.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Friday, 14 May 2021
Mau beli buku
Tedjo Moelyono
Saya berminat membeli buku-buku nya tapi hubungi nomer telpon tertera tidak bisa, saya bisa dihubungi di 081 230 12658
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 10
Total Pengunjung: 1365797

Monday, 25 Jan 2010
5 LANGKAH MENAJAMKAN FEELING KEWIRAUSAHAAN

5 LANGKAH
MENAJAMKAN FEELING KEWIRAUSAHAAN


Setiap orang memiliki bakat sebagai wirausahawan!
Stop! Jangan buru-buru menolak opini diatas. Realitanya setiap orang itu dilahirkan dalam kondisi sama. Tuhan menganugerahkan otak yang sama, pancaindera yang sama, pada saat kita terlahir ke dunia. Jika diantara kita ada yang sukses menjadi pengusaha, berarti setiap orang juga memiliki bakat itu. Yang membedakan adalah lingkungan tempat kita bertumbuh kembang.

Jika kita tumbuh berkembang dilingkungan pengusaha, maka kita memiliki budaya pengusaha dan mudah menjadi pengusaha. Jika kita tumbuh berkembang di lingkungan pegawai, maka mental kita akan terdidik menjadi mental pegawai. Jika kita tumbuh berkembang dilingkungan petani, maka kita akan lebih mudah menjadi petani karena sehari-harinya kita mengenal dengan baik pertanian.

Apakah dengan demikian kita yang bukan dari lingkungan pengusaha sulit menjadi pengusaha? Tidak! Tergantung bagaimana kita menempatkan diri kita saja. Jika kita menempatkan diri kita di posisi yang benar, maka langkah selanjutnya akan mudah. Contohnya, jika memiliki keinginan menjadi pengusaha, maka seharusnya teman sepergaulan kita sehari-hari adalah pengusaha, calon pengusaha atau pedagang. Jangan korbankan diri kita untuk bergaul dengan pemabuk atau pengangguran. Salah menempatkan diri kita ibarat menceburkan mobil dalam kubangan lumpur, sulit untuk mengentaskannya.

Nah, jika kita sudah mampu menempatkan diri pada lingkungan yang tepat, maka langkah selanjutnya adalah pembelajaran kewirausahaan secara otodidak. Sebagaimana telah saya ungkapkan dalam buku Berbisnis Dengan Otak Kanan, ada 5 langkah yang dapat kita lakukan untuk menajamkan feeling kewirausahaan kita. Ke-5 langkah ini dapat diterapkan siapa saja, murah biayanya dan minim risiko.

1. Membaca & Mempelajari Buku-buku Bisnis Praktis
Pada saat membaca bagian ini, luangkanlah waktu barang sebentar untuk berkunjung ke toko-toko buku langganan Anda. Di setiap toko buku yang Anda kunjungi, begitu melangkahkah kaki pertama kali di pintu masuk, Anda akan disambut dengan berbagai jenis buku bisnis praktis. Sejak krisis ekonomi 199-1998, buku-buku jenis ini sangat diminati masyarakat karena mampu memberikan pencerahan dan panduan/pedoman bagi kita untuk melepaskan diri dari belitan kesulitan ekonomi.

Buku jenis ini biasanya dijual direntang harga antara Rp. 20.000,- s.d. Rp. 200.000,-. Kita dapat memilih jenis dan harga sesuai dengan kemampuan kita. Baca dan pelajarilah buku-buku biografi pelaku bisnis, motivasi bisnis, petunjuk bisnis praktis, manajemen bisnis. Buku biografi akan menumbuh suburkan minat kita menjadi pengusaha. Buku motivasi bisnis akan menguatkan mental kita sebagai calon pengusaha sukses. Buku petunjuk bisnis praktis akan membuka wawasan kita tentang bisnis apa saja yang dapat kita lakukan. Buku manajemen bisnis akan melatih kemampuan kita untuk mengelola bisnis yang bersangkutan. Semuanya saling melengkapi, jadi jangan hanya membaca satu jenis buku terus menerus tanpa membaca dan mempelajari buku yang lain.

