.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Thursday, 02 May 2019
Permohonan Sharing Knowledge
Muhammad Alfis Budi Sanjaya
Selamat Sore Apakah memungkinkan, kami mengundang Bapak untuk melakukan Sharing Knowledge di Perusahaan? Terima kasih Best Regards Muhammad Alfis
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 2
Total Pengunjung: 1065551

Kata Mutiara Ekotama


posting date : Thursday, 28 Aug 2014

Ada barang murah kok disuruh beli yang lebih mahal...?!? Ketahanan ekonomi rakyat dilemahkan secara terstruktur, sistematis dan massif...! Sekolah jadi antek penjajah dimana engkau, Bung...?!?


(Ekotama, 26 Agustus 2014)


posting date : Thursday, 28 Aug 2014

Pemimpin yang baik itu tidak akan membiarkan rakyatnya antri bayar pajak, antri beli barang dan antri sedekah.



(Ekotama, 27 Agustus 2014)


posting date : Thursday, 28 Aug 2014

Antri BBM…?!? Ironi sebuah bangsa yang hidup diatas lautan minyak dan baru saja berpesta pora makan kerupuk merayakan kemerdekaannya.


(Ekotama, 25 Agustus 2014)


posting date : Thursday, 28 Aug 2014

Merdeka...?!? Ganyang perusahaan-perusahaan tambang asing di Indonesia...! Kita bergembira ria lomba makan kerupuk dan menghabiskan waktu baris berbaris ditengah lapangan kepanasan, mereka merampok habis-habisan kekayaan bangsa kita yang disembunyikan Tuhan dibawah tanah untuk anak cucu kita..! Ganyang aparat dan birokrat antek-antek asing...! Kita cukup cerdas untuk menambang menggunakan cangkul dan linggis. Bukankah kita sudah sekolah 69 tahun lamanya...?!?


(Ekotama, 17 Agustus 2014)


posting date : Saturday, 02 Aug 2014

Meniru itu mudah, tetapi menjadi berkualitas itu sulit

 

(Ekotama, 4 Juni 2014)


posting date : Saturday, 02 Aug 2014

Lebih baik ditolak diawal tetapi diterima kemudian, daripada diterima duluan setelah itu ditolak sepanjang jalan

 

(Ekotama, 26 Juli 2014)


posting date : Sunday, 11 May 2014

Bahkan gunung meletus, gempa bumi dan angin ribut pun adalah peluang bisnis.


Ekotama, 3 Mei 2014



posting date : Sunday, 11 May 2014

Awal bulan itu bukan untuk merencanakan. Tetapi beraksi sekuat hati untuk mencapai prestasi tertinggi.


Ekotama, 2 Mei 2014


posting date : Sunday, 11 May 2014

Tidak usahlah engkau bermimpi mendapatkan uang 1 milyar dengan trik-trik canggih diluar pakem. Sebab uang 1 milyar itu hanyalah tumpukan Rp.100.000,- sebanyak 10.000 lembar. Jikalau engkau hari ini telah bekerja dan menghasilkan Rp.100.000,-, tingkatkan usahamu 10.000 kali lipat, maka akan kaudapatkan uang 1 milyar secara halal. Demikian ini disebut usaha yang realistis nan rasional.

Ekotama, 8 Mei 2014


posting date : Sunday, 11 May 2014

Ketika engkau diberi sedikit, syukurilah. Karena yang sedikit itu lama-lama menjadi bukit. Bukit tidak pernah lebih tinggi daripada gunung. Jadi, jika suatu ketika kita diberi anugerah berupa bukit rejeki, kita dijauhkan dari sifat sombong dan tetap bermanfaat untuk sesama.


Ekotama, 8 Mei 2014

 


page
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 NEXT

Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Friday, 15 Mar 2019

KEPRIBADIAN KONTESTAN PEMILU

Pemilu akan dilaksanakan sebulan lagi. Apakah Anda sudah memiliki pilihan? Siapa yang Anda pilih? Apa pertimbangannya? Apakah hanya semata karena kesamaan golongan dan kesamaan kepentingan? Ataukah ada pertimbangan lain yang lebih beradab?

Sebenarnya ada satu hal yang seharusnya menjadi pertimbangan utama kita untuk memilih kontestan pemilu, yakni kepribadiannya. Kepribadian sangat penting artinya karena menjadi dasar berpikir dan bertindak bagi seseorang. Jika kita memberikan kekuasaan kepada orang yang berkepribadian buruk, maka nasib bangsa ini bisa buruk. Sebaliknya, jika kita memberikan kekuasaan kepada orang yang berkepribadian baik, nasib bangsa ini bisa lebih baik.
Darimana kita menilai kepribadian kontestan pemilu? Caranya sangat mudah, yakni dengan melihat apa yang mereka lakukan selama menjadi kontestan pemilu. Kepribadian mereka tercermin dari pikiran dan tindakannya. Pikiran negatif dan tindakan yang tidak bermanfaat bagi masyarakat cerminan dari kepribadian yang buruk. Pikiran positif dan tindakan yang bermanfaat bagi masyarakat mencerminkan kepribadian yang baik.

Dalam menentukan baik buruknya kepribadian kontestan pemilu, indikator umum yang kita gunakan sebagai pedoman adalah:
1. Tidak melanggar peraturan (hukum positif Indonesia)
2. Tidak mengganggu kepentingan umum
3. Mengutamakan kepentingan negara diatas kepentingan pribadi dan golongan
4. Sopan dan beretika

Copyright 2009 - 2019 :: ekotama. All Rights Reserved.