.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Friday, 14 May 2021
Mau beli buku
Tedjo Moelyono
Saya berminat membeli buku-buku nya tapi hubungi nomer telpon tertera tidak bisa, saya bisa dihubungi di 081 230 12658
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 8
Total Pengunjung: 1386902

Tuesday, 09 Aug 2011
ANJING LEBIH MULIA DARIPADA KORUPTOR

ANJING LEBIH MULIA DARIPADA KORUPTOR

Sudah bertahun-tahun televisi Indonesia getol menyiarkan berita-berita koruptor. Beberapa waktu yang lalu, aku sedang menonton berita itu ketika anakku yang belum berumur sepuluh tahun mendekat dan tiba-tiba bertanya,

"Pa, apa sih koruptor itu?" tanyanya dengan polosnya.
Kulihat wajah anakku. Wajah itu masih sangat polos. Dari sorot matanya yang tajam kulihat bahwa ia memang ingin tahu. Matanya yang bening itu membuatku bersemangat untuk memberikan pengetahuan kepadanya.
"Apa Ibu Guru belum memberikan pelajaran tentang koruptor?" tanyaku.
"Enggak, Pa! Tidak ada pelajaran itu...!" sanggah anakku serius.
"Kenapa kamu pengen tahu tentang koruptor?" tanyaku.
"Kan di TV sering disebut, Pa! Tapi kok gak ada bentuknya. Apa sih koruptor itu?" tanyanya dengan mimik wajah yang sangat serius.
"Oke, sini Papa kasih tahu. Tapi janji ya? Nanti adek kasih tahu ke temen-temen yang lain kalau mereka bertanya tentang koruptor..."
"Siap, Pa!" sahut anakku antusias.

Aku mengajak anakku duduk nyaman dan berhadapan. Aku menatap matanya. Ia menatap mataku tajam, benar-benar mengharapkan cerita yang bagus dariku. Kulihat kecerdasannya luar biasa. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kecerdasan ini demi masa depannya dan masa depan bangsanya. Maka aku pun mulai bercerita perlahan-lahan.

