.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Thursday, 02 May 2019
Permohonan Sharing Knowledge
Muhammad Alfis Budi Sanjaya
Selamat Sore Apakah memungkinkan, kami mengundang Bapak untuk melakukan Sharing Knowledge di Perusahaan? Terima kasih Best Regards Muhammad Alfis
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 2
Total Pengunjung: 1183955

Sunday, 24 Jan 2010
17 AGUSTUS

17 AGUSTUS
Renungan Untuk Bangsaku Yang Merdeka


Seumur hidupku, kucatat sudah 27 kali aku mengikuti secara langsung peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus. Dahulu, jaman aku masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak, guru-guruku selalu mengajak kami untuk berpawai sambil membunyikan kentongan seolah-olah kita meronda disiang bolong. Kebiasaan itu ternyata masih harus kulakukan secara rutin sampai tahun 1990, saat aku terakhir mengenyam bangku sekolah dasar.

Bedanya, ketika duduk dibangku sekolah dasar ini kami musti wajib melakukan upacara bendera dulu di pagi hari, persis seperti tradisi para tentara itu. Setelah pawai berkeliling desa, kami rebutan makanan yang sudah disediakan sekolah. Kupikir mengenaskan juga makanan yang dibungkus dengan daun pisang yang jumlahnya terbatas itu harus diperebutkan oleh ratusan anak-anak. Yang mendapatkan terkadang harus rela berbagi dengan yang tidak mendapatkan.


Sang saka Merah Putih itu seharusnya berkibar diangkasa, jangan pernah diturunkah lagi! Setiap tanggal 17 Agustus, tambahkan sejengkal lagi, begitu seterusnya sampai keluar angkasa!
Maka dunia akan melihatnya.

(Ekotama, 17 Agustus 2009)

Anehnya, kami tidak pernah diajari untuk menyediakan makanan bagi kami sendiri. Itulah sebabnya kami hanya berharap, setelah pawai selesai, kami mendapatkan makanan sebagai imbalan kerja keras kami. Selama enam tahun itu, aku termasuk yang jarang mendapatkan makanan, kuhitung cuma sekali saja setelah fisik tubuhku agak besar dan mampu berdesak-desakan dengan yang lain. Aku tidak tega melihat anak-anak yang jauh lebih kecil harus bersaing dengan kakak-kakak kelasnya yang jauh lebih besar. Yang mengusikku sampai sekarang, kenapa kami harus rebutan makanan. Bukankah kami bisa diajari untuk membuat makanan itu sehingga kami tidak harus rebutan. Bahkan mungkin bisa mendatangkan rejeki untuk kami, untuk membeli sesuatu yang tidak mampu kami beli dari uang saku yang diberikan orang tua kami. Bayangkan, di negara yang sudah merdeka dan kaya raya ini kami diajari rebutan makanan oleh guru-guru kami.

Anehnya lagi, guru-guru kami mengajari kami untuk membaca, menulis dan berhitung. Tapi khusus pada tanggal 17 Agustus itu, mereka selalu memerintah kami untuk membawa kentongan, ikut pawai dan membunyikan kentongan sepanjang jalan. Kupikir-pikir kalau ada genderuwo atau setan kesiangan pasti sudah lari terbirit-birit mendengar kedatangan pasukan kami yang diiringi musik kentongan yang bunyinya tidak beraturan itu. Setelah pawai usai, kentongan itu dibuang begitu saja dan kami harus belajar kembali membaca, menulis dan berhitung. Yang kupikirkan, mungkinkah pahlawan-pahlawan kita di surga tertawa riang melihat kami sebagai penerusnya mengisi kemerdekaan hanya dengan bersenjatakan kentongan?

Duduk dibangku sekolah menengah, kegemaran guru-guruku tetap sama. Mungkin ini tradisi yang memang harus diwariskan dari generasi ke generasi. Tiap tanggal 17 Agustus pagi kami harus ikut upacara bendera layaknya tentara. Kami diperdengarkan naskah proklamasi kemerdekaan yang dahulu disuarakan pertama kali oleh pahlawan kami Bung Karno. Suara itu sungguh berwibawa, membuat kami bergidik karenanya. Anehnya, kami tidak pernah tahu apa makna naskah proklamasi itu dalam kehidupan kami yang sebenarnya. Yang kami tahu, setelah naskah proklamasi dibacakan, kami kembali harus belajar tentang ilmu benar salah menurut buku wajib yang harus kami beli.

