.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Thursday, 02 May 2019
Permohonan Sharing Knowledge
Muhammad Alfis Budi Sanjaya
Selamat Sore Apakah memungkinkan, kami mengundang Bapak untuk melakukan Sharing Knowledge di Perusahaan? Terima kasih Best Regards Muhammad Alfis
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 2
Total Pengunjung: 1115354

PENGANTAR

 

SURYONO EKOTAMA dilahirkan dengan darah seni. Ayahnya adalah seseorang yang mampu memainkan gamelan Jawa dengan baik. Ayahnya juga seorang pengarang lagu-lagu Jawa. Hasil karya ayahnya sering dipentaskan di instansi tempat ayahnya bekerja sebelum pensiun. Bahkan setelah pensiun, ayahnya masih menerima kursus privat bagi grup-grup kesenian Jawa yang akan berlomba.

Sebagai seseorang yang dilahirkan pada bulan Maret, bakat seninya ini sudah tampak semenjak ia muda. Semasa duduk di bangku SMP dulu hingga saat ini ia masih suka menulis puisi dan cerita-cerita panjang seperti novel remaja meski tidak pernah diterbitkan. Ketika duduk dibangku SMA, ia bahkan menjadi drummer sebuah grup band sambil tetap menekuni dunia tulis menulisnya. Dan saat ini ia malah hidup dengan hobbynya menulis. Tulisan-tulisannya saat ini bertema hukum atau bisnis sesuai dengan spesialisasinya.

Didalam urat nadiku mengalir alunan musik nan lembut yang terkadang menghentak-hentak seakan-akan meruntuhkan jantungku dalam sekejap. Aliran jiwa itu membuat mataku melihat dunia dengan penuh keindahan, membuat telingaku selalu mendengar senandung rindu kehidupan, membuat tanganku mencipta harapan dan realita, dan menuntun kakiku melangkah menuju peraduan.

(Ekotama, Agustus 2009)

Panduan berbagai macam kemampuannya dalam bidang bisnis, hukum, tulis menulis dan kemampuannya menjadi pembicara ini justru melahirkan suatu hasil karya yang unik. Karya-karyanya dipuji banyak orang sebagai karya yang orisinil, baik dalam hal pemikiran maupun cara penyampaiannya. Ia mendapatkan pangsa pasarnya tersendiri. Hal ini sudah terbukti dari ribuan orang yang telah memiliki dan membaca buku-bukunya serta mengikuti dan mendengar ceramahnya.

Karya seni yang menjadi masterpiece dan tidak ternilai harganya itu karena dibuat dari curahan hati yang paling dalam dan dikemas dengan ketrampilan menyampaikan pesan yang tidak pernah dilakukan orang lain sebelumnya. (Ekotama, Agustus 2009).

(Ekotama, Agustus 2009)

SURYONO EKOTAMA seringkali menyampaikan pesan secara tersirat dalam sebuah kalimat yang berbau puitis. Ia memiliki alasan-alasan tersendiri mengapa harus menyampaikan suatu pesan tidak sevulgar sarjana hukum lainnya. Menurutnya, setiap orang memiliki kebutuhan dan hak untuk dihormati. Menyampaikan maksud secara halus justru dapat mengena di hati dibandingkan dengan menyampaikan apa adanya.

Yang terpenting dari sebuah pesan adalah orang yang menerima pesan itu harus mampu memahami pesan itu sebagaimana maksud pemberi pesannya, meskipun kita harus menyampaikannya sesuai dengan kehendak hati si penerima pesan (Ekotama, Agustus 2009).

(Ekotama, Agustus 2009)

Mungkin kemampuannya inilah yang menyebabkan ia mampu menjadi seorang motivator dan mampu menguasai panggung ketika berbicara didepan forum. Bahkan audiensnya sampai dengan saat ini tercatat 90% adalah orang-orang yang lebih pantas disebut sebagai orang tuanya karena usia mereka yang jauh lebih tua dan lebih berpengalaman dibanding dirinya. Tentu tidak mudah membuat audiens terpana dengan perbandingan usia seperti itu mengingat materi-materi yang disampaikannya adalah materi-materi dasar tentang kehidupan dan kemandirian.


