.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Friday, 14 May 2021
Mau beli buku
Tedjo Moelyono
Saya berminat membeli buku-buku nya tapi hubungi nomer telpon tertera tidak bisa, saya bisa dihubungi di 081 230 12658
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 7
Total Pengunjung: 1386924

Tuesday, 19 Jan 2010
RUMAHKU BANYAK TIKUSNYA...!

RUMAHKU BANYAK TIKUSNYA...!


Rumahku banyak tikusnya....!!! Bahkan yang lebih menyedihkan, sawah-sawah petani itu juga banyak tikusnya...! Tikus-tikus itu merusak harta bendaku tanpa ijin, bahkan dengan teganya memakan padi yang dengan susah payah ditanam petani itu. Betapa rakusnya hewan yang satu ini. Kucingku pernah lari terbirit-birit ketika mendapati tikus sebesar tubuhnya yang muncul dari got kotor di depan pasar. Yang bikin aku bingung ini, apa fungsi hewan ini di dunia? Apa memang diciptakan untuk merugikan manusia? Mengapa hewan ini ada di setiap sudut dunia ini? Bahkan di laboratorium-laboratorium canggih dengan pengamanan maksimum yang tidak semua orang bisa masuk saja ada tikusnya...!!!

Untunglah rumahku sekarang sering disanggong kucing-kucing tetangga. Tikus-tikus keparat itu tidak berani muncul, meski kadang-kadang kalau kucing-kucing itu pergi, tikus itu berusaha tebar pesona dengan jalan-jalan diatap rumah. Aku masih beruntung. Aku tinggal di desa wisata fauna. Terkadang pada malam-malam tertentu, burung hantu singgah sebentar untuk membinasakan tikus-tikus menjijikkan itu. Kalau kucing lagi tidur, burung hantu kekenyangan, masih ada ular yang terkadang menyambangi rumahku. Lumayan untuk mengurangi populasi tikus yang suka bercinta dan mudah beranak pinak itu.

Bagaimana kalau kucing, burung hantu dan ular tidak ada? Tetanggaku yang petani suka rame-rame bikin gropyokan tikus. Tikus-tikus itu diburu, digebug, diinjak, ditusuk, dan ujung-ujungnya dibakar. Setiap gropyokan, puluhan hingga ratusan tikus bisa dibunuh. Anehnya, populasinya tidak mereda. Bagaimana cara mereka berkembang biak?

Sedangkan langkah paling sopan yang kulakukan adalah meramu racun tikus dengan makanan yang lezat dan kutaruh di sudut-sudut rumah. Tiga hari kemudian, kujamin di halaman rumah banyak tikus-tikus berbagai usia yang meninggal dunia kekenyangan makan racun. Dua bulan berikutnya, rumahku aman. Memasuki bulan ketiga, muncul tikus-tikus lagi. Apakah tikus bisa reinkarnasi?

Jikalau sudah mulai jengkel karena arsip-arsip di lemari bukuku diobrak-abrik tikus, maka kugunakan cara ekstrem bikin kapok tikus-tikus itu. Caranya, kubeli sangkar penangkap tikus terbuat dari besi yang banyak dijajakan di pasar-pasar itu. Kuberi umpan yang nikmat didalam sangkar itu. Lantas kupasang d sudut-sudut rumah. Dijamin, antara jam 1 pagi sampai jam 3 pagi hewan congor panjang itu masuk perangkap. Tidak tanggung-tanggung, satu sangkar bisa dapat dua atau tiga tikus sekaligus. Begitu tikus sudah masuk sangkar penangkap, lantas kukunci pintu sangkar itu. Setelah itu, kuletakkan sangkar ditempat-tempat yang strategis yang biasanya menjadi tempat favorit tikus beranjangsana.