Usai upacara bendera, kami pulang kerumah masing-masing. Tidak ada yang beda pada diri kami, kecuali kami dapat menghirup udara pagi yang luar biasa segarnya diluar tembok sekolah dengan masih mengenakan seragam sekolah lengkap. Seolah-olah pikiran kami melayang bebas, mengembara sampai ke angkasa luas. Disanalah mungkin kami akan menemukan cita-cita kami, meskipun kerinduan itu hanyalah sebatas angan-angan. Pertanyaanku saat itu, mungkinkah aku bisa terbang ke alam bebas jika bendera merah putih yang selalu kami hormati diatas kepala kami dan kami kibarkan tadi pagi harus diturunkan lagi?

Kemerdekaan itu bukanlah simbol belaka! Kemerdekaan adalah tindakan nyata untuk membuktikan kepada dunia bahwa kita adalah orang yang bermanfaat bagi mereka.

(Ekotama, 17 Agustus 2009)

Sehari setelah upacara bendera usai dan tidak ada perubahan apapun pada diri kami, ada tradisi yang harus kami lakukan lagi, yaitu pawai keliling kota. Di sekolah menengah ini kurasakan derajatku naik sedikit. Kalau dulu jaman sekolah dasar aku hanya bisa keliling desa yang jalannya belum rata dan sebagian besar berdebu karena belum beraspal, maka di sekolah menengah ini aku keliling kota berjarak 15-an kilometer menyusuri jalanan aspal. Kalau dulu aku hanya menabuh kentongan, sekarang pangkatku naik menjadi penabuh alto di sebuah grup drum band. Irama musik yang kami hasilkan lebih tertata dan enak didengarkan. Ketika pawai kentongan dulu aku mengenakan baju seadanya, saat pawai drum band ini aku mengenakan seragam. Bangga juga aku mengenakannya, kelihatan lebih gagah, meski ketika sampai rumah aku harus menerima kenyataan pahit, seragam itu ditebus ibuku dengan biaya yang sangat mahal bagi seorang pegawai negeri pada saat itu.

Sebenarnya aku merasakan suka cita.disini. Aku suka musik, aku juga suka jalan-jalan. Aku suka ketika atraksi atau musik yang kami mainkan dihargai penonton dengan applaus yang tiada henti-hentinya. Rasanya puas hasil latihan kami seminggu dua kali dihargai seperti itu. Tidak seperti guru-guruku yang seringkali mencelaku ketika aku salah mengerjakan soal yang mereka berikan. Ketika aku salah mengerjakan soal-soal itu, bukankah itu sebenarnya kesalahan mereka? Kenapa mereka tidak memarahi atau mencela diri mereka sendiri? Dimana etika mereka sebagai guru? Sebab setahu aku, guru saat itu diartikan sebagai patut digugu lan ditiru (pantas untuk diikuti dan diteladani). Jadi, kalau muridnya salah menjawab soal, berarti gurunya juga salah memberi teladan menjawab soal?

Mungkinkah ini yang membuat sang saka merah putih musti berduka karena setelah dikibarkan harus diturunkan lagi? Mungkin sang saka merah putih juga berpikir, seandainya ia dikibarkan tiap tanggal 17 Agustus makin tinggi dan makin tinggi lagi tanpa pernah diturunkan, semua warga dunia akan menghormat kepadanya sebagaimana layaknya. Kupikir dadaku akan bergelora dan kujaga merah putih itu tetap di angkasa untuk memudahkan anak cucuku kelak mengibarkannya di angkasa luar.

Ketika duduk di bangku sekolah menengah atas, tradisi pawaiku mulai luntur. Di sekolah ini tidak ada pawai yang mengasyikkan karena tim kami hanya diajari baris berbaris saja. Anehnya, teman-temanku yang biasa diajari baris berbaris itu tetap tidak dapat berbaris dengan rapi ketika harus antri atau mengemudi di jalan. Kok bisa ya?

Kemerdekaan tidak bisa didapatkan dengan perang. Kemerdekaan itu hanya bisa dipersembahkan oleh persatuan yang menghasilkan karya bagi dunia.

