.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Thursday, 02 May 2019
Permohonan Sharing Knowledge
Muhammad Alfis Budi Sanjaya
Selamat Sore Apakah memungkinkan, kami mengundang Bapak untuk melakukan Sharing Knowledge di Perusahaan? Terima kasih Best Regards Muhammad Alfis
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 1
Total Pengunjung: 1183972

Sunday, 24 Jan 2010
HANTU LAUT

HANTU LAUT!


Ketika aku bertemu dengan saudara-saudaraku dari Papua, terkadang kuterima cerita yang membuatku murka. Mereka hanya punya perahu sederhana. Tetapi mata mereka melihat kapal cepat merampas harta samudera mereka dalam sekejap. Lautan seolah tiada berhantu, sehingga pencuri-pencuri itu tanpa rasa takut berebut harta keramat. Seandainya aku dapat berenang dengan cepat, akan kuarungi Laut Aru untuk mengusir penjajah ekonomi ini.

Sayangnya aku tidak bisa berenang. Aku benci berenang karena guru olah ragaku dulu menyuruhku berenang tanpa pernah mampu menjelaskan untuk apa aku berenang. Yang ada, aku disuruhnya pergi ke kolam renang, membeli karcis kolam renang yang bisa menguras uang sakuku dan dompet ibuku, menceburkan diri ke kotak berisi air yang bikin kulit jamuran, dan disitu kulihat teman-temanku hanya bermain, bukan berjuang untuk menguasai lautan! Saat ujian berenang, aku lebih memilih gaya batu, begitu mencebur langsung menyelam dan diam di dasar kolam renang. Ketika kubuka mata, ternyata kulihat pemandangan yang sangat hebat. Aku melihat dunia yang sangat luas! Dunia yang mungkin tidak pernah dilihat banyak orang karena mereka hanya sibuk berenang tanpa pernah berhasil menyeberangi lautan.

Cuaca sekarang berubah. Orang sedunia takut tenggelam karena mencairnya es kutub. Badai sering datang tanpa kompromi dan membuat kapal-kapal ogah berlayar. Kenapa kita tidak pernah berpikir bahwa kita masih bisa hidup dibawah air? Kita masih bisa menyelam. Lautan adalah rumah kita. Siapa bilang untuk menjadi pelaut itu kita harus punya kapal yang mengapung di permukaan?

Indonesia adalah negara dengan gugusan pulau-pulau. Sulit bagi kapal besar bermanuver di sela-sela pulau-pulau itu. Padahal disitulah para pencuri ikan itu bersembunyi. Inilah yang menyebabkan aku hanya menaruh kapal induk di samudera-samudera yang mengelilingi Indonesia. Namun, jangan kira kita bisa bersantai ria meski sudah punya kapal induk sekalipun. Untuk menangani pencuri itu tidak perlu kita bikin tender kapal-kapal patroli, daripada dikorupsi lagi. Kita akan ajari pemuda-pemuda kita untuk menyelam jauh kedalam lautan. Jika mereka sudah mahir menyelam, mereka akan ketagihan hidup dibawah permukaan, lama kelamaan mereka akan berpikir bagaimana membuat kapal selam.


Pelajaran olah raga terbaik untuk anak bangsa adalah menyelam kedalam lautan, bukan berenang di permukaan. Didalam lautan kamu akan menguasai harta karun yang terhampar di sepanjang lautan dan yang bersemayam di dasar lautan. Jika berenang di permukaan, kamu mati konyol karena tenggelam atau dimakan hiu kelaparan!