Dengan gaya detektif ala Hunter yang terkenal itu, kuintip perilaku tikus-tikus yang kupenjara itu. Ternyata diluar dugaanku, banyak kawanannya datang menjenguknya di malam hari. Mereka berusaha melepaskan kawan-kawannya yang ada didalam sangkar. Setelah lama sekali gigi mereka tidak mampu menembus dinding-dinding besi itu, mereka terlihat bercakap-cakap sebentar. Ajaibnya, beberapa tikus lain berusaha menyeret sangkar itu ke sarang mereka. Tapi usaha itu percuma saja, karena aku lebih cerdas. Sangkar itu sudah kuikat di kaki-kaki lemari pakai kunci roda sepeda. Dijamin tidak akan lari kemana-mana. Anggota kawanan itu kemudian mengundurkan diri secara teratur dan mereka tidak pernah muncul lagi untuk beberapa waktu lamanya.

Bagaimana dengan nasib tikus yang masuk sangkar? Dengan sengaja kudiamkan saja didalam sangkarnya tanpa makan dan minum. Dalam waktu tiga hari, biasanya congor mereka sudah rusak karena nekat berusaha mengalahkan sangkar besi. Lama kelamaan mereka lemas sendiri, kehabisan tenaga, dehidrasi, sekaligus kelaparan. Namun bagiku, itu saja belum cukup. Pada siang hari yang terik, dengan senang hati, kujemur hewan keparat yang sudah merusak harta bendaku itu dibawah sinar matahari langsung. Kulihat hewan ini terkencing-kencing di sangkarnya. Tikus itu lari kesana kemari mencari payung yang nyaman untuk mendinginkan tubuhnya, tapi sia-sia belaka. Makin sering ia bergerak, makin terkuraslah tenaganya, hingga akhirnya ia mati pelan-pelan secara mengenaskan didalam sangkar yang khusus diperuntukkan baginya.

Bagaimana jika sinar matahari tidak ada? Dengan sukarela kunyalakan kompor atau api unggun kecil. Lantas pelan-pelan kupanggang sangkar tikus itu diatas api. Rasanya merdu sekali mendengarkan suara bulu-bulu mereka yang terbakar. Baunya harum seperti bau bakaran sate yang nikmat. Kubakar saja pelan-pelan, supaya mereka juga mati pelan-pelan dan bisa menghayati kematiannya itu. Setelah bulunya habis terbakar semua, barulah kupanggang betulan seperti kita memanggang daging yang akan kita santap. Kupikir hukuman ini pantas diberikan sebagai pemanasan sebelum tikus-tikus itu masuk neraka nantinya...

Bagaimana jika aku tidak punya api? Mudah saja. Kupanggil kucing-kucingku dengan kode khusus. Mereka biasanya langsung menubruk sangkar berisi makanan lezat itu. Tapi permainan tidak begitu saja berakhir dengan mudahnya. Sudah kusiapkan skenario yang baik untuk mengakhiri kehidupan tikus keparat itu. Kubelai-belai kucingku supaya bersabar. Kucingku paham. Ia kemudian duduk manis dengan mata tajam tak pernah lepas dari calon makanan lezatnya. Sang tikus kulihat berlari kesana-kemari panik. Aku tertawa saja. Tikus itu sekarang merasakan kepanikanku ketika mereka merusak harta bendaku. Nah, sekarang tiba balasannya. Kubuka kunci sangkar perlahan-lahan. Tikus kurangajar itu langsung melompat keluar sekuat tenaga. Tapi kucingku sudah siap. Tikus itu diterkamnya. Tidak langsung digigit mati, tapi dipermainkannya seperti kita main sepakbola itu. Disepak kesana kemari, diterkam dengan cakar setajam pisau bedah, dilepaskan lagi, lari lagi, diterkam lagi, begitu seterusnya sampai tikus itu kelelahan. Kulihat kucingku mukanya masih sangar. Ia mendekati tikus yang sudah kelelahan itu, menggigit lehernya pelan-pelan. Kudengar teriakan lirih si tikus yang sudah tak berarti lagi. Dan akhirnya kupersembahkan makanan lezat bagi kucingku siang itu.