2. Mengikuti Diskusi, Talkshow, Seminar Bisnis
Pada saat membaca bagian ini, coba tengoklah koran, majalah atau tabloid langganan kita. Di dalamnya pasti dengan mudah kita akan mendapati iklan mengenai diskusi, talkshow atau seminar bisnis. Diskusi atau talkshow bisnis biasanya ditawarkan dengan harga puluhan ribu rupiah per orang. Sedangkan seminar bisnis yang qualified biasanya ditawarkan mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Mengapa kita harus mengikuti diskusi, talkshow atau seminar bisnis? Sebab disitulah kita akan bertemu langsung dengan para praktisi bisnis. Makin mahal harga yang ditawarkan biasanya makin bagus pula praktisi bisnisnya. Disitulah kita dapat belajar langsung dari ahlinya. Hanya saja, tidak semua jenis diskusi, talkshow atau seminar bisnis dapat kita ikuti. Supaya tidak buang-buang waktu percuma, pilih topik yang paling mendekati atau paling bermanfaat untuk bisnis yang akan kita lakukan.

Tips yang paling ampuh adalah jangan pasif pada saat mengikuti acara-acara ini. Tidak perlu malu menanyakan hal-hal yang tidak kita ketahui. Toh kita memang membayar untuk mengikuti acara itu untuk mengetahui apa yang sebelumnya tidak kita ketahui. Pada saat rehat atau acara usai, jangan buru-buru pulang. Kejarlah si pembicara. Lakukan tukar menukar kartu nama. Seringkali kerjasama bisnis dapat terjadi hanya karena tindakan sepele seperti ini.

3. Mencari & Mendapatkan Mentor
Keragu-raguan adalah virus paling mematikan bagi pelaku bisnis. Virus ini paling sering menghinggapi kita yang lemah secara mental. Meskipun rajin membaca buku, mengikuti diskusi, talkshow atau seminar bisnis, tetapi setelah itu kita tidak mampu berbuat apa-apa karena selalu ragu-ragu.

Mentor adalah orang yang mampu mendampingi kita dalam menjalankan dan memajukan bisnis. Mentor biasanya adalah pelaku bisnis yang lebih berpengalaman dibandingkan dengan diri kita. Tidak sulit untuk menemukannya, karena mereka ini tersebar di sekeliling kita. Mungkin cara kita memintanya untuk menjadi mentor saja yang akan membedakan gagal atau berhasilnya usaha ini.

Cara termudah yang dapat kita tempuh adalah menjadi member organisasi-organisasi bisnis yang diikuti mentor kita. Dengan cara ini kita akan mudah mendapatkan waktu luang mereka sekedar untuk berbincang atau berdiskusi mencari solusi. Jangan segan-segan pula untuk mengajak kerjasama bisnis dengan mentor kita, misalnya kita menjadi salah satu supllier bisnis mentor kita. Dengan cara ini dijamin kita bisa berkomunikasi setiap saat dengan mentor kita.

4. Mengikuti Pelatihan Bisnis
Training atau pelatihan bisnis sekarang menjamur dimana-mana. Ternyata kelemahan pengusaha yang memerlukan pengetahuan tambahan itu ditangkap oleh pengusaha lain sebagai peluang, sehingga mereka rame-rame membuka pelatihan bisnis. Pelatihan bisnis biasanya ditawarkan mulai harga ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Tujuannya adalah memberikan ketrampilan tambahan kepada peserta pelatihan, khususnya dalam upaya melahirkan produk atau mengelola usahanya. Ikutilah pelatihan bisnis yang paling bermanfaat untuk usaha kita. Khususnya pelatihan yang meningkatkan ketrampilan kita melahirkan produk baru, misalnya cara membuat roti dari bahan ketela pohon.

5. Nekat Membuka Usaha Dengan Pengetahuan Minim
Inilah cara yang paling sering dipraktikkan. Meskipun terkesan ngawur, nyatanya banyak yang berhasil juga membuka usaha dengan cara seperti ini. Ini membuktikan bahwa kita memang dikaruniai bakat sebagai wirausahawan. Trik ini sering disarankan oleh para pengusaha sukses bagi para pengusaha pemula. Yang penting buka usaha dulu, urusan lainnya dibenahi sambil jalan. Langkah yang terakhir ini jelas makin menempa mental kita untuk menjadi pengusaha sukses kelak.


