.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Friday, 14 May 2021
Mau beli buku
Tedjo Moelyono
Saya berminat membeli buku-buku nya tapi hubungi nomer telpon tertera tidak bisa, saya bisa dihubungi di 081 230 12658
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 8
Total Pengunjung: 1386856

Thursday, 16 Aug 2012
MODAR ON THE ROAD...!!!

MODAR ON THE ROAD...!!!

 

Di bukuku yang berjudul KORUPSI DENGAN HATI : MENGANTIPASI KERUGIAN PERUSAHAAN & INSTANSI terbitan Elex Media Komputindo, tahun 2011, di halaman 115 - 119 sudah kuuraikan lengkap tentang salah satu modus korupsi transportasi, yaitu menggunakan mobil dinas untuk kepentingan pribadi. Apakah uraian yang kutulis ini mengada-ada dan hanya teori belaka? Ataukah memang sebuah fakta? Ayo kita lihat buktinya.

Hari Minggu, tanggal 12 Agustus 2012, sekitar pukul enam pagi, sebuah mobil dinas berplat merah dengan nopol H 56 A melakukan olah raga pagi koprol bebas di Jalan Tol Muktiharjo, Semarang, Jawa Tengah. Koprolnya pun luar biasa, menurut berita salah satu media massa, mobil itu berguling-guling dengan riang gembiranya sejauh 200 meter. Saking penasarannya, aku cari berita di tivi dan akhirnya kulihat di salah satu tivi swasta, mobil dinas itu sudah tidak berbentuk lagi. Mobil yang dibeli dengan uang rakyat itu seperti kaleng minuman ringan yang diremas-remas. Ringsek total dan yang terlihat utuh hanya salah satu peleknya saja. Akibat olah raga pagi koprol di jalan tol itu, sopirnya langsung mati. Penumpangnya dua orang juga mati. Sisanya luka-luka, mungkin disisakan Allah supaya bersaksi kepada dunia bahwa korupsi transportasi itu haram hukumnya. Apalagi itu dilakukan pada bulan puasa.

Lantas mengapa mobil dinas itu bisa olah raga pagi koprol bebas di jalan tol pada hari libur? Apakah pejabat yang diberi kepercayaan rakyat untuk merawat dan memelihara fasilitas kerja yang dibeli dari uang rakyat itu sedang menjalankan tugas tergesa-gesa untuk kepentingan rakyat pada hari minggu pagi-pagi sekali itu? Allah Maha Adil...! Jika mobil dinas itu dipakai ngebut untuk kepentingan rakyat, pasti akan selamat sampai di tujuan dan pahalanya berlimpah di surga. Ternyata faktanya adalah, mobil dinas itu dipakai anak pejabat yang tidak becus nyopir bahkan belum punya SIM, untuk tamasya bersama teman-temannya ke Pantai Marina (di wilayah Semarang tentunya) setelah sebelumnya berkelling kota melakukan perbuatan yang mereka anggap mulia, Sahur On The Road. Padahal acara ini juga bukan tuntunan Islam, ini acara dibikin orang kaya yang ingin pamer hartanya dan tidak tahu hakekat puasa.

Melihat fakta diatas, bisa kusimpulkan :

Pejabat yang diberi amanat mobil dinas itu telah melakukan perbuatan paling hina didunia pada saat puasa, yaitu korupsi transportasi, menggunakan mobil dinas bukan untuk kepentingan rakyat, tetapi untuk kepentingan pribadi (yang memakai adalah anaknya);
Pejabat yang diberi amanat menjaga dan merawat mobil dinas itu telah mengkhianati rakyat dengan memperbolehkan mobil dinas dipakai untuk hura-hura (tamasya), bukan untuk kepentingan rakyat.
Pejabat yang diberi amanat mobil dinas itu lalai menjalankan tugasnya untuk kepentingan rakyat, karena telah membunuh rakyatnya sendiri melalui perantaraan mobil dinas yang seharusnya dikuasainya itu. Tidak tanggung-tanggung, yang langsung mati 3 (tiga) orang. Bahkan semuanya masih muda-muda, yang notabenenya adalah generasi penerus bangsa ini. Seharusnya para orang tua anak muda yang mati sia-sia ini bisa langsung memenjarakan si pejabat karena kelalaiannya.
Pejabat yang diberi amanat mobil dinas itu telah merugikan negara karena mobil dinas yang koprol di jalan tol itu sudah tidak berbentuk dan sudah tidak dapat dipakai lagi untuk mendukung tugas-tugasnya memajukan rakyat. Apakah setelah mobil dinas ini hancur ia langsung masuk penjara karena telah merugikan negara? Apakah pejabat ini dengan sukarela dan kebesaran jiwanya akan mengganti mobil dinas itu dengan mobil jenis yang sama? Apakah pejabat ini dengan sukarela akan bunuh diri didepan rakyatnya untuk menebus nyawa 3 anak muda yang mati sia-sia?

Allah Maha Adil...! Allah telah menunjukkan bahwa korupsi transportasi itu haram hukumnya, dengan cara yang tidak disangka-sangka oleh manusia. Konon kabarnya, para penumpang mobil itu baru saja selesai melakukan Sahur On The Road. Tapi apalah artinya puasa jika dikotori dengan perilaku korupsi. Puasa akan menjadi berkah jika dilakukan untuk kemaslahatan umat. Mobil itu akan bermanfaat jika dipakai mengangkut bantuan untuk rakyat, khususnya masyarakat yang tertinggal. Apalagi pejabat itu memegang amanat dalam bidang pembangunan. Tapi karena dipakai untuk Sahur On The Road yang notabenenya adalah jual tampang saja dan pamer harta saja, Allah mengubahnya menjadi Modar On The Road.

