.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Thursday, 02 May 2019
Permohonan Sharing Knowledge
Muhammad Alfis Budi Sanjaya
Selamat Sore Apakah memungkinkan, kami mengundang Bapak untuk melakukan Sharing Knowledge di Perusahaan? Terima kasih Best Regards Muhammad Alfis
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 5
Total Pengunjung: 1183954

Sunday, 24 Jan 2010
TARI PENDET

TARI PENDET
Promosikan Produkmu!

 

Bukankah sudah kukatakan, bahwa :

Jika Anda tidak bicara,
tiada seorangpun mengenal Anda!

(Hukum Promosi Murah Meriah, Ekotama, buku Trik Jitu Promosi Murah Meriah, Cemerlang Publishing, 2009, halaman 3)


Oleh karena itu, wajib bagimu untuk mengatakan siapa dirimu. Tunjukkan kepada dunia bahwa kita memiliki hak yang kita warisi dari nenek moyang kita. Tunjukkan kepada anak cucu kita bahwa kita telah berbuat yang terbaik untuk masa depan mereka! Tunjukkan kepada siapapun yang memiliki mata di dunia bahwa tari pendet adalah kekayaan dan lambang kejayaan nusantara!

Aku hanya seorang wirausahawan biasa yang hidup bukan dari pajak yang dibayarkan rakyatku. Aku hidup karena menjual potensi diriku dan potensi lingkungan di sekitarku. Yang kutahu, supaya calon konsumen itu tahu tentang produk dan usaha kita, kita musti mempromosikannya. Mustahil produk atau usaha yang tidak pernah dipromosikan itu akan mendatangkan pelanggan loyal. Masih ingat guru kita mengajarkan pepatah "tak kenal maka tak sayang"? Ataukah kita sudah lupa?

Sejarah membuktikan :
kita suka terpecah belah karena kekuasaan,
kita jauh dari sejahtera karena suka bermalas-malasan.

(Ekotama, Agustus 2009)


Oleh karena itu sudah selayaknya jika kita punya dagangan wisata Bali, kita mempromosikan Bali dengan daya tarik wisata alam dan tarian pendet sebagai tarian penyambut selamat datang. Harga sebuah handycam untuk merekam tari pendet tentulah sangat murah dibandingkan dengan harga diri bangsa. Bahkan jikalau kita membuat video klip sekalipun dan menayangkannya di situs internet, biayanya tentu lebih murah dibandingkan biaya pembelian mobil dinas seorang pejabat di negara kita.

Ketika ada bangsa lain yang dengan kreatifitasnya sendiri mempromosikan tari pendet untuk mendatangkan wisatawan bagi negerinya, kita seakan kebakaran jenggot. Bukankah kita suka kebakaran jenggot berkali-kali dan tidak pernah belajar dari pengalaman itu? Bukan soal kurangajarnya bangsa lain itu, tetapi lihatlah dirimu sendiri. Apa yang sudah kamu lakukan? Pernahkah kamu punya kreatifitas untuk mempromosikan apa yang kamu miliki kepada orang lain?

Kita terlalu sibuk membagi-bagi kekuasaan untuk perut kita sendiri. Kapan kita akan berpikir untuk kejayaan bangsa kita? Setelah kekayaan bangsa kita dijarah bangsa lain? Terlambat, Bung! Sejarah membuktikan bahwa kita suka terpecah belah karena kekuasaan. Sejarah juga membuktikan bahwa kita jauh dari sejahtera karena suka bermalas-malasan.

Aku dilahirkan ke dunia dengan darah merah membara dan tulang putih. Aku dilahirkan ke dunia bukan dengan darah biru. Sejak aku lahir sampai aku mati nanti, merah putih adalah jiwaku.

(Ekotama, Agustus 2009)


Kekayaan bangsa kita yang diklaim negara lain justru terjadi pada saat kita sedang berpesta pora merayakan hari kemerdekaan ke-64, adalah sebuah pukulan KO yang tidak terelakkan tetapi sekaligus juga memalukan! Bagaimana mungkin bangsa yang sedang berpesta pora karena merasa sudah merdeka justru kekayaannya dicuri pada saat merayakan hari kemerdekaannya? Apakah kita tidak punya alarm anti maling? Bukankah negara kita itu disesaki dengan jutaan sarjana yang berpotensi menjaga kekayaan dan mendatangkan kesejahteraan untuk bangsa ini? Bukankah bangsa kita memiliki jutaan politisi yang katanya memiliki program kesejahteraan rakyat paling ampuh di Asia? Dimana anak muda yang menjaga bangsa ini? Apakah generasi muda kita terlalu lemah untuk berbicara, kalah lantang dibandingkan dengan generasi tua yang sudah loyo dimakan jaman?

