.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Friday, 14 May 2021
Mau beli buku
Tedjo Moelyono
Saya berminat membeli buku-buku nya tapi hubungi nomer telpon tertera tidak bisa, saya bisa dihubungi di 081 230 12658
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 9
Total Pengunjung: 1365840

Hukum Ekotama


posting date : Thursday, 21 Jan 2010


HUKUM KEPUASAN


Barangsiapa merasa puas, maka ia akan kembali lagi.


(Ekotama, buku Seni Menjual Dengan Hati, co author Sri Wulandari, Media Pressindo, 2009, halaman 148)




posting date : Thursday, 21 Jan 2010


HUKUM KERAGU-RAGUAN

Tuhan mengaruniai keragu-raguan kepada setiap manusia untuk menciptakan persaingan yang sehat. Orang yang selalu ragu-ragu akan kalah bersaing dengan sendirinya. Orang yang tidak pernah ragu-ragu akan memantapkan langkahnya untuk menuju kemenangan.

(Ekotama, Agustus 2009)





posting date : Thursday, 21 Jan 2010


HUKUM KESEDERHANAAN

Kesederhanaan itu memudahkan pemahaman. Kedalaman makna membuatnya tertanam dalam hati siapa saja tentang kebenarannya dan akan menjiwai setiap tindakannya.

(Ekotama, Agustus 2009)



posting date : Thursday, 21 Jan 2010


HUKUM KESUKSESAN

Kesuksesan seseorang bermula ketika ia berhasil menjual dirinya sendiri untuk mendapatkan kepercayaan dari orang lain.

(Ekotama, Agustus 2009)





posting date : Thursday, 21 Jan 2010


HUKUM KETERAMPILAN

Ketrampilan itu ibarat sebatang baja yang ditempa dan diasah tiap hari tanpa henti. Makin lama batang baja itu ditempa, bentuknya akan makin menipis, dan makin lama diasah, ujungnya akan makin tajam.

(Ekotama, buku Seni Menjual Dengan Hati, co author Sri Wulandari, Media Pressindo, 2009, halaman 55)



posting date : Thursday, 21 Jan 2010


HUKUM KEUNTUNGAN

Barangsiapa menginginkan keuntungan datang kepadanya maka ia harus membuat orang lain merasa diuntungkan terlebih dahulu.

(Ekotama, buku Seni Menjual Dengan Hati, co author Sri Wulandari, Media Pressindo, 2009, halaman 149)





posting date : Thursday, 21 Jan 2010


HUKUM KEUNTUNGAN YANG BERTUMBUH

Keuntungan yang bertumbuh itu bagai pohon yang berbuah dan buahnya dapat dinikmati orang banyak. Pohon itu tidak pernah mati karena buahnya menghasilkan biji yang jika ditanam menghasilkan pohon dan buah sejenis. Bahkan makin banyak bijinya disemai, makin banyak pohon yang tumbuh dan makin banyak pula buah yang akan dinikmati orang banyak.

(Ekotama, Agustus 2009)



posting date : Wednesday, 20 Jan 2010


HUKUM BERPIKIR UNTUNG RUGI

Barangsiapa berpikir tentang kerugian, maka kerugian akan datang kepadanya. Barangsiapa berpikir tentang keuntungan, maka keuntungan akan datang kepadanya. Sebab apa yang dipikirkan akan mempengaruhi segala aksi organ tubuh kita dan mempengaruhi hasilnya.

(Ekotama, Agustus 2009)



posting date : Wednesday, 20 Jan 2010


HUKUM CITRA POSITIF

Tiada sesuatu yang tidak dapat dicitrakan positif kecuali kita tidak kreatif membangun citra positif itu.

(Ekotama, buku Cara Cerdas Membesarkan Usaha Dengan Media Massa, Cemerlang Publishing, 2009, halaman 41)



posting date : Wednesday, 20 Jan 2010


HUKUM DUIT

Tidak semua hal di dunia ini bisa dibeli dengan duit!
Bisnis salah satunya.
Bisnis adalah hasil dari suatu proses!

(Ekotama, buku Bisnis Modal Dengkul itu Omong Kosong, Media Pressindo, 2008, halaman 47)



page
PREV 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 NEXT

Tuesday, 09 Jul 2019

PEMILU 2020 & SETERUSNYA

Pemilu serentak 2019 telah usai dengan berbagai problematikanya, meskipun sebenarnya problematika ini sifatnya klise, selalu terjadi berulang sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, supaya kita tidak memelihara kebodohan abadi dan bangsa kita cepat maju dan berkembang, penyelenggaraan Pemilu 2020 dan seterusnya harus dibenahi. Apa saja yang penting untuk dibenahi? Mari kita lihat uraiannya berikut ini:

MENGGUNAKAN ALAT BANTU MESIN
Sekarang jaman teknologi. Sebagian besar pekerjaan manual sudah tergantikan oleh mesin. Mesin dibuat untuk meringankan pekerjaan manusia. Demikian pula seharusnya pemungutan suara ini. Pemungutan suara yang dilakukan dengan bantuan mesin akan lebih efektif dan efisien. Caranya mudah saja kok. Warga negara yang mau memilih tinggal datang ke TPS, kemudian kemudian melakukan scan sidik jari atau retinanya. Setelah itu pemilih tinggal memilih gambar kontestan pemilu yang dipilihnya melalui layar atau dengan cara menekan tombol nomor. Selesai. Singkat sekali dan tidak bisa diulang. Data langsung masuk ke penyelenggara pemilu tingkat pusat. Bayangan saya, mesin pemilu ini sesederhana mesin absensi sidik jari atau mesin ATM (ada layarnya). Bahkan saya berharap, suatu ketika nanti pemungutan suara dapat dilakukan melalui handphone, sehingga pemilih dapat leluasa menggunakan hak pilihnya tanpa harus libur dan mengorbankan produktifitasnya.
Apa manfaatnya cara seperti ini?
Pertama, petugas KPPS tidak kelelahan, karena pekerjaan manualnya terbantu mesin, sehingga dapat terhindar dari sakit atau kematian yang tidak perlu. Jumlah petugas juga dapat diminimalisir, sehingga sangat efisien dari sisi biaya dan mengurangi tingkat human error.
Kedua, proses pemilu lebih cepat selesai, sehingga tidak mengganggu stabilitas ekonomi dan politik. Tidak ada lagi sistem perhitungan bertingkat (berjenjang) yang berpotensi menimbulkan keresahan dan konflik.
Ketiga, mengurangi penggunaan kertas (go-green). Ramah lingkungan bukan?
Keempat, dalam jangka panjang sangat hemat biaya, karena mesin pemilu seperti ini dapat digunakan berkali-kali di pemilu berikutnya (bukan sekali pakai seperti kertas dan kardus).
Kelima, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mengalami kemajuan, dari bangsa tradisional yang masih melakukan pemilihan secara manual dan selalu terjebak pada masalah yang sama, menjadi bangsa maju yang mampu memanfaatkan teknologi dan mampu meminimalisir masalah klise yang muncul. Ini lompatan kemajuan yang luar biasa.
Bagi orang yang anti kemajuan, pasti akan menolak dengan alasan tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini. Mengapa cara berpikirnya tidak dibalik? Jika tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini, bagaimana caranya supaya semua daerah dapat menggunakan teknologi maju seperti ini? Apa yang harus dilakukan? Sejelek-jeleknya, jika masih ada yang manual, prosentasenya tidak lebih dari 25%.

Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Copyright 2009 - 2021 :: ekotama. All Rights Reserved.