.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Friday, 14 May 2021
Mau beli buku
Tedjo Moelyono
Saya berminat membeli buku-buku nya tapi hubungi nomer telpon tertera tidak bisa, saya bisa dihubungi di 081 230 12658
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 11
Total Pengunjung: 1365782

Hukum Ekotama


posting date : Sunday, 06 Nov 2011


HUKUM MENGAMALKAN ILMU


Ilmu hanya sekedar ilmu jika tidak diamalkan.
Ilmu dapat menjadi bencana jika pengamalannya disimpangkan untuk kepentingan tertentu.
Ilmu baru bermanfaat untuk banyak orang jika diamalkan atas nama Tuhan.


Ekotama, 8 Oktober 2011, pada buku KORUPSI DENGAN HATI : Mengantisipasi Kerugian Perusahaan & Instansi, hal 9.


posting date : Sunday, 06 Nov 2011


HUKUM KORUPSI KORPORASI

Korupsi korporasi terjadi karena nilai-nilai produktif dalam budaya perusahaan terkalahkan oleh nilai-nilai konsumtif dalam budaya korupsi.

Ekotama, 8 Oktober 2011, pada buku KORUPSI DENGAN HATI : Mengantisipasi Kerugian Perusahaan & Instansi, hal 20.



posting date : Sunday, 06 Nov 2011


HUKUM KETRAMPILAN INTUISI

Barangsiapa cerdas, ia akan melihat dengan mata hatinya, sehingga sesuatu yang tidak terlihat dengan mata telanjang atau bahkan belum terlihat sekalipun akan tampak jelas. Demikian yang dinamakan ketrampilan intuisi yang berguna untuk mengantisipasi terjadinya suatu masalah atau menangani masalahnya dengan tepat.

Ekotama, 30 Desember 2010, pada buku KORUPSI DENGAN HATI : Mengantisipasi Kerugian Perusahaan & Instansi, hal xxi.



posting date : Sunday, 06 Nov 2011


HUKUM KETERBATASAN KARYAWAN

Barangsiapa menjadi karyawan, maka berlaku baginya keterbatasan, karena karyawan bekerja dengan waktu yang terbatas dan pamrih yang terbatas pula. Barangsiapa menjadi pengusaha, maka berlaku baginya hamparan rezeki tanpa batas, karena pengusaha bekerja tanpa batas waktu dan curahan hati serta pikiran seutuhnya.

Ekotama, 30 Desember 2010, pada buku KORUPSI DENGAN HATI : Mengantisipasi Kerugian Perusahaan & Instansi, hal 22.



posting date : Sunday, 06 Nov 2011


HUKUM KEKEKALAN KORUPSI

Barangsiapa makan sendiri, maka yang lain tetap lapar dan berteriak-teriak. Barangsiapa membagi makanannya dengan yang lain, maka semuanya terdiam karena masing-masing mulutnya sibuk mengunyah makanan. Demikian ini disebut kekekalan korupsi. Barangsiapa cerdas, akan menghabisi semuanya supaya tidak terjadi kelaparan lagi dan mengganti dengan yang baru yang suka berpuasa demi surga.

Ekotama, 30 Desember 2010, pada buku KORUPSI DENGAN HATI : Mengantisipasi Kerugian Perusahaan & Instansi, hal 26.



posting date : Sunday, 06 Nov 2011


HUKUM PEMANFAATAN WAKTU

Tuhan Yang Maha Adil telah menganugerahkan waktu yang sama bagi tiap manusia. Barangsiapa membuang-buang waktu, maka hidupnya akan sia-sia. Barangsiapa memanfaatkan waktu, maka hidupnya akan dicatat dengan tinta emas dalam sejarah.

Ekotama, 19 Oktober 2010, pada buku KORUPSI DENGAN HATI : Mengantisipasi Kerugian Perusahaan & Instansi, hal 45.



posting date : Sunday, 06 Nov 2011


HUKUM INVESTASI WAKTU

Barangsiapa cerdas, ia akan menggunakan 1/3 waktunya dalam sehari untuk bekerja yang hasilnya dapat dipergunakan untuk membiayai kehidupannya sepanjang hayat, bahkan sampai ke anak cucunya.

Ekotama, 19 Oktober 2010, pada buku KORUPSI DENGAN HATI : Mengantisipasi Kerugian Perusahaan & Instansi, hal 46.



posting date : Sunday, 06 Nov 2011


HUKUM PEMANFAATAN GAJI KARYAWAN

Barangsiapa hemat, gaji sekecil apa pun akan cukup untuk membiayai kehidupan. Barangsiapa boros, gaji sebesar apa pun akan habis untuk membiayai kehidupan.