(Ekotama, 17 Agustus 2009)

Tradisi yang masih harus kuteruskan adalah ikut upacara bendera. Sampai disini pun aku tetap tidak tahu apa makna proklamasi yang dibacakan tiap upacara tanggal 17 Agustus itu. Guru sejarahku bilang, bahwa itulah tonggak sejarah kemerdekaan bangsa kita. Jadi, aku pun berpikir bahwa proklamasi tanggal 17 Agustus hanyalah tonggak. Guru sejarahku tidak pernah bilang bahwa aku dan teman-teman harus membuat tonggak itu menjadi pondasi atau bahkan gedung pencakar langit layaknya Gedung Petronas Malaysia itu. Mungkin itulah yang menyebabkan aku kadang geli sendiri melihat orang berpawai keliling kota seperti ular panjang menyusuri jalanan kota. Tapi anehnya, meskipun pawai baris berbaris itu melibatkan ribuan orang, aku tidak melihat Naga disitu seperti naga-nya orang China.

Setelah lepas sekolah menengah atas, aku tidak pernah terlibat lagi meneruskan tradisi upacara dan pawai. Aku hanya tahu bahwa tetangga-tetanggaku di kampung tiap tanggal 17 Agustus rame-rame membersihkan jalanan kampung dan mengibarkan bendera. Itu terjadi sampai kalimat ini kutulis. Setelah tanggal 17 Agustus lewat, jalanan kampung kotor lagi ditumbuhi rumput-rumput liar dan bendera merah putih diturunkan untuk disimpan sampai jamuran.

Yang membuatku heran sampai kini, ada tradisi 17 Agustusan yang menurutku tidak layak dilakukan oleh orang-orang yang merdeka. Tradisi itu adalah lomba makan kerupuk, lomba panjat pinang, lomba balap karung, lomba tarik tambang. Ayo kita bayangkan satu per satu :

 

  • Lomba Makan Kerupuk

Lomba ini mengajarkan kita untuk makan kerupuk yang digantung dengan tali raffia dengan posisi tangan terbelenggu. Makin banyak kerupuk yang kita makan, maka kita bisa menjadi pemenang. Yang kuprihatinkan, sudah puluhan tahun kita melestarikan tradisi untuk "makan". Aku pernah ingat petuah seorang guru, katanya kita harus meneladani pepatah Yunani, "kita makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan".

Mungkinkah tradisi ini yang membuat bangsa kita menjadi bangsa yang konsumtif dan menjadi rebutan bangsa-bangsa asing untuk menanamkan dominasi ekonominya di Negara kita? Tangan terbelenggu melambangkan bahwa kita tidak pernah berdaya menghadapi kekuatan ekonomi bangsa lain. Kupikir masuk akal juga. Bayangkan, sejak aku kecil sampai aku dewasa saat ini, tradisi itu tidak pernah hilang, malah sekarang media massa ikut melestarikan tradisi itu dengan melakukan siaran langsung. Bagaimana dengan mental anak-anak yang tumbuh dengan tradisi seperti itu? Bukankah pikiran bawah sadarnya akan mempengaruhi caranya bertindak dikemudian hari?

Kupikir, lebih baik kita berlomba membuat kerupuk. Bayangkan, kerupuk itu popular sampai ke negeri Belanda sana. Aku masih ingat lagu jadul (jaman dulu) berbahasa Belanda yang menceritakan nikmatnya makan nasi goreng dengan lauk kerupuk. Jadi ada peluang bagi kita untuk mengekspor kerupuk ke Belanda kan? Bayangkan juga berapa puluh atau berapa juta orang yang dapat sejahtera hanya dari membuat kerupuk.

Jadi disini bukanlah kerupuknya yang menjadi masalah. Lomba makan kerupuk dengan tangan terbelenggu akan menjadikan kita sebagai konsumen kerupuk yang tidak berdaya. Sedangkan lomba membuat kerupuk akan menjadikan kita sebagai produsen kerupuk. Lebih nikmat mana? Bukankah orang yang merdeka itu harus mengisi kemerdekaannya sendiri?