(Ekotama, 10 September 2009)


Aneh, sebuah negara kepulauan tidak punya kapal selam. Negara ini baru akan terbebas dari pencuri-pencuri ikan, pencuri kayu gelondongan, bahkan pencuri pasir laut itu jika kita punya armada kapal selam lebih banyak dibandingkan armada panser sekalipun! Kupikir sudah saatnya sekarang kita punya setidaknya 64 kapal selam. Mengapa harus 64? Karena kita sudah merdeka selama 64 tahun! Setiap tahun kita harus bisa bikin satu kapal selam untuk rumah kita sendiri supaya bisa mendapatkan kedaulatan ekonomi dalam arti yang sebenarnya. Kapal-kapal selam ini akan kutempatkan disepanjang jalur selat malaka, selat sunda, kepulauan seribu, laut jawa, selat bali, selat makassar, laut sulawesi, laut timor, laut banda, laut maluku, laut seram, laut arafuru. Kapal-kapal selam ini akan menjadi hantu laut bagi siapapun yang akan melanggar kedaulatan Indonesia!


Sebaik-baik benteng adalah benteng yang tidak terlihat namun sangat kuat dan namanya mampu menakuti setiap pencuri bahkan sebelum mereka berniat mencuri. Benteng ini sangat strategis karena tidak menghalangimu bergaul dengan bangsa-bangsa di dunia, tetapi mampu menjaga hartamu supaya tetap ditempatnya semula. Dimana kamu akan membangun benteng jika tempat tinggalmu terhampar diatas lautan?

(Ekotama, 10 September 2009)


Kita ini keturunan nenek moyang seorang pelaut. Kita bisa lebih leluasa melihat lalu lintas laut ketika dibawah laut. Siapapun yang melintas diatas kepala kita tanpa ijin atau mencuri harta karun keturunan kita, maka kita jatuhkan hukuman yang paling pantas di dunia. Kita akan kubur mereka hidup-hidup di dasar laut! Biarlah jasad mereka dimakan ikan yang akan memberi rejeki untuk anak cucu kita!

Kalau kamu masih bingung juga, cobalah berpikir cerdas sedikit. Tidak perlu berdebat! Kalau kamu ingin menenggelamkan sebuah perahu, apa yang akan kamu lakukan? Cara paling sederhana adalah melubangi dasar perahunya! Dijamin akan tenggelam dengan suksesnya. Jika kamu menenggelamkan dari atas, kamu akan disambut dengan todongan meriam. Jika kamu menenggelamkan dari samping, kamu akan dihujani tembakan. Ini yang kusebut cara berpikir sederhana. Tidak ada kapal permukaan yang punya moncong senjata di dasar kapal dan akan menembak kebawah, karena mereka hanya berpikir dibawah kapal hanya ada air.

Sebagai keturunan nenek moyang seorang pelaut, cerdaslah! Justru di air laut itulah kita memiliki posisi strategis. Minyak dan gas bumi yang diperebutkan bangsa-bangsa asing itu juga ada dibawah laut. Bagaimana caramu melindunginya selain kamu menguasai bawah laut itu?

Kamu anak bangsa! Sadarlah! Kenapa musti menebang hutan atau membakar hutan jika harta karun sebenarnya ada di lautan? Aku yakin kamu berpikir seperti orang kebanyakan karena guru-gurumu tidak pernah mengajakmu melihat lautan. Tidak ada seorang guru pun yang bisa melihat harta karun didalam lautan dan menunjukkan kepada anak didiknya, karena ia hanyalah seorang guru yang berharap menjadi pensiunan, bukan berharap menyelam lautan untuk mendapatkan harta karun bagi anak didiknya!

Aku serukan kepadamu wahai anak bangsa! Nenek moyang kita adalah seorang pelaut! Sejarah telah membuktikan bahwa bangsa kita pernah mencapai jaman keemasan setelah menguasai lautan! Kita sudah tahu bahwa harta karun kita terletak di lautan, bukan di daratan. Mengapa engkau masih membutakan diri dari kenyataan dengan menguasai daratan? Bukankah daratan itu hanya milik lintah darat yang menghisap sesamanya?