Nah, sekarang aku bertanya kepada kalian. Bagaimana dengan rumah kalian? Ada tikusnya juga? Apakah kalian hanya akan diam saja atau berusaha membasmi sekuat tenaga? Aku sangat percaya takdir, bahwa manusia yang normal pasti akan membinasakan tikus-tikus keparat itu. Hanya segelintir orang-orang abnormal saja yang membela keberadaan tikus-tikus kotor itu.

Bagaimana dengan rumah kita yang bernama Indonesia? Apakah rumah kita juga dipenuhi populasi tikus-tikus keparat ini? Ya! Tikus-tikus di negeri ini telah menggerogoti kekayaan negeri kita untuk kepentingan mereka. Inilah yang kusebut sebagai tikus koruptor. Indikatornya sederhana, sebagai negara yang kaya sumber daya alam dan kaya sumber daya manusia, kenapa negara kita masih menjadi salah satu negara miskin di dunia? Jawabannya sederhana, karena kekayaan negara kita dimakan habis tikus-tikus koruptor itu tanpa sisa.

Bayangkan, kita bersusah payah mencari makan tiap hari. Tiap hari pula negara memungut pajak dari hasil cucuran keringat kita. Hanya udara yang kita hirup saja yang saat ini belum terkena pajak. Namun dimanakah pajak itu berakhir? Kalau jalanan umum atau fasilitas umum di dekat rumah tinggalmu masih rusak dan memprihatinkan, berarti pajak itu habis digerogoti tikus koruptor. Ini penyakit kronis yang harus kita berantas habis dengan shock therapy yang manjur. Dulu Soeharto memproklamirkan bahwa komunis adalah bahaya laten. Ia melakukan tindakan tegas selama bertahun-tahun lamanya hany untuk membersihkan unsur-unsur komunis dengan shock therapy yang sangat hebat. Akibatnya, kampanye itu berhasil. Indonesia tidak menjadi negara komunis.

Nah, bagaimana supaya Indonesia tidak menjadi sarangnya tikus koruptor keparat yang menjijikkan itu? Kita sudah mentahbiskan bahwa korupsi adalah bahaya laten. Maka yang harus kita lakukan adalah pembersihan unsur-unsur korupsi ini dengan shock therapy yang tidak memungkinkan tunas-tunas korupsi tumbuh kembali. Caranya? Ikutilah caraku! Berbekal pengalamanku sebagai sarjana hukum dan pengalamanku dalam memberantas tikus-tikus keparat di rumahku, kalian akan temukan metode paling cespleng memangkas habis kepala tikus-tikus koruptor di Indonesia. Inilah SOP-nya (standard operating procedure-nya) :


Langkah 1 : BIKIN SANGKAR DARI KONTAINER BEKAS
Cara paling efektif menangkap tikus koruptor adalah dengan menggunakan sangkar penangkap. Sangkar penangkap ini tidak mahal biayanya dan tidak akan membebani pajak rakyat. Kita beli saja kontainer-kontainer bekas yang sudah tidak terpakai lagi itu. Dindingnya kita copot semua. Terus kita ganti dengan dinding jeruji besi yang berasal dari besi-besi cor bekas bongkaran rumah atau gedung. Kita bisa beli kiloan. Yang penting, dilas dengan baik supaya kuat dan tidak putus digigit tikus koruptor itu. Sangkar penangkap ini tidak usah dicat, biarkan saja apa adanya untuk menghemat pajak rakyat. Tiap sangkar diberi pintu masuk dan keluar hanya pada satu sisi saja. Kita bisa menguncinya dengan kuat supaya tikus koruptor paling cerdas anggota kawanan tikus koruptor yang tertangkap itu nanti tidak bisa membukanya.