 

  • Lomba Panjat Pinang

Tidak ada yang lebih menggelikan daripada lomba panjat pinang. Sudah tahu pohonnya licin karena dilumuri oli, tetapi kenapa masih dipanjat juga? Bukankah selama ini kita sekolah untuk menjadi pintar, bukan menjadi bodoh? Apakah orang yang merdeka itu hanya akan puas ketika ditertawakan oleh orang lain ketika gagal memanjat pohon pinang dan mendapatkan hadiahnya?

Kupikir kita ini bukan badut. Kemerdekaan tidak dapat diisi dengan pertunjukan badut. Kemerdekaan hanya bisa diisi dengan prestasi. Apalah artinya menang lomba panjat pohon pinang, jika hari berikutnya kita bukanlah pemenang di negeri sendiri.

Kupikir, bukankah lebih bermanfaat kalau kita mengadakan lomba panjat gunung dan mengolah kekayaan alam yang terkandung di gunung itu untuk kesejahteraan kita sendiri. Bukankah lebih bermanfaat jika kita mengadakan lomba menggali tanah untuk mendapatkan sumber daya alam dan mengelolanya untuk kepentingan anak cucu kita? Lomba ini tidak berat dan pasti ada pemenangnya karena jauh lebih berat memanjat pohon pinang yang dilumuri oli.

Aku selalu berpikir, mengapa kita selalu lupa dengan tujuan kemerdekaan yang sesungguhnya dan melakukan hal-hal bodoh untuk ditertawai bangsa sendiri? Mungkinkah karena setiap upacara bendera 17 Agustus kita tidak pernah paham apa makna proklamasi kemerdekaan?

 

  • Lomba Balap Karung

Ini juga lomba yang menggelikan. Bagaimana mungkin kita bisa mencapai garis finish dengan cepat jika kaki kita dibelenggu dengan karung? Mungkinkah lomba balap karung ini mencerminkan bangsa kita yang belum merdeka sepenuhnya? Sebab orang yang merdeka itu akan berlari cepat tanpa kaki yang terbelenggu. Mungkin jika kita mengganti balap karung dengan lomba lari cepat, 20 tahun lagi bangsa kita akan merajai lomba lari (atletik) diseluruh dunia!

Bagiku, lomba balap karung itu hanya pantas dipertontonkan untuk pertunjukan sirkus saja. Tidak pantas dipertontonkan untuk mengisi hari kemerdekaan. Bukankah sebagai bangsa yang merdeka kita harus bermental juara? Bukan bermental terbelenggu oleh apa yang kita perbuat sendiri?

Anak-anak kita tentu akan belajar dari apa yang kita lakukan dan menerapkannya dalam kehidupan mereka sendiri. Kupikir sudah saatnya kita mengubah tradisi "terbelenggu" ini menjadi tradisi bangsa yang merdeka dalam arti yang sebenarnya. Kita membutuhkan pahlawan-pahlawan untuk mengisi kemerdekaan, bukan membutuhkan badut-badut untuk ditertawakan pada peringatan hari kemerdekaan.

 

  • Lomba Tarik Tambang

Kalau kalian benar-benar sekolah, dimana logikanya lomba tarik tambang itu? Aku kadang melihat siaran televisi yang menayangkan seseorang dapat dicatat namanya di Guinness Book World of Record karena mampu menarik beban puluhan ton atau ratusan ton hanya dengan rambutnya atau giginya. Kupikir aku menaruh hormat pada mereka karena kekuatan fisiknya. Inilah seharusnya fisik yang dimiliki oleh orang-orang yang merdeka itu.

Kalau kita lomba tarik tambang itu yang kita tarik-tarik juga bangsa kita sendiri. Kita beradu otot dengan bangsa sendiri. Mungkinkah lomba tarik tambang ini yang mengilhami bangsa ini untuk selalu beradu otot dengan bangsa sendiri? Tidak ada sejarahnya pemenang lomba tarik tambang itu dicatat oleh Guinness Book World of Record. Bagaimana mungkin bangsa yang merdeka mengorbankan waktunya untuk melakukan sesuatu yang tidak berarti dimata dunia? Padahal kita memiliki potensi untuk membuka mata dunia?


Kupikir sudah saatnya kita menjadi merdeka dalam arti yang sebenarnya. Orang yang merdeka itu berpikir untuk dunia. Orang yang merdeka itu bertindak untuk kebesaran bangsanya. Orang yang merdeka itu menunjukkan prestasinya.