Wahai para pejabat..!
Kalian adalah jongos rakyat..!
Kalian adalah pemegang amanat rakyat..!
Kalian dibayar untuk memajukan dan mensejahterakan rakyat..!
Bukan menyalahgunakan amanat untuk Modar On The Road..!

 

Apakah dengan kejadian ini masih ada pejabat yang membawa pulang mobil dinas dan dipakai untuk kepentingan pribadi? Sebagai rakyat pembayar pajak kuingatkan ke KPK, membawa pulang mobil dinas dan dipakai untuk kepentingan pribadi itu berpotensi merugikan negara. Bukankah merugikan negara (secara langsung atau tidak langsung) disebut sebagai korupsi? Bukankah mobil dinas itu dipakai untuk kepentingan dinas, bukan dipakai untuk kepentingan keluarga yang berujung naas? Apa tindakan kalian? Apakah kalian akan membiarkan para pejabat berfoya-foya menggunakan mobil dinas pada saat Lebaran nanti? Apakah kalian akan membiarkan para pejabat bertamasya dengan mobil dinasnya sementara ribuan pemudik bermotor sekarat di jalan raya? Apakah kerugian negara seperti yang kuungkapkan dimuka itu tidak kalian anggap sebagai bukti terjadinya korupsi?

Wahai rakyatku diseluruh Indonesia...!
Berdoalah supaya para pejabat jongos kita selamat di akherat jika bekerja untuk rakyat...!
Berdoalah supaya mereka tamat jika mengkhianati amanat rakyat...!
Berdoalah supaya mereka mati ditelan bumi jika mereka korupsi...!

 

 

*****


Tuesday, 09 Jul 2019

PEMILU 2020 & SETERUSNYA

Pemilu serentak 2019 telah usai dengan berbagai problematikanya, meskipun sebenarnya problematika ini sifatnya klise, selalu terjadi berulang sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, supaya kita tidak memelihara kebodohan abadi dan bangsa kita cepat maju dan berkembang, penyelenggaraan Pemilu 2020 dan seterusnya harus dibenahi. Apa saja yang penting untuk dibenahi? Mari kita lihat uraiannya berikut ini:

MENGGUNAKAN ALAT BANTU MESIN
Sekarang jaman teknologi. Sebagian besar pekerjaan manual sudah tergantikan oleh mesin. Mesin dibuat untuk meringankan pekerjaan manusia. Demikian pula seharusnya pemungutan suara ini. Pemungutan suara yang dilakukan dengan bantuan mesin akan lebih efektif dan efisien. Caranya mudah saja kok. Warga negara yang mau memilih tinggal datang ke TPS, kemudian kemudian melakukan scan sidik jari atau retinanya. Setelah itu pemilih tinggal memilih gambar kontestan pemilu yang dipilihnya melalui layar atau dengan cara menekan tombol nomor. Selesai. Singkat sekali dan tidak bisa diulang. Data langsung masuk ke penyelenggara pemilu tingkat pusat. Bayangan saya, mesin pemilu ini sesederhana mesin absensi sidik jari atau mesin ATM (ada layarnya). Bahkan saya berharap, suatu ketika nanti pemungutan suara dapat dilakukan melalui handphone, sehingga pemilih dapat leluasa menggunakan hak pilihnya tanpa harus libur dan mengorbankan produktifitasnya.
Apa manfaatnya cara seperti ini?
Pertama, petugas KPPS tidak kelelahan, karena pekerjaan manualnya terbantu mesin, sehingga dapat terhindar dari sakit atau kematian yang tidak perlu. Jumlah petugas juga dapat diminimalisir, sehingga sangat efisien dari sisi biaya dan mengurangi tingkat human error.
Kedua, proses pemilu lebih cepat selesai, sehingga tidak mengganggu stabilitas ekonomi dan politik. Tidak ada lagi sistem perhitungan bertingkat (berjenjang) yang berpotensi menimbulkan keresahan dan konflik.
Ketiga, mengurangi penggunaan kertas (go-green). Ramah lingkungan bukan?
Keempat, dalam jangka panjang sangat hemat biaya, karena mesin pemilu seperti ini dapat digunakan berkali-kali di pemilu berikutnya (bukan sekali pakai seperti kertas dan kardus).
Kelima, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mengalami kemajuan, dari bangsa tradisional yang masih melakukan pemilihan secara manual dan selalu terjebak pada masalah yang sama, menjadi bangsa maju yang mampu memanfaatkan teknologi dan mampu meminimalisir masalah klise yang muncul. Ini lompatan kemajuan yang luar biasa.
Bagi orang yang anti kemajuan, pasti akan menolak dengan alasan tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini. Mengapa cara berpikirnya tidak dibalik? Jika tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini, bagaimana caranya supaya semua daerah dapat menggunakan teknologi maju seperti ini? Apa yang harus dilakukan? Sejelek-jeleknya, jika masih ada yang manual, prosentasenya tidak lebih dari 25%.

Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Copyright 2009 - 2021 :: ekotama. All Rights Reserved.