"Bu Guru pernah bercerita tentang makhluk yang diciptakan Allah?" tanyaku serius.
"O iya, Pa. Bu Guru pernah bercerita. Allah menciptakan makhluk hidup. Makhluk hidup itu terdiri dari manusia, hewan dan tumbuhan..." anakku tampak antusias sekali.
"Selain itu?"
"Mmmm..., makhluk halus, Pa. Makhluk halus itu terdiri dari setan dan jin..."
"Ada lagi...?"
"Mmmm...., tidak ada, Pa! Emang ada makhluk apa lagi, Pa?"
"Ada satu lagi, makhluk ini dinamakan koruptor...!"
"Ooo..., jadi koruptor itu makhluk ya, Pa! Kok Bu Guru tidak pernah bercerita ya, Pa..?!?"
"Mungkin Bu Guru belum pernah tahu makhluk koruptor itu, anakku...."
"Pa.., koruptor itu termasuk makhluk hidup atau makhluk halus..?"
"Tidak termasuk makhluk manapun, anakku..?"
"Kenapa bisa begitu, Pa?"
"Karena koruptor itu sifatnya sangat berbeda dengan makhluk hidup atau makhluk halus ciptaan Allah..."
"Berbeda apanya, Pa?"
"Kalau makhluk hidup itu kan bermanfaat untuk dunia. Betul nggak?"
"iya, Pa! Bu Guru cerita kalau makhluk hidup itu bermanfaat bagi dunia. Contohnya manusia, bisa membuat peralatan yang meringankan manusia lainnya. Hewan juga bermanfaat, Pa. Ada yang dagingnya bisa dimakan manusia, ada hewan yang memakan hewan-hewan jahat, ada hewan yang bisa menjaga rumah...." anakku menguraikan pengetahuannya panjang lebar. Aku mengangguk-angguk melihat kecerdasannya.
"Hewan apa yang bisa menjaga rumah...?" tanyaku menguji pengetahuan anakku.
"Anjing, Pa..!" kata anakku seketika.
"Hebat, anak Papa...!" akupun ikut kegirangan.
"Terusin Pa, cerita makhluk koruptor tadi...!" anakku protes karena tidak sabar ingin tahu tentang makhluk koruptor itu.
"Anjing itu lebih mulia daripada koruptor, anakku...!"
"Oooo.., gitu ya, Pa! Kenapa bisa begitu, Pa?"
"Anjing itu menurut dengan tuannya. Dikasih makan saja dia langsung patuh. Anjing mau menjaga rumah kita dan hanya menyalak kepada orang asing yang datang kerumah kita. Anjing rela menunggu makanan yang kita berikan, meskipun ia kelaparan. Anjing tidak pernah mencuri makanan milik tuannya..."
"Berarti kalau koruptor tidak patuh pada tuannya ya, Pa?"
"Iya, anakku..! Koruptor itu tidak patuh pada tuannya. Sudah dikasih makan sama tuannya malah mencuri makanan milik tuannya. Koruptor juga tidak menjaga rumah tuannya, malah mencuri seenak hatinya..."
"Makhluk koruptor itu seperti apa sih, Pa?"
"Makhluk koruptor itu bentuknya seperti manusia anakku...! Kamu mungkin mengira ia manusia, padahal bukan. Koruptor itu makhluk paling hina sedunia. Koruptor membuat manusia miskin semakin miskin dan manusia kaya menjadi miskin. Koruptor membuat keadilan berubah menjadi ketidakadilan. Koruptor itu merusak jalan-jalan, sekolah-sekolah kalian, bahkan bisa membangkrutkan negara ini..."
"Kenapa Allah menciptakan makhluk koruptor itu, Pa? Kan merusak dunia?!?" anakku mulai protes.
"Allah Maha Adil, anakku...! Allah menciptakan koruptor itu supaya Neraka Jahanam nanti ada penghuninya..."
"Ooo..., jadi makhluk koruptor itu nanti pasti menghuni neraka jahanam ya, Pa?"
"Iya, anakku! Pasti! Allah Maha Adil. Kita sebagai manusia seringkali tidak berdaya menghadapi koruptor. Tapi Allah sudah menempatkan koruptor itu lebih rendah daripada anjing, sehingga satu-satunya tempat yang pantas adalah neraka jahanam..."
"Apa di Indonesia itu banyak makhluk koruptornya, Pa?"
"Banyak sekali anakku...! Ingat kan sewaktu kita kerumah nenek jalannya buruk sekali. Itu aspalnya dimakan koruptor, anakku..."
"jadi, makhluk koruptor itu makannya aspal, Pa?"
"Tidak cuma aspal, anakku. Makhluk koruptor itu makan semuanya, terutama uang. Manusia juga dimakan..."
"Hiiii....., ngeri sekali, Pa! Makhluk koruptor itu makan manusia juga?"
"Iya, anakku...! Banyak anak-anak kecil mengalami busung lapar dan gizi buruk, akhirnya mati. Itu karena jatah makan dan jatah gizi untuk anak-anak yang kurang beruntung itu dimakan koruptor, anakku.."
"Pa, apakah koruptor itu punya anak?"
"Tidak cuma punya anak, anakku...! Koruptor itu berkembang biak..."
"Seperti hewan dong, Pa?" tiba-tiba anakku menyela.
"Masih ingat kan? Makhluk koruptor itu derajatnya lebih rendah daripada anjing, anakku...! jadi cara berkembangbiaknya pun lebih rendah daripada binatang..! Itulah yang membuat negara kita ini banyak makhluk koruptornya..!"
"Kalau makhluk koruptor itu punya anak, seperti apa, Pa?"
"Itu disebut cindil-cindil koruptor, anakku..! Bentuknya seperti kita manusia. Tapi cindil-cindil itu bisa lebih merusak daripada makhluk koruptor.."
"Jadi, berbahaya juga dong, Pa?"
"Iya, anakku. Seharusnya makhluk koruptor itu kita kebiri supaya tidak berkembang biak, amakku.."
"Dikebiri itu apa, Pa?"
"Dikebiri itu dibuat supaya tidak berkembang biak, anakku..! Kalau tidak ada koruptor, masa depanmu akan cerah, anakku.."
"Ooooo.., begitu ya, Pa..."
"Iya, anakku...! Waspadalah...!"