Aku menulis bagian ini karena jiwaku yang terkoyak. Sakitnya melebihi sakit karena disiksa secara fisik. Aku dilahirkan kedunia dengan darah merah membara dan tulang putih. Aku dilahirkan kedunia bukan dengan darah biru. Sejak lahir sampai aku mati, merah putih adalah jiwaku. Tidak akan kurelakan seorangpun mencuri dari bangsaku. Tidak akan kubiarkan bangsaku merana karena penjajahan model baru. Itulah sebabnya aku mengajakmu menjadi majikan terdidik, supaya kamu dapat mensejahterakan bangsamu!

Hei, anak-anak muda diseluruh Indonesia! Gelorakan semangat membara untuk berkarya! Lihatlah kekayaan yang dikaruniakan Tuhan disekelilingmu! Tajamkan penglihatanmu! Berkreasilah sebebas-bebasnya layaknya bangsa yang merdeka untuk mempromosikan kekayaan bangsamu! Sudah kubikinkan buku untuk menuntunmu!

Merah putih mengalir di tubuhmu, lebih baik mati berkalang tanah daripada dijajah.

(Ekotama, Agustus 2009)


Kukira pesan ini sudah cukup jelas untuk kamu mengerti. Bukankah guru-gurumu sudah mengajarimu membaca, menulis dan berhitung. Ayo kita lakukan!


Pesan ini kutulis di sebuah kota perjuangan, Yogyakarta, pada dini hari tanggal 25 Agustus 2009, supaya kamu tahu bahwa orang merdeka pun harus berjuang untuk mempertahankan kemerdekaannya.

 

SURYONO EKOTAMA.

 

 


Tuesday, 09 Jul 2019

PEMILU 2020 & SETERUSNYA

Pemilu serentak 2019 telah usai dengan berbagai problematikanya, meskipun sebenarnya problematika ini sifatnya klise, selalu terjadi berulang sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, supaya kita tidak memelihara kebodohan abadi dan bangsa kita cepat maju dan berkembang, penyelenggaraan Pemilu 2020 dan seterusnya harus dibenahi. Apa saja yang penting untuk dibenahi? Mari kita lihat uraiannya berikut ini:

MENGGUNAKAN ALAT BANTU MESIN
Sekarang jaman teknologi. Sebagian besar pekerjaan manual sudah tergantikan oleh mesin. Mesin dibuat untuk meringankan pekerjaan manusia. Demikian pula seharusnya pemungutan suara ini. Pemungutan suara yang dilakukan dengan bantuan mesin akan lebih efektif dan efisien. Caranya mudah saja kok. Warga negara yang mau memilih tinggal datang ke TPS, kemudian kemudian melakukan scan sidik jari atau retinanya. Setelah itu pemilih tinggal memilih gambar kontestan pemilu yang dipilihnya melalui layar atau dengan cara menekan tombol nomor. Selesai. Singkat sekali dan tidak bisa diulang. Data langsung masuk ke penyelenggara pemilu tingkat pusat. Bayangan saya, mesin pemilu ini sesederhana mesin absensi sidik jari atau mesin ATM (ada layarnya). Bahkan saya berharap, suatu ketika nanti pemungutan suara dapat dilakukan melalui handphone, sehingga pemilih dapat leluasa menggunakan hak pilihnya tanpa harus libur dan mengorbankan produktifitasnya.
Apa manfaatnya cara seperti ini?
Pertama, petugas KPPS tidak kelelahan, karena pekerjaan manualnya terbantu mesin, sehingga dapat terhindar dari sakit atau kematian yang tidak perlu. Jumlah petugas juga dapat diminimalisir, sehingga sangat efisien dari sisi biaya dan mengurangi tingkat human error.
Kedua, proses pemilu lebih cepat selesai, sehingga tidak mengganggu stabilitas ekonomi dan politik. Tidak ada lagi sistem perhitungan bertingkat (berjenjang) yang berpotensi menimbulkan keresahan dan konflik.
Ketiga, mengurangi penggunaan kertas (go-green). Ramah lingkungan bukan?
Keempat, dalam jangka panjang sangat hemat biaya, karena mesin pemilu seperti ini dapat digunakan berkali-kali di pemilu berikutnya (bukan sekali pakai seperti kertas dan kardus).
Kelima, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mengalami kemajuan, dari bangsa tradisional yang masih melakukan pemilihan secara manual dan selalu terjebak pada masalah yang sama, menjadi bangsa maju yang mampu memanfaatkan teknologi dan mampu meminimalisir masalah klise yang muncul. Ini lompatan kemajuan yang luar biasa.
Bagi orang yang anti kemajuan, pasti akan menolak dengan alasan tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini. Mengapa cara berpikirnya tidak dibalik? Jika tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini, bagaimana caranya supaya semua daerah dapat menggunakan teknologi maju seperti ini? Apa yang harus dilakukan? Sejelek-jeleknya, jika masih ada yang manual, prosentasenya tidak lebih dari 25%.

Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Copyright 2009 - 2020 :: ekotama. All Rights Reserved.