.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Friday, 14 May 2021
Mau beli buku
Tedjo Moelyono
Saya berminat membeli buku-buku nya tapi hubungi nomer telpon tertera tidak bisa, saya bisa dihubungi di 081 230 12658
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 16
Total Pengunjung: 1365803

Hukum Ekotama


posting date : Friday, 22 Jan 2010


HUKUM MEMBUAT PERJANJIAN

Buatlah perjanjian dengan pihak yang mampu menjanjikan keuntungan yang dapat dibuktikan, bukan dengan pihak yang menyengsarakan Anda jika Anda mengalami kerugian!

(Ekotama, Jurus Jitu Memilih Bisnis Franchise, 10 Oktober 2009)



posting date : Friday, 22 Jan 2010


HUKUM MENGELOLA PIKIRAN & PERASAAN

Barangsiapa menggunakan kekuatan pikiran & perasaan untuk mengelola potensi yang ada di disekitarnya, maka dunia akan mendukungnya.

(Ekotama, Agustus 2009)



posting date : Friday, 22 Jan 2010


HUKUM MENIKMATI REJEKI

Tuhan mengaruniai kita rejeki, bukan untuk semuanya kita nikmati sendiri. Namun supaya kita sadar bahwa rejeki kita itu bermanfaat untuk orang banyak, sehingga nilainya lebih berharga daripada isi perut kita.

(Ekotama, Agustus 2009)



posting date : Friday, 22 Jan 2010


HUKUM MENJADI ORANG TUA

Barangsiapa berani menjadi orang tua, maka ia wajib membuat anak-anaknya berguna bagi dunia. Jika terjadi sebaliknya, maka sudah pastilah siapa penghuni neraka.

(Ekotama, 19 September 2009)



posting date : Friday, 22 Jan 2010


HUKUM ORGANISASI BISNIS

Barangsiapa mulai berbisnis, wajib baginya membentuk organisasi bisnis yang dapat mendorong pertumbuhan dan perkembangan bisnisnya tanpa batas, bukan organisasi bisnis yang hanya sekedar berharap mendapatkan upah tiap bulan dan menjadi benalu yang merugikan.

(Ekotama, 17 September 2009)





posting date : Friday, 22 Jan 2010


HUKUM PANCAINDERA & INTUISI

Barangsiapa memiliki pancaindera & intuisi, maka tugas utamanya untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa adalah mengasah ketajaman pancaindera & intuisi itu setiap saat sehingga senantiasa dapat dipergunakan untuk mendatangkan rejeki bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain.

(Ekotama, Agustus 2009)



posting date : Friday, 22 Jan 2010


HUKUM PANGLIMA YANG CERDAS

Panglima yang cerdas akan memenggal kepala musuhnya dan memimpin anak buah musuhnya untuk mengubah wajah dunia. Barangsiapa bercita-cita menjadi panglima tolol maka ia akan menimbulkan kerusakan dimana-mana tanpa pernah sekalipun mengibarkan bendera di puncak jaya.

(Ekotama, 22 September 2009)



posting date : Friday, 22 Jan 2010


HUKUM PELUANG BISNIS (1)

Peluang bisnis ada pada tiap detik waktu hidup kita. Membiarkan waktu berlalu tanpa menghasilkan apa-apa berarti telah membiarkan peluang pergi begitu saja. Membiarkan peluang pergi begitu saja sama saja dengan menutup pintu rejeki masa depan kita.

(Ekotama, buku Bisnis Modal Dengkul itu Omong Kosong, Media Pressindo, 2008, halaman 104)





posting date : Friday, 22 Jan 2010


HUKUM PELUANG BISNIS (2)

Barangsiapa menemukan kebutuhan, maka ia telah menemukan peluang bisnis. Barangsiapa mampu memenuhi kebutuhan itu, maka ia telah mengubah peluang bisnis menjadi bisnis dalam arti sebenarnya yang mendatangkan keuntungan baginya sebagaimana harapannya.