Ia berhasil mengemas apa yang ingin disampaikannya dengan kemasan yang menarik. Kemasan inilah yang membuat banyak orang yang lebih tua membeli produknya yang dapat dikatakan masih sangat muda. Ia berhasil membuktikan kepada kita bahwa menyampaikan sebuah pesan itu membutuhkan seni kemasan. Kemasan ini mungkin tidak dapat kita adopsi dari orang lain, melainkan harus lahir dari kemampuan daya cipta kita supaya memiliki ciri khas yang menjual.


Akhirnya, Anda mendapatkan kehormatan pertama untuk dapat membaca dan memahami pesan-pesan kehidupan dan kemandirian yang ingin disampaikan oleh Suryono Ekotama melalui website ini. Kalimat-kalimat yang disusunnya bernada puitis, namun menyimpan makna yang dalam. Tentu saja pesan-pesan ini bukanlah untuk menyindir atau menjatuhkan seseorang. Namun merupakan sebuah ungkapan yang dapat masuk kedalam kalbu kita untuk mengetahui sebuah kebenaran tentang kehidupan dan kemandirian.

 

 

 

 

Tuesday, 09 Jul 2019

PEMILU 2020 & SETERUSNYA

Pemilu serentak 2019 telah usai dengan berbagai problematikanya, meskipun sebenarnya problematika ini sifatnya klise, selalu terjadi berulang sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, supaya kita tidak memelihara kebodohan abadi dan bangsa kita cepat maju dan berkembang, penyelenggaraan Pemilu 2020 dan seterusnya harus dibenahi. Apa saja yang penting untuk dibenahi? Mari kita lihat uraiannya berikut ini:

MENGGUNAKAN ALAT BANTU MESIN
Sekarang jaman teknologi. Sebagian besar pekerjaan manual sudah tergantikan oleh mesin. Mesin dibuat untuk meringankan pekerjaan manusia. Demikian pula seharusnya pemungutan suara ini. Pemungutan suara yang dilakukan dengan bantuan mesin akan lebih efektif dan efisien. Caranya mudah saja kok. Warga negara yang mau memilih tinggal datang ke TPS, kemudian kemudian melakukan scan sidik jari atau retinanya. Setelah itu pemilih tinggal memilih gambar kontestan pemilu yang dipilihnya melalui layar atau dengan cara menekan tombol nomor. Selesai. Singkat sekali dan tidak bisa diulang. Data langsung masuk ke penyelenggara pemilu tingkat pusat. Bayangan saya, mesin pemilu ini sesederhana mesin absensi sidik jari atau mesin ATM (ada layarnya). Bahkan saya berharap, suatu ketika nanti pemungutan suara dapat dilakukan melalui handphone, sehingga pemilih dapat leluasa menggunakan hak pilihnya tanpa harus libur dan mengorbankan produktifitasnya.
Apa manfaatnya cara seperti ini?
Pertama, petugas KPPS tidak kelelahan, karena pekerjaan manualnya terbantu mesin, sehingga dapat terhindar dari sakit atau kematian yang tidak perlu. Jumlah petugas juga dapat diminimalisir, sehingga sangat efisien dari sisi biaya dan mengurangi tingkat human error.
Kedua, proses pemilu lebih cepat selesai, sehingga tidak mengganggu stabilitas ekonomi dan politik. Tidak ada lagi sistem perhitungan bertingkat (berjenjang) yang berpotensi menimbulkan keresahan dan konflik.
Ketiga, mengurangi penggunaan kertas (go-green). Ramah lingkungan bukan?
Keempat, dalam jangka panjang sangat hemat biaya, karena mesin pemilu seperti ini dapat digunakan berkali-kali di pemilu berikutnya (bukan sekali pakai seperti kertas dan kardus).
Kelima, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mengalami kemajuan, dari bangsa tradisional yang masih melakukan pemilihan secara manual dan selalu terjebak pada masalah yang sama, menjadi bangsa maju yang mampu memanfaatkan teknologi dan mampu meminimalisir masalah klise yang muncul. Ini lompatan kemajuan yang luar biasa.
Bagi orang yang anti kemajuan, pasti akan menolak dengan alasan tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini. Mengapa cara berpikirnya tidak dibalik? Jika tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini, bagaimana caranya supaya semua daerah dapat menggunakan teknologi maju seperti ini? Apa yang harus dilakukan? Sejelek-jeleknya, jika masih ada yang manual, prosentasenya tidak lebih dari 25%.

Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Copyright 2009 - 2019 :: ekotama. All Rights Reserved.