.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Thursday, 02 May 2019
Permohonan Sharing Knowledge
Muhammad Alfis Budi Sanjaya
Selamat Sore Apakah memungkinkan, kami mengundang Bapak untuk melakukan Sharing Knowledge di Perusahaan? Terima kasih Best Regards Muhammad Alfis
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 1
Total Pengunjung: 1183971

Sunday, 24 Jan 2010
KERUMUNAN UMAT MENCARI SEDEKAH

KERUMUNAN UMAT MENCARI SEDEKAH


Sudah beberapa tahun terakhir ini hanya kusaksikan lebaran lewat televisi. Kupikir itu lebih aman dan nyaman dibandingkan dengan harus berjibaku bertaruh nyawa dan membuang-buang tenaga di ladang pembantaian. Menurutku, silaturahmi masih bisa dilakukan lebih cepat dan lebih aman dengan sebuah telepon genggam, sebuah benda ajaib, souvenir dari abad 21. Benda ini betul-betul menghubungkan orang, membuat dunia serasa hanya dalam jangkauan tangan. Luar biasa anugerah Tuhan ini.

Ada satu kotak ajaib yang merupakan souvenir dari abad 20. Namanya televisi. Kemajuan teknologi informasi membuat aku dapat mengakses berita-berita terbaru diseluruh dunia melalui saluran televisi ini. Bentuknya hanyalah kotak biasa. Harganya pun sangat murah. Bagi kebanyakan orang, benda ini mungkin tidak lebih dari sebuah benda mainan yang dapat menghibur mereka. Namun bagiku, benda inilah yang telah berjasa memperlihatkan kepadaku dunia, sebelum dunia memperlihatkan dirinya kepadaku secara sukarela. Aku mensyukurinya.

Benda ini pulalah yang memperlihatkan kepadaku secara nyata peristiwa-peristiwa tragis menusuk hati. Tidak masuk akal, tetapi inilah realita. Disatu sisi kemanusiaanku tersentuh, namun disisi yang lain kegeramanku bertambah. Setiap lebaran tiba, yang kulihat bukanlah kemenangan umat merayakan hari raya. Yang kulihat adalah membanjirnya umat menjadi pengemis dan mengharap sedekah. Kulihat pula ribuan orang berduyun-duyun, berdesak-desakan dan akhirnya saling injak satu sama lain hanya demi mendapatkan barang dan uang yang tidak sepadan dengan nyawanya. Disini pula kulihat kecongkakan orang-orang yang merasa dirinya pemimpin dan orang-orang yang merasa kaya di dunia. Dengan kedok membagi-bagikan sedekah mereka rela mempertaruhkan nyawa ribuan umatnya. Mereka rela mengajarkan ajaran sesat di dunia bahwa menukar nyawa dengan barang dan uang yang tiada harganya itu lebih mulia.


Sedekah paling mulia adalah ilmu yang menjadikan umat kaya raya : kaya pikiran, kaya hati dan kaya hidupnya.

(Ekotama, 23 September 2009)


Jikalau bangsa ini merasa memiliki martabat dan kehormatan sebagai bangsa yang merdeka, mengapa pemimpin dan orang-orang kayanya masih berpikiran picik sebagaimana layaknya penjajah? Mungkinkah mereka menjadi bangga melihat kerumunan umat mengharapkan sesuatu darinya? Bukankah sedekah lebih disukai Allah jika dilakukan diam-diam tanpa harus dipamerkan ke seluruh dunia? Mengapa ulama hanya diam saja melihat umatnya terjepit, terhimpit dan meregang nyawa demi harta yang tiada seberapa? Mengapa ulama hanya memikirkan halal atau haram namun tidak memikirkan bagaimana mengurus perut umat?