Langkah 2 : LAKUKAN OPERASI KHUSUS
Ini operasi intelijen yang canggih. Kita sebar mata-mata untuk bisa mendeteksi keberadaan tikus koruptor. Kita libatkan seluruh masyarakat kita. Aku saja yang bukan agen intelijen tapi hobby nonton film Hunter bisa menjadi detektif untuk menangkap tikus-tikus keparat itu. Nah, begitu ketahuan, langsung kita tangkap tikus koruptor ini dan dimasukkan ke sangkar penangkap. Tidak perlu ijin kepada siapapun. Kita cukup meminta ijin kepada Allah SWT saja bahwa kita sedang berusaha membersihkan rumah kita, sehingga malaikat tidak merasa najis menginjak lantai rumah kita yang sekarang dipenuhi tikus koruptor.

Nah, teknisnya bagaimana? Setiap malam, sangkar kontainer itu kita operasikan dengan menyewa trailer. Kupikir sewanya cukup murah dibandingkan dengan bersihnya rumah kita nantinya. Kita jalan-jalan di sepanjang jalanan negeri ini dan sepanjang jalan itu kita terima atau kita jemput tikus-tikus koruptor hasil tangkapan masyarakat. Kalau untuk menangkap tikus keparat itu butuh operasi 1 bulan, maka untuk menangkap dan menghabisi tikus-tikus koruptor ini kita butuh operasi khusus selama 2 - 3 tahun terus menerus. Darimana biayanya? Pajak rakyat lebih dari cukup untuk membersihkan tikus-tikus koruptor ini, dibandingkan untuk membeli mobil mewah pejabat.


Langkah 3 : TEMPATKAN SANGKAR PENANGKAP DI ALUN-ALUN
Setiap kota di Indonesia memiliki tanah lapang atau alun-alun. Tanah lapang atau alun-alun biasanya terletak di pusat kota dan menjadi tujuan sosialisasi warga masyarakat. Warga masyarakat berkumpul disitu, baik sekedar untuk melepas penat atau menyelenggarakan acara tertentu.

Nah, daripada alun-alun kita itu lebih sering menganggur, maka kita manfaatkan saja untuk menempatkan sangkar penangkap tikus koruptor itu. Mengapa harus di alun-alun, bukan dimasukkan ke penjara? Sebab kalau di alun-alun itu setiap masyarakat bisa melihat wajah-wajah tikus koruptor pengkhianat bangsa itu. Kalau ditaruh dipenjara, masyarakat tidak pernah tahu bagaimana perlakuan aparat terhadap tikus-tikus koruptor itu. Kalau ditempatkan di alun-alun kita bisa melihat yang namanya transparansi, inilah dasar-dasar negara anti korupsi. Dengan dinding jeruji dan tanpa penghalang kita bisa melihat bahwa tikus-tikus koruptor itu tidak diperlakukan istimewa. Kita juga melihat bahwa tikus-tikus koruptor sebagai pengkhianat bangsa itu derajatnya paling hina dimuka bumi Indonesia, bukan malah paling istimewa perlakuannya di penjara.

Langkah 4 : BERIKAN KESEMPATAN PEMBUKTIAN TERBALIK
Disini kita tidak perlu penegak hukum yang belum tentu bisa menghadirkan keadilan di negeri ini. Nah, bagaimana proses pengadilannya? Biarkan si tikus koruptor itu membuktikan kepada masyarakat luas yang menontonnya bahwa tuduhan itu tidak benar dengan mengajukan bukti-buktinya. Masyarakat akan menilai apakah si tikus koruptor bersalah atau tidak. Kupikir masyarakat dapat menilai dengan berlandaskan rasa keadilan karena masyarakatlah yang menerima akibat dari perbuatan tikus koruptor ini. Lihat saja kasus Prita. Sampai detik ini ditulis, koin yang dikumpulkan masyarakat mencapai 6 ton! Bayangkan jika ditimbang dengan kitab-kitab hukum warisan Belanda yang sudah lapuk itu, apakah seimbang? Rasa keadilan masyarakatlah yang menang! Sebab koin Prita lebih membumi, mampu menyentuh Ibu Pertiwi, dibandingkan dengan kitab-kitab hukum yang ada di angkasa itu. Kupikir masyarakat akan bertindak sama untuk mengadili tikus-tikus koruptor.

