.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Tuesday, 19 Mar 2019
Perjanjian Waralaba
mutia
Halo Bapak Ekotama, Saya Mutia, saat ini saya sedang menyusun kontrak perjanjian waralaba untuk lomba contract drafting. Saya telah membaca buku bapak yang berjudul rahasia kontrak franchise, buku tersebut sangat bermanfaat untuk membimbing saya dal
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 3
Total Pengunjung: 1335272

Monday, 17 Sep 2012
LEBARAN ATAU PEMBANTAIAN?

LEBARAN ATAU PEMBANTAIAN?

 

Jika Lebaran tiba, orang lain mungkin bergembira. Tapi sungguh aku berduka cita sedalam-dalamnya. Bukan Lebarannya yang membuatku berduka cita, tapi ekses negatifnya yang diciptakan manusia dengan sifat kemanusiaannya yang paling dasar : ego - serakah - konsumtif - bodoh. Setidaknya ada beberapa alasan kuat yang membuatku berduka cita seperti ini dan semoga kalian dapat memahami dengan logika yang paling sederhana.

1. PUASA = BERBELANJA...?!?
Setiap menjelang Lebaran, seluruh harga kebutuhan pokok naik. Ini menjadi berita usang yang selalu ditayangkan stasiun tivi yang tidak kreatif. Tahukah kalian kenapa barang kebutuhan pokok harganya naik? Barang kebutuhan pokok di pasar itu mengikuti prinsip pasar yang paling sederhana, yakni prinsip permintaan dan penawaran (supply and demand). Begitu permintaan naik sementara stoknya (penawaran) tetap, dapat dipastikan harga jualnya naik. Hanya calon pembeli dengan daya beli yang tinggi sajalah yang memenangkan persaingan untuk membeli barang itu. Ini prinsip ekonomi yang kita pelajari jaman kita duduk di bangku SMP dulu. Masih ingatkah kalian?Yang mengganjal di hatiku bukanlah soal harga barang yang naik itu. Tapi perilaku umatku. Satu bulan sebelum Lebaran itu kan puasa? Menurut guru agamaku di SD dahulu, puasa itu hakekatnya adalah menahan nafsu, seluruh nafsu duniawi, bukan menahan lapar dan dahaga saja. Sekarang coba pikirkan dengan logika yang sederhana hukum supply and demand diatas. Harga barang naik itu dapat dipastikan karena permintaan (pembelian) meningkat. Bagaimana mungkin belanja barang meningkat padahal kita sedang puasa (menahan hawa nafsu, termasuk nafsu konsumtif)? Logikanya, ketika kita sedang menahan hawa nafsu maka belanja barang pasti akan menurun, karena jumlah makanan yang kita konsumsi pun menurun. Lha ini kok malah naik? Yang membuatku heran, pemerintah dan para ulama sepertinya tidak peduli. Bahkan mereka malah seperti berlomba-lomba menjadi actor tayangan lebaran. Padahal umatku sudah terjebak pada budaya dan tradisi yang salah kaprah. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Pada hari-hari biasa, jalanan sepi. Pada hari-hari puasa, disepanjang jalan banyak bertebaran penjual makanan dadakan. Anehnya, penjual makanan dadakan itu pun selalu dikerubuti pembeli yang mayoritas naik motor sampai memacetkan jalan. Toko-toko baju pada saat hari-hari biasa juga sepi. Tapi pada bulan puasa itu justru parkir motor meluber sampai ke jalanan saking banyaknya pembeli yang datang menggunakan motor. Kesedihanku tiada terkira. Umatku yang berbelanja mayoritas adalah pengendara motor (bukan pengendara mobil eropa). Mayoritas dari mereka mungkin hanya karyawan biasa atau orang dengan pendapatan yang tidak terlampau tinggi. Mereka membelanjakan uangnya dengan membeli barang-barang yang belum tentu itu merupakan produk bangsa kita. Ironisnya, itu dilakukan pada bulan puasa...! Beginikah yang dinamakan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya? Ataukah inilah penjajahan manusia Indonesia seutuhnya?


