.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Thursday, 02 May 2019
Permohonan Sharing Knowledge
Muhammad Alfis Budi Sanjaya
Selamat Sore Apakah memungkinkan, kami mengundang Bapak untuk melakukan Sharing Knowledge di Perusahaan? Terima kasih Best Regards Muhammad Alfis
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 2
Total Pengunjung: 1183971

Sunday, 24 Jan 2010
EMPAT KAPAL INDUK

EMPAT KAPAL INDUK


Aku masih ingat. Ketika duduk di bangku SD dahulu, di dinding kelasku selalu terpampang peta Indonesia dengan ukuran yang besar. Bahkan tanganku saja seolah tidak mampu meraih ujung satunya saking panjangnya peta itu yang membujur dari arah barat ke timur. Sebagai anak-anak yang baru tumbuh jiwanya, sungguh takjub aku melihat negaraku yang demikian luasnya itu.

Lebih takjub lagi ketika kucermati ternyata peta itu sebagian besar berwarna biru. Warna biru adalah warna kesukaanku. Belakangan aku baru tahu bahwa Indonesia itu sebagian besar wilayahnya adalah wilayah lautan yang digambarkan dengan warna biru, bukan wilayah daratan yang digambarkan dengan warna coklat atau hijau. Namun karena dari dulu aku sudah suka warna biru, kupikir Indonesia itu memang lebih indah dengan warna dominan biru. Warna biru ini sama dari ujung barat sampai ujung timur, tidak ada bedanya, meskipun didalamnya mungkin ada warna coklat atau hijau. Sedangkan warna coklat atau hijau itu tidaklah sama, kedua warna ini menjadi pembeda yang tegas dan sulit disatukan.

Ketika duduk di bangku SD itu pula aku diajari guru-guruku untuk menyanyikan lagu nenek moyangku seorang pelaut. Aku sendiri tidak pernah tahu apa itu laut, karena orang tuaku tidak pernah mengajakku melihat lautan. Aku baru tahu lautan untuk pertama kalinya ketika aku menyeberangi Selat Bali pada saat SMA. Saat itulah pertama kali kulihat laut dan kapal laut, sekaligus menyeberangi laut untuk pertama kalinya. Meskipun tidak tahu apa itu laut, mendengar kata lautan itu seakan melegakan nafasku yang seringkali sesak terhimpit tembok sekolah.

Bahkan ketika guru-guruku mengajariku mengenal samudera, bulu kudukku berdiri. Seolah-olah aku telah menemukan tempat tinggalku yang sebenarnya. Meskipun selanjutnya aku kecewa. Guru-guruku tidak pernah mampu menjawab pertanyaanku, apa sebenarnya isi samudera itu. Mereka hanya bisa menggambarkan betapa luasnya samudera, tetapi mereka tidak pernah mengajariku bagaimana menguasai samudera sebagaimana nenek moyangku dahulu. Yang ada, aku hanya disuruh berenang di kolam renang yang dari karcis kolam renang yang kubeli guruku mendapatkan tambahan uang saku.


Indonesia itu negara yang berwarna biru dari ujung barat sampai ujung timur. Warna ini tidak akan pudar sampai kapanpun. Sedangkan warna coklat, kuning, hijau atau putih itu akan pudar menjadi warna merah karena kita melupakan sejarah.

(Ekotama, 10 September 2009)


Ketika aku duduk di bangku SMP, kupelajari sejarah. Aku suka mempelajari kebesaran nenek moyangku. Kupikir darah mereka mengalir di tubuhku. Inilah warisan paling berharga yang pantas kusyukuri. Dalam sejarah itu aku belajar bagaimana Samudera Pasai, Sriwijaya, Kutai dan Majapahit menjadi negara besar pada masanya. Ternyata semuanya punya armada perahu. Mereka tidak punya kereta api, apalagi jalan tol, atau pesawat jet. Tetapi mereka menjadi besar karena pergaulan mereka seluas samudera.

Bahkan kudapati jauh sebelum itu, nenek moyangku telah menguasai dunia dengan membuat perahu dan berlayar ke mancanegara seperti bukti otentik yang kudapati di Candi Borobudur. Disitulah kutemukan relief Samudera Raksa. Candi itu dibangun abad ke-8 Masehi, 12 abad jauhnya dari saat ini. Mungkinkah nenek moyangku membangun Borobudur setelah mendapat ilmu dari bangsa Mesir atau bangsa Maya yang membangun piramida? Kulihat bangunan itu serupa, meski tak sama. Dulu tidak ada pesawat jet, jadi pasti mereka berkelana melalui samudera.

Tahukah engkau bahwa Singasari yang kemudian dilanjutkan oleh Majapahit bisa menjadi negara besar yang mempersatukan Nusantara setelah mereka melakukan ekspedisi melalui laut? Kamu tidak usah heran! Mereka sudah tahu bahwa mempersatukan Nusantara itu hanya bisa melalui laut. Jika ingin menguasai Nusantara, maka kuasailah samuderanya!