Bagaimana jika sebelum membuktikan diri si tikus koruptor mati di sangkar penangkap. Biarkan saja! Tidak perlu dibawa ke rumah sakit atau didatangkan dokter. Itu sudah resikonya menjadi tikus koruptor. Tikus koruptor akan mati dengan kondisi paling hina di sangkar penangkap. Jadi kalau ada yang sakit dan kemudian mati, biarkan saja. Biarkan bau busuknya menyebar dan dihirup oleh tikus-tikus koruptor yang lainnya yang ada di sangkar itu. Biarkan belatungnya menghinggapi tikus-tikus koruptor yang lain. Bagi rakyat yang pajaknya dikorupsi, bau busuk matinya si tikus koruptor itu sesegar bau parfum impor yang harganya lebih tinggi dibandingkan dengan harga diri si tikus koruptor. Bagi rakyat yang pajaknya dikorupsi, belatung yang menggerogoti bangkai tikus koruptor adalah penegak hukum alam yang sebenarnya. Belatung itu ciptaan Allah dan hanya memakan bagian tubuh yang sudah membusuk. Memang bagian-bagian bangsa kita yang busuk itu harus dihilangkan supaya anak bangsa yang lainnya tidak ikutan busuk. Bandingkan dengan penegak hukum kita yang suka memakan bagian tubuh yang masih segar bugar? Lihat saja kasus salah tangkap atau salah menjatuhkan vonis yang mencerminkan keprimitifan kita?

Bagi rakyat yang pajaknya dikorupsi, bau busuk matinya si tikus koruptor itu sesegar bau parfum impor yang harganya lebih tinggi dibandingkan dengan harga diri si tikus koruptor. Bagi rakyat yang pajaknya dikorupsi, belatung yang menggerogoti bangkai tikus koruptor adalah penegak hukum alam yang sebenarnya.

(Ekotama, 18 Desember 2009)

Bagaimana kalau ada sebagian dari kita yang sok manusiawi dan sok suci memberikan belas kasihan kepada sang tikus koruptor yang sakit di sangkar penangkap? Di Indonesia ini tidak ada dokter spesialis tikus koruptor. Sampai detik ini ditulis, belum pernah kudengar ada fakultas kedokteran yang meluluskan dokter spesialis tikus koruptor. Di Indonesia juga tidak ada rumah sakit untuk tikus koruptor. Jangankan rumah sakit, puskesmas saja tidak ada yang diperuntukkan bagi tikus koruptor. Jadi, jangan sekali-sekali membawa tikus koruptor ke puskesmas, nanti rakyat kita marah. Puskesmas itu tempat berobat rakyat kita yang derajatnya jauh lebih tinggi dibandingkan derajat tikus koruptor yang menjijikkan itu. Jadi, sebagaimana halnya hewan-hewan lain yang sakit, tikus koruptor itu cukup diperiksa saja di sangkarnya, diberi obat yang khusus untuk hewan, dan biarkan beristirahat didalam sangkarnya.

Bagaimana kalau kalian menghendaki bangkai tikus koruptor yang mati itu dikubur saja? Boleh-boleh saja. Tapi kuburan tikus itu tidak boleh meninggalkan bekas sama sekali! Itu prinsipnya. Sebab kalau meninggalkan bekas, bisa jadi kawanan tikus lainnya menjadikan tempat itu sebagai tempat peziarahan, bahkan bisa jadi anggota kawanan yang lain nanti menganugerahkan gelar kepahlawanan kepada tikus koruptor yang mati sengsara di penjara. Oleh karena itu, kalau mau dikuburkan, caranya adalah penggal kepalanya. Kuburkanlah kepalanya di sepanjang jalan yang biasa dilewati rakyat kita. Itulah penghargaan yang sangat pantas kita anugerahkan kepada si tikus koruptor. Bangkai tubuhnya dikemanakan? Umpankanlah sebagai bahan makanan ikan-ikan kita di samudera. Ikan-ikan itu tentu akan kegirangan mendapatkan santapan istimewa seperti itu. Kalau ikan-ikan hiu di samudera kita kita biasa makan bangkai seperti itu, dijamin hiu-hiu kita bisa menyalak dengan keras untuk mengusir bangsa-bangsa asing yang suka mencuri ikan atau menerobos wilayah kedaulatan negara kita itu. Bangsa-bangsa lain pun akan berpikir ulang seribu kali sebelum masuk perairan kita tanpa ijin karena mereka tahu bahwa makanan hiu-hiu penjaga lautan itu adalah bangkai penjahat dan pengkhianat bangsa.

