN LANGSUNG

Pada saat aku menulis artikel "Presiden Dipilih Langsung" tahun 1997 yang lalu di sebuah harian Yogyakarta, tidak pernah kubayangkan hasilnya akan seperti ini. Bukan pemilu seperti sekarang ini yang kubayangkan dulu. Mungkin yang terjadi saat ini adalah hasil dari konsep reformasi. Aku dari dulu tidak setuju reformasi. Bagiku lebih masuk akal revolusi. Indonesia adalah sebuah bangsa yang berbeda dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Tidak bisa mengadopsi konsep reformasi ala barat. Orang Indonesia harus dipaksa untuk berubah, meskipun pemaksaan itu dilakukan dengan damai. Indonesia membutuhkan perubahan cepat.


[more...]


Wednesday, 06 Nov 2013
CARA GAMPANG MENATA PASAR

CARA GAMPANG MENATA PASAR

 

Aku menulis artikel ini karena aku adalah pengunjung tetap pasar tradisional sejak aku lahir sampai usiaku hampir kepala empat sekarang. Nenekku adalah pedagang pasar tradisional, sejak balita aku sudah diajak menetap di pasar. Ketika aku duduk di bangku SD sampai SMA, aku selalu membantu ibuku belanja di pasar tradisional. Ibuku hanya seorang PNS yang gajinya pas-pasan (jaman Soeharto dulu), sehingga supaya gaji cukup untuk hidup sebulan, mau tidak mau harus belanja barang kebutuhan ke pasar tradisional. Setelah itu, sejak kuliah aku harus mandiri. Uang saku pas-pasan membuat aku harus berburu barang kebutuhan ke pasar. Sampai dengan saat ini, ketika aku sudah menjadi "pengusaha" pun aku masih rutin naik motor ke pasar tradisional untuk mendapatkan barang kebutuhan sehari-hari. Rumahku hanya berjarak 700 meter dari pasar tradisional.

[more...]


Monday, 17 Sep 2012
LEBARAN ATAU PEMBANTAIAN?

LEBARAN ATAU PEMBANTAIAN?

 

Jika Lebaran tiba, orang lain mungkin bergembira. Tapi sungguh aku berduka cita sedalam-dalamnya. Bukan Lebarannya yang membuatku berduka cita, tapi ekses negatifnya yang diciptakan manusia dengan sifat kemanusiaannya yang paling dasar : ego - serakah - konsumtif - bodoh. Setidaknya ada beberapa alasan kuat yang membuatku berduka cita seperti ini dan semoga kalian dapat memahami dengan logika yang paling sederhana.

[more...]


1

Tuesday, 09 Jul 2019

PEMILU 2020 & SETERUSNYA

Pemilu serentak 2019 telah usai dengan berbagai problematikanya, meskipun sebenarnya problematika ini sifatnya klise, selalu terjadi berulang sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, supaya kita tidak memelihara kebodohan abadi dan bangsa kita cepat maju dan berkembang, penyelenggaraan Pemilu 2020 dan seterusnya harus dibenahi. Apa saja yang penting untuk dibenahi? Mari kita lihat uraiannya berikut ini:

MENGGUNAKAN ALAT BANTU MESIN
Sekarang jaman teknologi. Sebagian besar pekerjaan manual sudah tergantikan oleh mesin. Mesin dibuat untuk meringankan pekerjaan manusia. Demikian pula seharusnya pemungutan suara ini. Pemungutan suara yang dilakukan dengan bantuan mesin akan lebih efektif dan efisien. Caranya mudah saja kok. Warga negara yang mau memilih tinggal datang ke TPS, kemudian kemudian melakukan scan sidik jari atau retinanya. Setelah itu pemilih tinggal memilih gambar kontestan pemilu yang dipilihnya melalui layar atau dengan cara menekan tombol nomor. Selesai. Singkat sekali dan tidak bisa diulang. Data langsung masuk ke penyelenggara pemilu tingkat pusat. Bayangan saya, mesin pemilu ini sesederhana mesin absensi sidik jari atau mesin ATM (ada layarnya). Bahkan saya berharap, suatu ketika nanti pemungutan suara dapat dilakukan melalui handphone, sehingga pemilih dapat leluasa menggunakan hak pilihnya tanpa harus libur dan mengorbankan produktifitasnya.
Apa manfaatnya cara seperti ini?
Pertama, petugas KPPS tidak kelelahan, karena pekerjaan manualnya terbantu mesin, sehingga dapat terhindar dari sakit atau kematian yang tidak perlu. Jumlah petugas juga dapat diminimalisir, sehingga sangat efisien dari sisi biaya dan mengurangi tingkat human error.
Kedua, proses pemilu lebih cepat selesai, sehingga tidak mengganggu stabilitas ekonomi dan politik. Tidak ada lagi sistem perhitungan bertingkat (berjenjang) yang berpotensi menimbulkan keresahan dan konflik.
Ketiga, mengurangi penggunaan kertas (go-green). Ramah lingkungan bukan?
Keempat, dalam jangka panjang sangat hemat biaya, karena mesin pemilu seperti ini dapat digunakan berkali-kali di pemilu berikutnya (bukan sekali pakai seperti kertas dan kardus).
Kelima, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mengalami kemajuan, dari bangsa tradisional yang masih melakukan pemilihan secara manual dan selalu terjebak pada masalah yang sama, menjadi bangsa maju yang mampu memanfaatkan teknologi dan mampu meminimalisir masalah klise yang muncul. Ini lompatan kemajuan yang luar biasa.
Bagi orang yang anti kemajuan, pasti akan menolak dengan alasan tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini. Mengapa cara berpikirnya tidak dibalik? Jika tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini, bagaimana caranya supaya semua daerah dapat menggunakan teknologi maju seperti ini? Apa yang harus dilakukan? Sejelek-jeleknya, jika masih ada yang manual, prosentasenya tidak lebih dari 25%.

Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Copyright 2009 - 2019 :: ekotama. All Rights Reserved.