Anakku rupanya sudah tidak tertarik lagi dengan cerita makhluk koruptor yang lebih hina daripada anjing itu. Anakku kembali ke meja belajarnya. Kulirik sekilas, ia membaca sebuah buku besar. Setelah kuamati, ternyata itu bukuku yang tadi tergeletak didepan tivi. Buku itu baru kubeli kemarin, berisi tentang 100 orang yang paling berpengaruh di dunia. Aku tersenyum. Kudiamkan saja ulah anakku itu. Doaku hanya satu, semoga ia menjadi 1 orang yang berpengaruh di dunia di masanya, sehingga penerbit buku itu terpaksa harus melakukan revisi pada terbitan edisi selanjutnya. Judulnya berubah menjadi 101 orang yang paling berpengaruh di dunia. Biarlah ia belajar sejak muda. Belajar menjadi manusia seutuhnya, yang dibutuhkan oleh bangsa dan negaranya.

 


Tuesday, 09 Jul 2019

PEMILU 2020 & SETERUSNYA

Pemilu serentak 2019 telah usai dengan berbagai problematikanya, meskipun sebenarnya problematika ini sifatnya klise, selalu terjadi berulang sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, supaya kita tidak memelihara kebodohan abadi dan bangsa kita cepat maju dan berkembang, penyelenggaraan Pemilu 2020 dan seterusnya harus dibenahi. Apa saja yang penting untuk dibenahi? Mari kita lihat uraiannya berikut ini:

MENGGUNAKAN ALAT BANTU MESIN
Sekarang jaman teknologi. Sebagian besar pekerjaan manual sudah tergantikan oleh mesin. Mesin dibuat untuk meringankan pekerjaan manusia. Demikian pula seharusnya pemungutan suara ini. Pemungutan suara yang dilakukan dengan bantuan mesin akan lebih efektif dan efisien. Caranya mudah saja kok. Warga negara yang mau memilih tinggal datang ke TPS, kemudian kemudian melakukan scan sidik jari atau retinanya. Setelah itu pemilih tinggal memilih gambar kontestan pemilu yang dipilihnya melalui layar atau dengan cara menekan tombol nomor. Selesai. Singkat sekali dan tidak bisa diulang. Data langsung masuk ke penyelenggara pemilu tingkat pusat. Bayangan saya, mesin pemilu ini sesederhana mesin absensi sidik jari atau mesin ATM (ada layarnya). Bahkan saya berharap, suatu ketika nanti pemungutan suara dapat dilakukan melalui handphone, sehingga pemilih dapat leluasa menggunakan hak pilihnya tanpa harus libur dan mengorbankan produktifitasnya.
Apa manfaatnya cara seperti ini?
Pertama, petugas KPPS tidak kelelahan, karena pekerjaan manualnya terbantu mesin, sehingga dapat terhindar dari sakit atau kematian yang tidak perlu. Jumlah petugas juga dapat diminimalisir, sehingga sangat efisien dari sisi biaya dan mengurangi tingkat human error.
Kedua, proses pemilu lebih cepat selesai, sehingga tidak mengganggu stabilitas ekonomi dan politik. Tidak ada lagi sistem perhitungan bertingkat (berjenjang) yang berpotensi menimbulkan keresahan dan konflik.
Ketiga, mengurangi penggunaan kertas (go-green). Ramah lingkungan bukan?
Keempat, dalam jangka panjang sangat hemat biaya, karena mesin pemilu seperti ini dapat digunakan berkali-kali di pemilu berikutnya (bukan sekali pakai seperti kertas dan kardus).
Kelima, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mengalami kemajuan, dari bangsa tradisional yang masih melakukan pemilihan secara manual dan selalu terjebak pada masalah yang sama, menjadi bangsa maju yang mampu memanfaatkan teknologi dan mampu meminimalisir masalah klise yang muncul. Ini lompatan kemajuan yang luar biasa.
Bagi orang yang anti kemajuan, pasti akan menolak dengan alasan tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini. Mengapa cara berpikirnya tidak dibalik? Jika tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini, bagaimana caranya supaya semua daerah dapat menggunakan teknologi maju seperti ini? Apa yang harus dilakukan? Sejelek-jeleknya, jika masih ada yang manual, prosentasenya tidak lebih dari 25%.

Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Copyright 2009 - 2021 :: ekotama. All Rights Reserved.