Bagaimana jika si tikus koruptor yang tertangkap itu bisa membuktikan bahwa dirinya bukan tikus koruptor? Masyarakat akan mudah tahu. Masyarakat Indonesia ini sudah cerdas. Masyarakat kita sudah terbiasa melihat tikus got, tikus rumah atau bahkan tikus-tikus putih yang dipakai di laboratorium itu. Jadi tidak perlu khawatir. Tikus yang harus dibantai adalah tikus-tikus got atau tikus rumah yang suka merusak harta benda kita itu. Tikus-tikus yang masih berharga bisa kita pakai untuk sesuatu yang bermanfaat bagi peradaban kita.


Langkah 5 : WAJIBKAN ANAK-ANAK SEKOLAH BERWISATA MENINJAU SANGKAR PENANGKAP TIKUS KORUPTOR
Dulu ketika masih duduk di bangku sekolah menengah, aku diwajibkan untuk ikut darmawisata. Salah satu acara darmawisata itu mengunjungi Monumen Lubang Buaya di Jakarta. Disitu kusaksikan kekejaman orang-orang yang tega melakukan pembunuhan demi kepentingan politik. Setelah dewasa, pelajaran itu masih kuingat betul, sehingga sampai sekarang aku aku tidak menyukai cara-cara kotor penguasa untuk mendapatkan kekuasaannya.

Nah, jika sangkar penangkap tikus koruptor beserta tikus-tikus koruptor penghuninya kita tunjukkan kepada anak-anak didik kita, maka di pikiran bawah sadar mereka akan tertanam rasa antipati terhadap kejahatan korupsi. Tidak perlu kita bikin kantin kejujuran yang tidak ada manfaatnya bagi masyarakat luas itu. Setelah mengunjungi sangkar-sangkar penangkap itu, anak didik kita pasti akan takut melakukan korupsi, sehingga dalam tiga dekade mendatang, bangsa Indonesia bisa lepas dari cengkeraman bahaya laten korupsi. Tiada seorangpun yang rela kehidupannya akan sehina kehidupan tikus koruptor di sangkar penangkap itu. Darmawisata model ini juga murah meriah, karena sangkar penangkap itu selalu ada di pusat-pusat kota. Orang tua murid tidak perlu mengeluarkan biaya ekstra untuk membiayai anak-anaknya berdarmawisata. Yang penting kan tujuan pendidikannya tercapai.


Nah, sampai disini, kalian sudah tahu kan?
Memberantas tikus koruptor itu semudah itu. Kita hanya membutuhkan SOP (standard operating procedure) lima langkah seperti diatas. Lantas apa susahnya sehingga kita masih dicengkeram korupsi setelah sepuluh tahun reformasi? Sebab kita tidak pernah mampu berpikir out of the box. Cara berpikir kita hanyalah cara berpikir yang lurus-lurus saja seperti diajarkan guru dan dosen kita itu. Padahal kehidupan membutuhkan perubahan. Jikalau cara berpikirmu tidak berubah, bagaimana mungkin kehidupanmu akan berubah? Dijamin, jika cara ini sukses, 25 tahun kedepan Indonesia menjadi negara maju karena sumber daya manusianya berkualitas, bukan bermental maling sembunyi tangan.