Dimana posisi kita sekarang? Jika sehabis membaca artikel ini kita tidak berbuat apa-apa, berarti kita mengalami kemunduran. Waktu terus berjalan, seyogyanya kita menggunakan waktu yang tersisa untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masa depan hidup kita. Semoga tulisan ini memberi inspirasi Anda. Salam sukses!

Salam Sukses!
Suryono Ekotama

 

CATATAN :
Artikel ini ditulis Suryono Ekotama pada bulan Januari 2009 & pernah dikirimkan ke Majalah MitraSukses. Artikel ini telah mengalami re-editing pada tanggal 31 Agustus 2009. Publikasi dalam website ini bertujuan untuk memberikan tambahan wawasan tentang trik & strategi bisnis kepada siapapun dan dimanapun berada untuk memajukan bangsa Indonesia.

 

 


Tuesday, 09 Jul 2019

PEMILU 2020 & SETERUSNYA

Pemilu serentak 2019 telah usai dengan berbagai problematikanya, meskipun sebenarnya problematika ini sifatnya klise, selalu terjadi berulang sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, supaya kita tidak memelihara kebodohan abadi dan bangsa kita cepat maju dan berkembang, penyelenggaraan Pemilu 2020 dan seterusnya harus dibenahi. Apa saja yang penting untuk dibenahi? Mari kita lihat uraiannya berikut ini:

MENGGUNAKAN ALAT BANTU MESIN
Sekarang jaman teknologi. Sebagian besar pekerjaan manual sudah tergantikan oleh mesin. Mesin dibuat untuk meringankan pekerjaan manusia. Demikian pula seharusnya pemungutan suara ini. Pemungutan suara yang dilakukan dengan bantuan mesin akan lebih efektif dan efisien. Caranya mudah saja kok. Warga negara yang mau memilih tinggal datang ke TPS, kemudian kemudian melakukan scan sidik jari atau retinanya. Setelah itu pemilih tinggal memilih gambar kontestan pemilu yang dipilihnya melalui layar atau dengan cara menekan tombol nomor. Selesai. Singkat sekali dan tidak bisa diulang. Data langsung masuk ke penyelenggara pemilu tingkat pusat. Bayangan saya, mesin pemilu ini sesederhana mesin absensi sidik jari atau mesin ATM (ada layarnya). Bahkan saya berharap, suatu ketika nanti pemungutan suara dapat dilakukan melalui handphone, sehingga pemilih dapat leluasa menggunakan hak pilihnya tanpa harus libur dan mengorbankan produktifitasnya.
Apa manfaatnya cara seperti ini?
Pertama, petugas KPPS tidak kelelahan, karena pekerjaan manualnya terbantu mesin, sehingga dapat terhindar dari sakit atau kematian yang tidak perlu. Jumlah petugas juga dapat diminimalisir, sehingga sangat efisien dari sisi biaya dan mengurangi tingkat human error.
Kedua, proses pemilu lebih cepat selesai, sehingga tidak mengganggu stabilitas ekonomi dan politik. Tidak ada lagi sistem perhitungan bertingkat (berjenjang) yang berpotensi menimbulkan keresahan dan konflik.
Ketiga, mengurangi penggunaan kertas (go-green). Ramah lingkungan bukan?
Keempat, dalam jangka panjang sangat hemat biaya, karena mesin pemilu seperti ini dapat digunakan berkali-kali di pemilu berikutnya (bukan sekali pakai seperti kertas dan kardus).
Kelima, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mengalami kemajuan, dari bangsa tradisional yang masih melakukan pemilihan secara manual dan selalu terjebak pada masalah yang sama, menjadi bangsa maju yang mampu memanfaatkan teknologi dan mampu meminimalisir masalah klise yang muncul. Ini lompatan kemajuan yang luar biasa.
Bagi orang yang anti kemajuan, pasti akan menolak dengan alasan tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini. Mengapa cara berpikirnya tidak dibalik? Jika tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini, bagaimana caranya supaya semua daerah dapat menggunakan teknologi maju seperti ini? Apa yang harus dilakukan? Sejelek-jeleknya, jika masih ada yang manual, prosentasenya tidak lebih dari 25%.

Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Copyright 2009 - 2021 :: ekotama. All Rights Reserved.