Nenek moyangku seorang pelaut, mengajarkan kepadaku dan kepadamu dua ilmu :
Jika ingin menguasai Nusantara, kuasailah samuderanya!
Jika ingin menguasai Indonesia, kuasailah lautannya!

(Ekotama, 10 September 2009)


Sejarah sudah membuktikan masa keemasannya. Apa yang kita lakukan saat ini? Kita sibuk membangun jalan bebas hambatan yang tidak lama kemudian menjadi jalanan macet dan penuh hambatan. Kita membangun jembatan yang menghubungkan antar pulau padahal pulau-pulau kita senantiasa bergerak menjauh atau mendekat mengikuti pergerakan lempengan bumi dan lautan kita selalu bergolak. Kita membabat hutan untuk membangun rumah tinggal, padahal rumah tinggal kita yang sebenarnya diatas lautan. Kita sibuk mencari harta karun diatas tanah, padahal harta karun kita tersimpan dengan rapinya pada kedalaman samudera.

Belanda menguasai Nusantara karena mereka berani berlayar ke negeri ini. Portugis menguasai Nusantara juga karena mereka berani berlayar ke negeri ini. Inggris menguasai Nusantara karena mereka membelah samudera menuju Nusantara. Bahkan saudara tua kita Jepang menguasai negara kita karena mereka mampu mendaratkan tentaranya lewat laut.

Sejarah tidak pernah habis memberikan pada kita sebuah pelajaran sederhana. Jika ingin menguasai Indonesia, kuasailah lautnya! Kamu tidak paham juga ketika Malaysia mencaplok pulau-pulau kita satu per satu, maka sebenarnya ia telah mempelajari sejarah Nusantara dengan baik. Mereka telah menguasai cara mudah untuk mendapatkan harta karun yang berserak di samudera kita. Itulah bangsa yang hidup dan berkembang, bukan bangsa pemalas yang selalu minta belas kasihan upah dinaikkan dan mencari sedekah di jalan-jalan!

Sejak duduk di bangku SMA, aku sudah berpikir tentang hal ini. Untuk menguasai Indonesia itu harus menguasai lautannya. Maka kupelajari segala macam cara. Cara yang paling sederhana adalah membangun kapal induk untuk ditempatkan di empat penjuru strategis untuk menjaga sudut-sudut wilayah negara ini. Dua kapal ditempatkan di Samudera Hindia, satu disebelah barat dekat Sumatera dan Jawa dan satu disebelah timur dekat Timor Leste. Satu kapal ditempatkan di Laut Cina Selatan dan satu kapal ditempatkan di Samudera Pasifik. Kalau masing-masing kapal punya 5000 awak kapal, maka di empat penjuru itu kita dikelilingi oleh 20.000 garda bangsa. Kalau masing-masing kapal punya 20 pesawat tempur, maka kita punya 80 garuda bangsa. Jika masing-masing kapal dikawal oleh 4 kapal selam, maka kita punya 16 hiu bangsa. Jika masing-masing kapal dikawal oleh 4 kapal perusak (destroyer), maka kita punya 16 macan bangsa.


Sang Saka Merah Putih akan berkibar sempurna dan dihormati bangsa-bangsa jika dikibarkan di tengah samudera dengan dijaga setidaknya 20.000 garda bangsa, 80 garuda bangsa, 16 hiu bangsa dan 16 macan bangsa! Bukan dikibarkan dan ditinggal pergi oleh Paskibraka!

(Ekotama, 10 September 2009)


Dengan kapal induk, kita akan mengibarkan sang saka merah putih diseluruh wilayah lautan kita. Dengan kapal induk, pencuri-pencuri ikan itu akan terkencing-kencing di celananya sebelum sempat menebar jala. Dengan kapal induk, tentara diraja yang suka berpesiar itu akan membatalkan pesiarnya bahkan sebelum sempat memegang peta. Dengan kapal induk pula kita bisa menjaga perdamaian di asia bahkan di dunia. Tiada seorangpun yang cukup bodoh untuk menyepelekan Indonesia di ketiaknya.

Inilah yang kumaksud dengan kedaulatan negara. Kedaulatan negara itu tidak hanya tercantum di dalam undang-undang dasar yang sebagian dari kita sudah lupa wujudnya. Kedaulatan negara itu adalah penguasaan atas samudera yang diatasnya terhampar pulau-pulau kita. Kedaulatan negara adalah harga diri bangsa yang dibawahnya terletak pondasi yang terbuat dari kepala-kepala tikus koruptor se-Nusantara.

Kamu yang tidak punya masa depan akan menganggap aku gila. Biarlah aku gila demi masa depan bangsaku, demi masa depan anak cucuku dan anak cucumu! Kalau bangsa Jepang saja bisa menguasai lautan, mengapa kita tidak bisa menguasai samudera. Padahal yang nenek moyangnya seorang pelaut itu kan kita? Tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha! Kita ini generasi muda! Apa susahnya kita bekerja keras membangun kapal induk versi nusantara? Bukankah kita sudah bisa bikin kapal phinisi? Kapal phinisi itu kalau dibesarkan 1000 kali lipat kan bisa jadi kapal induk juga?