Timbanglah unsur perikemanusiaanku dengan perikehewanan tikus koruptor itu. Pasti kalian akan mendapati perikemanusiaanku menyentuh bumi, menyentuh Ibu Pertiwi, sedangkan perikehewanan tikus koruptor itu tidak pernah menyentuh bumi sekalipun.

(Ekotama, 18 Desember 2009)

Sebagai seorang sarjana hukum, kupersembahkan trik dan strategi ini untuk membersihkan rumah kita Indonesia dari tikus-tikus koruptor. Inilah hukum pidana sekaligus hukum acara pidana sebagai bagian dari revolusi hukum Indonesia. Aku tahu, mantan dosen-dosenku akan menghakimi diriku karena menganggapku tidak berperikemanusiaan. Aku juga tahu, para aktivis HAM akan menentangku karena mereka menganggap aku melanggar HAM. Justru karena aku berperikemanusiaan itulah kutulis artikel ini. Koruptor itu adalah hewan menjijikkan, bukan lagi golongan manusia. Tidak ada manusia yang berperikemanusiaan menggunakan / menelikung sistem kenegaraan sedemikian rupa untuk memperkaya diri sendiri atau menyalahgunakan kewenangan yang dipercayakan rakyat kepadanya. Timbanglah unsur perikemanusiaanku dengan perikehewanan tikus koruptor itu. Pasti kalian akan mendapati perikemanusiaaku menyentuh bumi, menyentuh Ibu Pertiwi, sedangkan perikehewanan tikus koruptor itu tidak pernah menyentuh bumi sekalipun.


Hukum yang baik adalah hukum yang bisa melindungi kepentingan masyarakat luas, bukan melindungi segelintir orang yang memiliki kepentingan tertentu diluar kepentingan bangsanya.

(Ekotama, 17 Desember 2009)


Jika kawan-kawanku seangkatanku yang sekarang berprofesi sebagai polisi, hakim, jaksa dan pengacara membaca naskah revolusi ini, bisa jadi mereka akan menghujatku habis-habisan dan menganggapku sebagai orang tak bermoral. Kupikir senyumku sudah lebih dari cukup untuk membalas hujatan mereka. Aku tahu alasannya. Dalam naskah revolusi hukum korupsi ini kutiadakan peran mereka. Jadi, kalau perut mereka lapar, pastilah mereka akan berteriak. Tapi apalah artinya teriakan penegak hukum yang tidak mampu menghadirkan revolusi hukum? Kita tidak hidup dimasa lalu, Bung! Kita hidup untuk mempersiapkan masa depan bagi anak cucu kita. Jadi, seyogyanya kita pilih masa depan yang terbaik untuk anak cucu kita. Aku tidak mau mewariskan rumah penuh tikus kepada anak cucuku. Bagaimana denganmu? Apakah kamu akan mewariskan rumah penuh tikus kepada anak cucumu?


Hukum yang menjadi pedoman hidup adalah hukum yang muncul dari kehidupan masyarakat sehari-hari, bukan hukum yang dibuat oleh penguasa. Sebab kekuasaan itu cenderung korup dan hukum yang dilahirkan oleh penguasa dibuat sedemikian rupa untuk melegalkan korupsinya.

(Ekotama, 17 Desember 2009)


Mari kita coba berhitung menggunakan akal sehat. Kalian pegang kalkulator? Katakanlah penduduk Indonesia sekarang itu jumlahnya 230 juta jiwa. Jumlah sekian banyak itu tidak murni semuanya penduduk, tapi pasti ada tikus-tikus koruptornya. Anggaplah tikus koruptornya itu jumlahnya 30 juta dan kita basmi semuanya, maka yang tersisa adalah 200 juta jiwa. Jumlah ini sudah lebih dari cukup untuk menguasai dunia, Bung! Tentu jika kita sudah musnahkan tikus-tikus koruptor ini. Jadi, mari kita sambut pembasmian mereka dengan sorak sorai sebagaimana kegembiraan para petani yang berhasil membantai para tikus yang menghabiskan tanaman padinya dan penuh rasa syukur atas kemurahan Allah SWT.