Aku yakin, seandainya lebaran tahun ini terjadi sebulan sebelum pemilu raya, maka rakyat akan sejahtera. Apa sebabnya? Sebab orang-orang yang merasa dirinya berkuasa dan berambisi mendapatkan kekuasaan demi perutnya akan sukarela membagikan hartanya, meskipun barangkali harta itu hasil ngutang ke tukang kredit. Umat bisa mendapatkan bagian secara rata, atau mungkin malah makin menderita?!? Yang jelas, lebaran tahun ini terjadi sesudah pemilu raya. Orang-orang yang merasa dirinya pemimpin atau orang kaya yang membagikan hartanya hanya sedikit. Namun tetap saja menimbulkan celaka, mungkin tidak sampai menghilangkan nyawa, namun cukuplah luka-luka itu menyayat hati.

Umat yang seharusnya sejahtera menurut konstitusi kita ternyata masih banyak yang melarat dengan suksesnya, justru ketika sebagian dari bangsanya merasa dirinya telah menjadi pemimpin dan orang kaya. Dimanakah otak dan hati kita? Mungkinkah dibalik sedekah tersedia surga jika tumbalnya nyawa? Apakah sedekah itu harus berupa harta yang menyebabkan luka-luka? Mengapa tiada seorangpun anak bangsa yang berpikir bahwa sedekah yang paling mulia adalah memberikan ilmu supaya umat menjadi kaya? Mungkinkah mereka ketakutan jika umat menjadi kaya mereka akan menjadi miskin, sehingga mereka pelit membagi resepnya menjadi kaya?


Sebaik-baik sedekah adalah yang memajukan umat, bukan menimbulkan celaka dan hilangnya nyawa.

(Ekotama, 23 September 2009)


Apa yang kutulis ini adalah realita yang kulihat dengan mata kepala dan kudengar dengan telinga, meskipun luka di hati menganga. Aku mensyukurinya. Itulah sebabnya kuberitahukan kepadamu tentang impianku menjadikan umatku majikan terdidik di dunia. Sebab jika semua umatku telah menjadi majikan terdidik di dunia, tidak akan ada lagi sedekah luka-luka atau dibayar nyawa. Umatku akan menjadi bangsa yang sejahtera dan mendapatkan kehormatan di dunia. Umatku akan menjadi orang kaya dalam arti yang sebenarnya.

Ketika tiada lagi yang perlu kita beri sedekah didalam negeri, maka kita akan memberikan rejeki kepada anak-anak bangsa lain yang menjadi korban perang atau korban ketidakberuntungan politik yang menjadikan negaranya belum sejahtera. Ketika kita sudah bisa menyantuni bangsa lain, kupikir Indonesia inilah surga dalam arti yang sebenarnya. Disini tidak akan ada lagi bom yang diledakkan oleh orang-orang miskin. Tidak ada lagi pembunuhan sistemik dengan menyumpalkan sedekah kepada umat. Yang ada adalah tumbuhnya anak-anak kita yang menghuni istananya dengan bangga karena tidak berlumur dosa orang tuanya.

Itulah sebabnya kutulis ilmu-ilmu menjadi kaya. Barangsiapa mempelajari dan menerapkannya dapat berpotensi untuk memperoleh semua cita-cita. Siapapun boleh berebut ilmu ini. Tidak akan ada yang terluka atau kehilangan nyawa. Bahkan siapapun yang berhasil mempelajarinya akan mendapatkan keutamaan di dunia, pikirannya akan menjadi kaya, hatinya akan menjadi kaya dan kehidupannya akan menjadi kaya. Inilah sebaik-baik sedekah yang memajukan umat.


Barangsiapa memberikan sedekah yang membuatnya makin kaya dan membuat umatnya menderita, maka ia adalah penjahat umat yang wajib mendapatkan nerakanya di dunia. Barangsiapa bijaksana, ia akan membuat umatnya menjadi kaya dan mengajaknya bersedekah untuk anak-anak bangsa lain yang belum sejahtera.

(Hukum Sedekah, Ekotama, 23 September 2009)


Lantas bagaimana dengan pemimpin dan orang kaya? Mereka akan masuk surga setelah umatnya sejahtera, bukan karena sedekah yang memberi umat celaka. Tentu tidaklah mudah mencapai posisi setinggi ini. Namun siapapun orangnya, ia wajib berusaha. Bangsa ini memiliki tradisi sejahtera sejak masa lampau, bukan tradisi mengemis mengharapkan sedekah yang merupakan ajaran sesat sejak jaman penjajahan. Maka bangsa ini membutuhkan kalian untuk mendidik umat mencapai kesejahteraannya.

