.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Thursday, 02 May 2019
Permohonan Sharing Knowledge
Muhammad Alfis Budi Sanjaya
Selamat Sore Apakah memungkinkan, kami mengundang Bapak untuk melakukan Sharing Knowledge di Perusahaan? Terima kasih Best Regards Muhammad Alfis
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 4
Total Pengunjung: 1109501

3. MEMBUAT HAKI (HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL)

Indonesia adalah gudangnya orang pandai. Di negeri ini tersebar jutaan sarjana yang dikategorikan sebagai kaum intelektual. Ironisnya, mayoritas kaum intelektual di Indonesia tidak memiliki Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) yang dapat menjadi tumpuan hidupnya di hari tua kelak. Bahkan banyak kaum intelektual yang terus mengorbankan harga dirinya "hanya" untuk menjadi buruh bagi orang lain dan membuatkan kekayaan intelektual bagi orang lain.

Sebagai seorang sarjana hukum, Suryono Ekotama memahami betul hal ini. Meskipun dosennya tidak pernah mengajarkan supaya ia membuat HAKI, namun ia sadar bahwa tugasnya sebagai seorang sarjana adalah membuat HAKI dan mengaplikasikan HAKI itu supaya bermanfaat bagi masyarakat luas.

".....Aku sudah berpikir dan bertindak untuk memajukan bangsa ini. Sudah sepantasnya aku mendapatkan hak atas hasil pemikiranku dan kerja kerasku ini, sehingga bisa kuwariskan kepada ahli warisku, supaya mereka bisa meneladani apa yang kulakukan untuk bangsaku...."

Cara yang ditempuhnya kemudian sangatlah cerdas. Ia menggunakan bakat dan hobbynya untuk membuat HAKI itu. Ia membuat buku-buku yang ditulisnya secara bertahap setiap malam antara pukul 21.00 sampai dengan dinihari pukul 04.00. Pada jam-jam orang tertidur itulah ia menemukan waktu terbaiknya untuk berkarya. Tema yang dipilihnya pun telah diselaraskan sedemikian rupa untuk mewujudkan visi-nya (menjadi masyarakat Indonesia sebagai majikan terdidik), yakni tema "how to". Spesialisasi yang diambilnya adalah manajemen bisnis praktis.

Selama setahun terakhir ini (dari 2008 - 2009), buku-bukunya menghiasi rak-rak buku di toko-toko buku diseluruh Indonesia. Orang mudah mengenalinya karena tiap bukunya memiliki ciri khas di sampulnya. Gaya penulisannya sangat sederhana, sehingga memudahkan orang memahaminya. Kini, buku-bukunya telah dibaca oleh ribuan orang di seluruh Indonesia. Tidak sedikit diantaranya yang berhasil membuat bisnis sendiri dan membuat diri mereka sebagai majikan yang memberikan rejeki kepada karyawannya.

"Menjadi majikan terdidik itu adalah pekerjaan paling mulia bagi bangsa kita. Sebab kita bisa memberikan sumber penghidupan bagi orang-orang lain di dunia. Kupikir, siapapun yang membaca tulisan ini akan menjadi majikan dalam arti yang sebenarnya..."

Melahirkan HAKI sama saja dengan memberikan warisan kepada ahli waris yang tidak ternilai harganya. Mewariskan HAKI tidak sama dengan mewariskan harta. Jika kita mewariskan harta, maka harta itu dapat habis dalam sekejap di dunia yang penuh gemerlap ini. Sedangkan jika kita mewariskan HAKI, justru HAKI itulah yang akan menjadi sumber penghidupan bagi ahli waris kita. Prinsip ini telah dipelajari Suryono Ekotama sejak ia masih kuliah ditingkat sarjana. Namun ia baru memahami makna sebenarnya jauh setelah ia menamatkan pendidikan pascasarjananya.

"Kadangkala aku menemukan mutiara jauh setelah aku memimpikannya.
Belakangan aku tahu, itulah ujian Tuhan untuk hidupku.
Aku harus berusaha sekuat tenaga untuk mencapai semua cita-citaku.
Tidak ada yang gratis di dunia ini, kecuali udara yang kuhirup bebas saat ini...."