Tanggal 17 Agustus adalah tanggal yang keramat bagi kita untuk melahirkan pemikiran bagi dunia, melahirkan tindakan besar untuk bangsa kita dan saat yang tepat untuk menunjukkan prestasi kita. Hidup terlalu singkat untuk menertawakan badut-badut yang seumur hidupnya tidak pernah dicatat dengan tinta emas dalam sejarah dunia.


Ditulis tanggal 17 Agustus 2009 untuk Indonesia,

SURYONO EKOTAMA


Darah mudahku begitu bergelora seolah-olah menggerakkan samudera untuk mengirimkan gelombang kepada pejuang yang tengah tertidur panjang, membangunkan mereka dan menggulung mereka kedalam lautan supaya pandai berenang dan memenangkan perang melawan daratan.
Gelombang samudera itu akan mempertemukan pemuda kepada jiwa nenek moyangnya.

(Ekotama, 17 Agustus 2009)

 


Tuesday, 09 Jul 2019

PEMILU 2020 & SETERUSNYA

Pemilu serentak 2019 telah usai dengan berbagai problematikanya, meskipun sebenarnya problematika ini sifatnya klise, selalu terjadi berulang sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, supaya kita tidak memelihara kebodohan abadi dan bangsa kita cepat maju dan berkembang, penyelenggaraan Pemilu 2020 dan seterusnya harus dibenahi. Apa saja yang penting untuk dibenahi? Mari kita lihat uraiannya berikut ini:

MENGGUNAKAN ALAT BANTU MESIN
Sekarang jaman teknologi. Sebagian besar pekerjaan manual sudah tergantikan oleh mesin. Mesin dibuat untuk meringankan pekerjaan manusia. Demikian pula seharusnya pemungutan suara ini. Pemungutan suara yang dilakukan dengan bantuan mesin akan lebih efektif dan efisien. Caranya mudah saja kok. Warga negara yang mau memilih tinggal datang ke TPS, kemudian kemudian melakukan scan sidik jari atau retinanya. Setelah itu pemilih tinggal memilih gambar kontestan pemilu yang dipilihnya melalui layar atau dengan cara menekan tombol nomor. Selesai. Singkat sekali dan tidak bisa diulang. Data langsung masuk ke penyelenggara pemilu tingkat pusat. Bayangan saya, mesin pemilu ini sesederhana mesin absensi sidik jari atau mesin ATM (ada layarnya). Bahkan saya berharap, suatu ketika nanti pemungutan suara dapat dilakukan melalui handphone, sehingga pemilih dapat leluasa menggunakan hak pilihnya tanpa harus libur dan mengorbankan produktifitasnya.
Apa manfaatnya cara seperti ini?
Pertama, petugas KPPS tidak kelelahan, karena pekerjaan manualnya terbantu mesin, sehingga dapat terhindar dari sakit atau kematian yang tidak perlu. Jumlah petugas juga dapat diminimalisir, sehingga sangat efisien dari sisi biaya dan mengurangi tingkat human error.
Kedua, proses pemilu lebih cepat selesai, sehingga tidak mengganggu stabilitas ekonomi dan politik. Tidak ada lagi sistem perhitungan bertingkat (berjenjang) yang berpotensi menimbulkan keresahan dan konflik.
Ketiga, mengurangi penggunaan kertas (go-green). Ramah lingkungan bukan?
Keempat, dalam jangka panjang sangat hemat biaya, karena mesin pemilu seperti ini dapat digunakan berkali-kali di pemilu berikutnya (bukan sekali pakai seperti kertas dan kardus).
Kelima, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mengalami kemajuan, dari bangsa tradisional yang masih melakukan pemilihan secara manual dan selalu terjebak pada masalah yang sama, menjadi bangsa maju yang mampu memanfaatkan teknologi dan mampu meminimalisir masalah klise yang muncul. Ini lompatan kemajuan yang luar biasa.
Bagi orang yang anti kemajuan, pasti akan menolak dengan alasan tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini. Mengapa cara berpikirnya tidak dibalik? Jika tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini, bagaimana caranya supaya semua daerah dapat menggunakan teknologi maju seperti ini? Apa yang harus dilakukan? Sejelek-jeleknya, jika masih ada yang manual, prosentasenya tidak lebih dari 25%.

Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Copyright 2009 - 2020 :: ekotama. All Rights Reserved.