Sejak kulihat Samudera Raksa di Borobudur itu, aku sudah bisa menggambarkan bagaimana wujud kapal induk kita. Namun aku butuh bantuan kalian yang tahu bagaimana menggambar teknis, aku butuh kalian yang bisa mendesain mesin, aku butuh kalian yang bisa menempa baja untuk mengapung di samudera, aku butuh kalian para pahlawan samudera yang akan kukalungi bunga samudera!

Hidup adalah perjuangan, kawan! Kukira kita akan bahagia mencatatkan sejarah untuk anak cucu kita. Jangan tiru yang tua-tua dan terkungkung di istana yang sebenarnya sudah jatuh ke tangan penguasa yang sebenarnya. Selesai membaca tulisan ini, kuutus kalian mengunjungi Borobudur untuk melihat Samudera Raksa. Setelah itu bekerjalah denganku membangun masa depan untuk anak cucu kita. Ayo kita bangun kapal induk kita yang akan mengibarkan merah putih ditengah samudera!


Merdeka!
(hanya untuk pejuang-pejuang Indonesia yang didalam tubuhnya tersimpan gelora samudera, bukan koruptor-koruptor Indonesia yang didalam tubuhnya tersimpan belatung dan siksa neraka)


Yogyakarta, 4 September 2009


SURYONO EKOTAMA.

 

 


Tuesday, 09 Jul 2019

PEMILU 2020 & SETERUSNYA

Pemilu serentak 2019 telah usai dengan berbagai problematikanya, meskipun sebenarnya problematika ini sifatnya klise, selalu terjadi berulang sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, supaya kita tidak memelihara kebodohan abadi dan bangsa kita cepat maju dan berkembang, penyelenggaraan Pemilu 2020 dan seterusnya harus dibenahi. Apa saja yang penting untuk dibenahi? Mari kita lihat uraiannya berikut ini:

MENGGUNAKAN ALAT BANTU MESIN
Sekarang jaman teknologi. Sebagian besar pekerjaan manual sudah tergantikan oleh mesin. Mesin dibuat untuk meringankan pekerjaan manusia. Demikian pula seharusnya pemungutan suara ini. Pemungutan suara yang dilakukan dengan bantuan mesin akan lebih efektif dan efisien. Caranya mudah saja kok. Warga negara yang mau memilih tinggal datang ke TPS, kemudian kemudian melakukan scan sidik jari atau retinanya. Setelah itu pemilih tinggal memilih gambar kontestan pemilu yang dipilihnya melalui layar atau dengan cara menekan tombol nomor. Selesai. Singkat sekali dan tidak bisa diulang. Data langsung masuk ke penyelenggara pemilu tingkat pusat. Bayangan saya, mesin pemilu ini sesederhana mesin absensi sidik jari atau mesin ATM (ada layarnya). Bahkan saya berharap, suatu ketika nanti pemungutan suara dapat dilakukan melalui handphone, sehingga pemilih dapat leluasa menggunakan hak pilihnya tanpa harus libur dan mengorbankan produktifitasnya.
Apa manfaatnya cara seperti ini?
Pertama, petugas KPPS tidak kelelahan, karena pekerjaan manualnya terbantu mesin, sehingga dapat terhindar dari sakit atau kematian yang tidak perlu. Jumlah petugas juga dapat diminimalisir, sehingga sangat efisien dari sisi biaya dan mengurangi tingkat human error.
Kedua, proses pemilu lebih cepat selesai, sehingga tidak mengganggu stabilitas ekonomi dan politik. Tidak ada lagi sistem perhitungan bertingkat (berjenjang) yang berpotensi menimbulkan keresahan dan konflik.
Ketiga, mengurangi penggunaan kertas (go-green). Ramah lingkungan bukan?
Keempat, dalam jangka panjang sangat hemat biaya, karena mesin pemilu seperti ini dapat digunakan berkali-kali di pemilu berikutnya (bukan sekali pakai seperti kertas dan kardus).
Kelima, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mengalami kemajuan, dari bangsa tradisional yang masih melakukan pemilihan secara manual dan selalu terjebak pada masalah yang sama, menjadi bangsa maju yang mampu memanfaatkan teknologi dan mampu meminimalisir masalah klise yang muncul. Ini lompatan kemajuan yang luar biasa.
Bagi orang yang anti kemajuan, pasti akan menolak dengan alasan tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini. Mengapa cara berpikirnya tidak dibalik? Jika tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini, bagaimana caranya supaya semua daerah dapat menggunakan teknologi maju seperti ini? Apa yang harus dilakukan? Sejelek-jeleknya, jika masih ada yang manual, prosentasenya tidak lebih dari 25%.

Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Copyright 2009 - 2020 :: ekotama. All Rights Reserved.