(Ekotama, 19 September 2009)



posting date : Friday, 22 Jan 2010


HUKUM PENCURI & PEMINTA-MINTA

Pencuri mengambil barang yang bukan haknya, maka ia kehilangan haknya sebagai warga negara yang merdeka. Sedangkan peminta-minta mendapatkan barang yang diinginkannya dengan mengorbankan harga dirinya, namun ia tetap menjadi warga negara yang merdeka. Peminta-minta lebih terhormat daripada pencuri.

(Ekotama, 7 Desember 2009)





page
PREV 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 NEXT

Tuesday, 09 Jul 2019

PEMILU 2020 & SETERUSNYA

Pemilu serentak 2019 telah usai dengan berbagai problematikanya, meskipun sebenarnya problematika ini sifatnya klise, selalu terjadi berulang sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, supaya kita tidak memelihara kebodohan abadi dan bangsa kita cepat maju dan berkembang, penyelenggaraan Pemilu 2020 dan seterusnya harus dibenahi. Apa saja yang penting untuk dibenahi? Mari kita lihat uraiannya berikut ini:

MENGGUNAKAN ALAT BANTU MESIN
Sekarang jaman teknologi. Sebagian besar pekerjaan manual sudah tergantikan oleh mesin. Mesin dibuat untuk meringankan pekerjaan manusia. Demikian pula seharusnya pemungutan suara ini. Pemungutan suara yang dilakukan dengan bantuan mesin akan lebih efektif dan efisien. Caranya mudah saja kok. Warga negara yang mau memilih tinggal datang ke TPS, kemudian kemudian melakukan scan sidik jari atau retinanya. Setelah itu pemilih tinggal memilih gambar kontestan pemilu yang dipilihnya melalui layar atau dengan cara menekan tombol nomor. Selesai. Singkat sekali dan tidak bisa diulang. Data langsung masuk ke penyelenggara pemilu tingkat pusat. Bayangan saya, mesin pemilu ini sesederhana mesin absensi sidik jari atau mesin ATM (ada layarnya). Bahkan saya berharap, suatu ketika nanti pemungutan suara dapat dilakukan melalui handphone, sehingga pemilih dapat leluasa menggunakan hak pilihnya tanpa harus libur dan mengorbankan produktifitasnya.
Apa manfaatnya cara seperti ini?
Pertama, petugas KPPS tidak kelelahan, karena pekerjaan manualnya terbantu mesin, sehingga dapat terhindar dari sakit atau kematian yang tidak perlu. Jumlah petugas juga dapat diminimalisir, sehingga sangat efisien dari sisi biaya dan mengurangi tingkat human error.
Kedua, proses pemilu lebih cepat selesai, sehingga tidak mengganggu stabilitas ekonomi dan politik. Tidak ada lagi sistem perhitungan bertingkat (berjenjang) yang berpotensi menimbulkan keresahan dan konflik.
Ketiga, mengurangi penggunaan kertas (go-green). Ramah lingkungan bukan?
Keempat, dalam jangka panjang sangat hemat biaya, karena mesin pemilu seperti ini dapat digunakan berkali-kali di pemilu berikutnya (bukan sekali pakai seperti kertas dan kardus).
Kelima, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mengalami kemajuan, dari bangsa tradisional yang masih melakukan pemilihan secara manual dan selalu terjebak pada masalah yang sama, menjadi bangsa maju yang mampu memanfaatkan teknologi dan mampu meminimalisir masalah klise yang muncul. Ini lompatan kemajuan yang luar biasa.
Bagi orang yang anti kemajuan, pasti akan menolak dengan alasan tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini. Mengapa cara berpikirnya tidak dibalik? Jika tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini, bagaimana caranya supaya semua daerah dapat menggunakan teknologi maju seperti ini? Apa yang harus dilakukan? Sejelek-jeleknya, jika masih ada yang manual, prosentasenya tidak lebih dari 25%.

Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Copyright 2009 - 2021 :: ekotama. All Rights Reserved.