Bagimu, gunakanlah otakmu. Jangan sekali-sekali memberikan sedekah jika hal itu hanya membuatmu makin kaya dan umatmu menderita.


Merdeka!
(dipersembahkan untuk umat yang merdeka, bukan yang suka ngalap berkah atau mengharapkan sedekah tiap hari raya)


SURYONO EKOTAMA

 

 

 


Tuesday, 09 Jul 2019

PEMILU 2020 & SETERUSNYA

Pemilu serentak 2019 telah usai dengan berbagai problematikanya, meskipun sebenarnya problematika ini sifatnya klise, selalu terjadi berulang sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, supaya kita tidak memelihara kebodohan abadi dan bangsa kita cepat maju dan berkembang, penyelenggaraan Pemilu 2020 dan seterusnya harus dibenahi. Apa saja yang penting untuk dibenahi? Mari kita lihat uraiannya berikut ini:

MENGGUNAKAN ALAT BANTU MESIN
Sekarang jaman teknologi. Sebagian besar pekerjaan manual sudah tergantikan oleh mesin. Mesin dibuat untuk meringankan pekerjaan manusia. Demikian pula seharusnya pemungutan suara ini. Pemungutan suara yang dilakukan dengan bantuan mesin akan lebih efektif dan efisien. Caranya mudah saja kok. Warga negara yang mau memilih tinggal datang ke TPS, kemudian kemudian melakukan scan sidik jari atau retinanya. Setelah itu pemilih tinggal memilih gambar kontestan pemilu yang dipilihnya melalui layar atau dengan cara menekan tombol nomor. Selesai. Singkat sekali dan tidak bisa diulang. Data langsung masuk ke penyelenggara pemilu tingkat pusat. Bayangan saya, mesin pemilu ini sesederhana mesin absensi sidik jari atau mesin ATM (ada layarnya). Bahkan saya berharap, suatu ketika nanti pemungutan suara dapat dilakukan melalui handphone, sehingga pemilih dapat leluasa menggunakan hak pilihnya tanpa harus libur dan mengorbankan produktifitasnya.
Apa manfaatnya cara seperti ini?
Pertama, petugas KPPS tidak kelelahan, karena pekerjaan manualnya terbantu mesin, sehingga dapat terhindar dari sakit atau kematian yang tidak perlu. Jumlah petugas juga dapat diminimalisir, sehingga sangat efisien dari sisi biaya dan mengurangi tingkat human error.
Kedua, proses pemilu lebih cepat selesai, sehingga tidak mengganggu stabilitas ekonomi dan politik. Tidak ada lagi sistem perhitungan bertingkat (berjenjang) yang berpotensi menimbulkan keresahan dan konflik.
Ketiga, mengurangi penggunaan kertas (go-green). Ramah lingkungan bukan?
Keempat, dalam jangka panjang sangat hemat biaya, karena mesin pemilu seperti ini dapat digunakan berkali-kali di pemilu berikutnya (bukan sekali pakai seperti kertas dan kardus).
Kelima, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mengalami kemajuan, dari bangsa tradisional yang masih melakukan pemilihan secara manual dan selalu terjebak pada masalah yang sama, menjadi bangsa maju yang mampu memanfaatkan teknologi dan mampu meminimalisir masalah klise yang muncul. Ini lompatan kemajuan yang luar biasa.
Bagi orang yang anti kemajuan, pasti akan menolak dengan alasan tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini. Mengapa cara berpikirnya tidak dibalik? Jika tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini, bagaimana caranya supaya semua daerah dapat menggunakan teknologi maju seperti ini? Apa yang harus dilakukan? Sejelek-jeleknya, jika masih ada yang manual, prosentasenya tidak lebih dari 25%.

Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Copyright 2009 - 2020 :: ekotama. All Rights Reserved.