Ekotama, 10 Desember 2010, pada buku KORUPSI DENGAN HATI : Mengantisipasi Kerugian Perusahaan & Instansi, hal 101.



posting date : Sunday, 06 Nov 2011


HUKUM EVALUASI KERJA KARYAWAN

Barangsiapa bekerja, maka ia akan dinilai berdasarkan apa yang dicapainya, bukan alasan-alasan pencapaiannya.

Ekotama, 10 Desember 2010, pada buku KORUPSI DENGAN HATI : Mengantisipasi Kerugian Perusahaan & Instansi, hal 180.



posting date : Sunday, 06 Nov 2011


HUKUM MEMBERANTAS KORUPSI

Barangsiapa memberantas korupsi, maka langkah palling bijaksana adalah sikat habis pelakunya dan benahi sistemnya..!

Ekotama, 29 November 2010, pada buku KORUPSI DENGAN HATI : Mengantisipasi Kerugian Perusahaan & Instansi, hal 230.



page
PREV 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 NEXT

Tuesday, 09 Jul 2019

PEMILU 2020 & SETERUSNYA

Pemilu serentak 2019 telah usai dengan berbagai problematikanya, meskipun sebenarnya problematika ini sifatnya klise, selalu terjadi berulang sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, supaya kita tidak memelihara kebodohan abadi dan bangsa kita cepat maju dan berkembang, penyelenggaraan Pemilu 2020 dan seterusnya harus dibenahi. Apa saja yang penting untuk dibenahi? Mari kita lihat uraiannya berikut ini:

MENGGUNAKAN ALAT BANTU MESIN
Sekarang jaman teknologi. Sebagian besar pekerjaan manual sudah tergantikan oleh mesin. Mesin dibuat untuk meringankan pekerjaan manusia. Demikian pula seharusnya pemungutan suara ini. Pemungutan suara yang dilakukan dengan bantuan mesin akan lebih efektif dan efisien. Caranya mudah saja kok. Warga negara yang mau memilih tinggal datang ke TPS, kemudian kemudian melakukan scan sidik jari atau retinanya. Setelah itu pemilih tinggal memilih gambar kontestan pemilu yang dipilihnya melalui layar atau dengan cara menekan tombol nomor. Selesai. Singkat sekali dan tidak bisa diulang. Data langsung masuk ke penyelenggara pemilu tingkat pusat. Bayangan saya, mesin pemilu ini sesederhana mesin absensi sidik jari atau mesin ATM (ada layarnya). Bahkan saya berharap, suatu ketika nanti pemungutan suara dapat dilakukan melalui handphone, sehingga pemilih dapat leluasa menggunakan hak pilihnya tanpa harus libur dan mengorbankan produktifitasnya.
Apa manfaatnya cara seperti ini?
Pertama, petugas KPPS tidak kelelahan, karena pekerjaan manualnya terbantu mesin, sehingga dapat terhindar dari sakit atau kematian yang tidak perlu. Jumlah petugas juga dapat diminimalisir, sehingga sangat efisien dari sisi biaya dan mengurangi tingkat human error.
Kedua, proses pemilu lebih cepat selesai, sehingga tidak mengganggu stabilitas ekonomi dan politik. Tidak ada lagi sistem perhitungan bertingkat (berjenjang) yang berpotensi menimbulkan keresahan dan konflik.
Ketiga, mengurangi penggunaan kertas (go-green). Ramah lingkungan bukan?
Keempat, dalam jangka panjang sangat hemat biaya, karena mesin pemilu seperti ini dapat digunakan berkali-kali di pemilu berikutnya (bukan sekali pakai seperti kertas dan kardus).
Kelima, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mengalami kemajuan, dari bangsa tradisional yang masih melakukan pemilihan secara manual dan selalu terjebak pada masalah yang sama, menjadi bangsa maju yang mampu memanfaatkan teknologi dan mampu meminimalisir masalah klise yang muncul. Ini lompatan kemajuan yang luar biasa.
Bagi orang yang anti kemajuan, pasti akan menolak dengan alasan tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini. Mengapa cara berpikirnya tidak dibalik? Jika tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini, bagaimana caranya supaya semua daerah dapat menggunakan teknologi maju seperti ini? Apa yang harus dilakukan? Sejelek-jeleknya, jika masih ada yang manual, prosentasenya tidak lebih dari 25%.

Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Copyright 2009 - 2021 :: ekotama. All Rights Reserved.