Itulah sekilas cerita bagaimana Suryono Ekotama berkarya. Cerita ini dibuat untuk menunjukkan bahwa Indonesia penuh dengan mutiara-mutiara terpendam seperti layaknya gas alam, minyak bumi, batubara, emas, timah dan bahan-bahan tambang lainnya. Indonesia kaya raya, itulah sebabnya mengapa Indonesia termashyur di dunia. Namun banyak dari kita yang baru mengenal bahwa Indonesia hanyalah hamparan hutan luas yang harus dibumihanguskan untuk bercocok tanam. Sadarkah bahwa di perut bumi pertiwi ini tersimpan harta terpendam yang dapat menghidupi orang diseluruh dunia?


---- JADILAH MAJIKAN TERDIDIK...!!! ----

 

Page >> 1 | 2 |


<< Back To Home

 

Tuesday, 09 Jul 2019

PEMILU 2020 & SETERUSNYA

Pemilu serentak 2019 telah usai dengan berbagai problematikanya, meskipun sebenarnya problematika ini sifatnya klise, selalu terjadi berulang sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, supaya kita tidak memelihara kebodohan abadi dan bangsa kita cepat maju dan berkembang, penyelenggaraan Pemilu 2020 dan seterusnya harus dibenahi. Apa saja yang penting untuk dibenahi? Mari kita lihat uraiannya berikut ini:

MENGGUNAKAN ALAT BANTU MESIN
Sekarang jaman teknologi. Sebagian besar pekerjaan manual sudah tergantikan oleh mesin. Mesin dibuat untuk meringankan pekerjaan manusia. Demikian pula seharusnya pemungutan suara ini. Pemungutan suara yang dilakukan dengan bantuan mesin akan lebih efektif dan efisien. Caranya mudah saja kok. Warga negara yang mau memilih tinggal datang ke TPS, kemudian kemudian melakukan scan sidik jari atau retinanya. Setelah itu pemilih tinggal memilih gambar kontestan pemilu yang dipilihnya melalui layar atau dengan cara menekan tombol nomor. Selesai. Singkat sekali dan tidak bisa diulang. Data langsung masuk ke penyelenggara pemilu tingkat pusat. Bayangan saya, mesin pemilu ini sesederhana mesin absensi sidik jari atau mesin ATM (ada layarnya). Bahkan saya berharap, suatu ketika nanti pemungutan suara dapat dilakukan melalui handphone, sehingga pemilih dapat leluasa menggunakan hak pilihnya tanpa harus libur dan mengorbankan produktifitasnya.
Apa manfaatnya cara seperti ini?
Pertama, petugas KPPS tidak kelelahan, karena pekerjaan manualnya terbantu mesin, sehingga dapat terhindar dari sakit atau kematian yang tidak perlu. Jumlah petugas juga dapat diminimalisir, sehingga sangat efisien dari sisi biaya dan mengurangi tingkat human error.
Kedua, proses pemilu lebih cepat selesai, sehingga tidak mengganggu stabilitas ekonomi dan politik. Tidak ada lagi sistem perhitungan bertingkat (berjenjang) yang berpotensi menimbulkan keresahan dan konflik.
Ketiga, mengurangi penggunaan kertas (go-green). Ramah lingkungan bukan?
Keempat, dalam jangka panjang sangat hemat biaya, karena mesin pemilu seperti ini dapat digunakan berkali-kali di pemilu berikutnya (bukan sekali pakai seperti kertas dan kardus).
Kelima, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mengalami kemajuan, dari bangsa tradisional yang masih melakukan pemilihan secara manual dan selalu terjebak pada masalah yang sama, menjadi bangsa maju yang mampu memanfaatkan teknologi dan mampu meminimalisir masalah klise yang muncul. Ini lompatan kemajuan yang luar biasa.
Bagi orang yang anti kemajuan, pasti akan menolak dengan alasan tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini. Mengapa cara berpikirnya tidak dibalik? Jika tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini, bagaimana caranya supaya semua daerah dapat menggunakan teknologi maju seperti ini? Apa yang harus dilakukan? Sejelek-jeleknya, jika masih ada yang manual, prosentasenya tidak lebih dari 25%.

Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Copyright 2009 - 2019 :: ekotama. All Rights Reserved.