Yogyakarta, 15 Desember 2009

SURYONO EKOTAMA.

 


Sebagai bangsa yang merdeka, mari kita sambut pembasmian tikus-tikus koruptor dengan sorak-sorai sebagaimana kegembiraan para petani yang berhasil membantai para tikus yang menghabiskan tanaman padinya...!

(Ekotama, 18 Desember 2009)

 


Tuesday, 09 Jul 2019

PEMILU 2020 & SETERUSNYA

Pemilu serentak 2019 telah usai dengan berbagai problematikanya, meskipun sebenarnya problematika ini sifatnya klise, selalu terjadi berulang sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, supaya kita tidak memelihara kebodohan abadi dan bangsa kita cepat maju dan berkembang, penyelenggaraan Pemilu 2020 dan seterusnya harus dibenahi. Apa saja yang penting untuk dibenahi? Mari kita lihat uraiannya berikut ini:

MENGGUNAKAN ALAT BANTU MESIN
Sekarang jaman teknologi. Sebagian besar pekerjaan manual sudah tergantikan oleh mesin. Mesin dibuat untuk meringankan pekerjaan manusia. Demikian pula seharusnya pemungutan suara ini. Pemungutan suara yang dilakukan dengan bantuan mesin akan lebih efektif dan efisien. Caranya mudah saja kok. Warga negara yang mau memilih tinggal datang ke TPS, kemudian kemudian melakukan scan sidik jari atau retinanya. Setelah itu pemilih tinggal memilih gambar kontestan pemilu yang dipilihnya melalui layar atau dengan cara menekan tombol nomor. Selesai. Singkat sekali dan tidak bisa diulang. Data langsung masuk ke penyelenggara pemilu tingkat pusat. Bayangan saya, mesin pemilu ini sesederhana mesin absensi sidik jari atau mesin ATM (ada layarnya). Bahkan saya berharap, suatu ketika nanti pemungutan suara dapat dilakukan melalui handphone, sehingga pemilih dapat leluasa menggunakan hak pilihnya tanpa harus libur dan mengorbankan produktifitasnya.
Apa manfaatnya cara seperti ini?
Pertama, petugas KPPS tidak kelelahan, karena pekerjaan manualnya terbantu mesin, sehingga dapat terhindar dari sakit atau kematian yang tidak perlu. Jumlah petugas juga dapat diminimalisir, sehingga sangat efisien dari sisi biaya dan mengurangi tingkat human error.
Kedua, proses pemilu lebih cepat selesai, sehingga tidak mengganggu stabilitas ekonomi dan politik. Tidak ada lagi sistem perhitungan bertingkat (berjenjang) yang berpotensi menimbulkan keresahan dan konflik.
Ketiga, mengurangi penggunaan kertas (go-green). Ramah lingkungan bukan?
Keempat, dalam jangka panjang sangat hemat biaya, karena mesin pemilu seperti ini dapat digunakan berkali-kali di pemilu berikutnya (bukan sekali pakai seperti kertas dan kardus).
Kelima, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mengalami kemajuan, dari bangsa tradisional yang masih melakukan pemilihan secara manual dan selalu terjebak pada masalah yang sama, menjadi bangsa maju yang mampu memanfaatkan teknologi dan mampu meminimalisir masalah klise yang muncul. Ini lompatan kemajuan yang luar biasa.
Bagi orang yang anti kemajuan, pasti akan menolak dengan alasan tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini. Mengapa cara berpikirnya tidak dibalik? Jika tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini, bagaimana caranya supaya semua daerah dapat menggunakan teknologi maju seperti ini? Apa yang harus dilakukan? Sejelek-jeleknya, jika masih ada yang manual, prosentasenya tidak lebih dari 25%.

Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Copyright 2009 - 2021 :: ekotama. All Rights Reserved.