Kuasailah lautan! Kita akan menyelam dan menjadi hantu laut bagi siapapun yang ingin menodai kesucian Ibu Pertiwi. Kibarkan merah putih disetiap inci dasar lautan kita! Jangan sekali-kali kamu mengibarkan merah putih di dasar lautan kemudian mengangkatnya lagi ke daratan! Bahkan kita bisa belajar membuat kapal selam hanya dari gallon aqua yang kita tenggelamkan!

Hantu laut tidak akan membuat anak-anak SMA kesurupan! Hantu laut akan menjaga kedaulatan negara dan menjaga harta karun untuk kita wariskan.


Yogyakarta, 5 September 2009


SURYONO EKOTAMA

 


Tuesday, 09 Jul 2019

PEMILU 2020 & SETERUSNYA

Pemilu serentak 2019 telah usai dengan berbagai problematikanya, meskipun sebenarnya problematika ini sifatnya klise, selalu terjadi berulang sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, supaya kita tidak memelihara kebodohan abadi dan bangsa kita cepat maju dan berkembang, penyelenggaraan Pemilu 2020 dan seterusnya harus dibenahi. Apa saja yang penting untuk dibenahi? Mari kita lihat uraiannya berikut ini:

MENGGUNAKAN ALAT BANTU MESIN
Sekarang jaman teknologi. Sebagian besar pekerjaan manual sudah tergantikan oleh mesin. Mesin dibuat untuk meringankan pekerjaan manusia. Demikian pula seharusnya pemungutan suara ini. Pemungutan suara yang dilakukan dengan bantuan mesin akan lebih efektif dan efisien. Caranya mudah saja kok. Warga negara yang mau memilih tinggal datang ke TPS, kemudian kemudian melakukan scan sidik jari atau retinanya. Setelah itu pemilih tinggal memilih gambar kontestan pemilu yang dipilihnya melalui layar atau dengan cara menekan tombol nomor. Selesai. Singkat sekali dan tidak bisa diulang. Data langsung masuk ke penyelenggara pemilu tingkat pusat. Bayangan saya, mesin pemilu ini sesederhana mesin absensi sidik jari atau mesin ATM (ada layarnya). Bahkan saya berharap, suatu ketika nanti pemungutan suara dapat dilakukan melalui handphone, sehingga pemilih dapat leluasa menggunakan hak pilihnya tanpa harus libur dan mengorbankan produktifitasnya.
Apa manfaatnya cara seperti ini?
Pertama, petugas KPPS tidak kelelahan, karena pekerjaan manualnya terbantu mesin, sehingga dapat terhindar dari sakit atau kematian yang tidak perlu. Jumlah petugas juga dapat diminimalisir, sehingga sangat efisien dari sisi biaya dan mengurangi tingkat human error.
Kedua, proses pemilu lebih cepat selesai, sehingga tidak mengganggu stabilitas ekonomi dan politik. Tidak ada lagi sistem perhitungan bertingkat (berjenjang) yang berpotensi menimbulkan keresahan dan konflik.
Ketiga, mengurangi penggunaan kertas (go-green). Ramah lingkungan bukan?
Keempat, dalam jangka panjang sangat hemat biaya, karena mesin pemilu seperti ini dapat digunakan berkali-kali di pemilu berikutnya (bukan sekali pakai seperti kertas dan kardus).
Kelima, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mengalami kemajuan, dari bangsa tradisional yang masih melakukan pemilihan secara manual dan selalu terjebak pada masalah yang sama, menjadi bangsa maju yang mampu memanfaatkan teknologi dan mampu meminimalisir masalah klise yang muncul. Ini lompatan kemajuan yang luar biasa.
Bagi orang yang anti kemajuan, pasti akan menolak dengan alasan tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini. Mengapa cara berpikirnya tidak dibalik? Jika tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini, bagaimana caranya supaya semua daerah dapat menggunakan teknologi maju seperti ini? Apa yang harus dilakukan? Sejelek-jeleknya, jika masih ada yang manual, prosentasenya tidak lebih dari 25%.

Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Copyright 2009 - 2020 :: ekotama. All Rights Reserved.