2. DRAMA KEMISKINAN = PAMER KEKAYAAN...???
Setiap menjelang Lebaran, stasiun tivi selalu menayangkan berita usang lagi selain harga sembako naik. Apakah berita usang yang menyedihkan itu? Pertama-tama cameramen akan mengambil gambar deretan orang-orang dengan wajah memelas yang berdesak-desakan didepan sebuah gerbang rumah yang tinggi. Setelah itu gambar kedua adalah pintu gerbang rumah yang sangat kokoh sehingga membuat orang-orang memelas yang berdesak-desakan itu seolah-olah terlihat seperti berada dibalik jeruji penjara jaman Belanda. Gambar ketiga biasanya adalah gambar orang-orang yang terlihat sangat terawat, berpakaian bagus (biasanya yang laki-laki pakai kopiah / peci, yang perempuan pakai jilbab), ditangannya sedang memegang uang untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang berdesak-desakan diluar pintu pagar itu. Kalau bukan uang, biasanya mereka pegang semacam bingkisan yang dikemas dengan plastic hitam. Gambar keempat adalah gambar yang mengenaskan, beberapa orang yang sedang berdesakan itu terlihat pingsan kemudian digotong ke tempat yang aman oleh petugas keamanan, balita menjerit-jerit kepanasan karena kehabisan oksigen dan yang paling menyedihkan adalah gambar orang-orang yang mati mengenaskan karena kepanasan - kelelahan dan terinjak orang lainnya. Gambar kelima biasanya gambar aparat keamanan yang sedang memeriksa kasus itu disertai dengan komentar-komentar sampah yang tidak berguna untuk mencegah orang mati akibat sedekah yang kebablasan.Seingatku, guru agamaku di bangku SD dan SMP dulu mengajarkan kepadaku untuk bersedekah atau memberikan zakat fitrah kepada orang-orang yang tidak mampu. Tapi tidak ada satu katapun dari guru-guruku itu yang menyuruh kami selaku muridnya untuk membuat pertunjukan neraka dengan mengumpulkan orang-orang tidak mampu didepan pintu gerbang rumah kami untuk mendapatkan sedekah. Itulah yang membuatku berduka sedalam-dalamnya. Justru ketika usiaku sudah dewasa seperti ini, aku melihat pertunjukan neraka antara si kaya dan si miskin. Si miskin terlihat berdesak-desakan diluar pintu pagar, sedangkan di kaya dengan sombongnya berdiri membawa segepok uang atau bingkisan yang siap dibagikan dengan taruhan nyawa si miskin. Drama kemiskinan dan pamer kekayaan seperti ini bagiku sudah keterlaluan. Bukankah pada saat puasa menjelang Lebaran itu kita dituntut untuk membuat amal ibadah sebanyak-banyaknya? Bukan menyengsarakan orang sebanyak-banyaknya? Dimana pemerintah dan para ulamaku? Drama kemiskinan dan pamer kekayaan seperti ini menurutku lebih haram daripada infotaintment atau sinetron.


3. TRANSPORTASI MAHAL = EKONOMI BIAYA TINGGI
Setiap Lebaran tiba, aku menunda seluruh jadwal perjalanan keluar kota, sehingga bisa dipastikan selama satu bulan aku berada di rumah. Padahal kalian tahu hobbyku adalah jalan-jalan dan seluruh pekerjaanku menuntut aku lebih banyak di jalanan. Kenapa aku sampai rela mengorbankan hobby dan pekerjaan? Aku bukan seorang pemalas yang pada bulan puasa menjelang Lebaran lebih suka tidur atau bersantai ria atau ngabuburit tiap sore supaya di-shoot oleh cameramen tivi. Pekerjaanku tetap berjalan sempurna di rumah dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi yang ada saat ini. Yang aku hindari adalah transportasi. Transportasi menjelang Lebaran juga sama dengan harga barang, bisa naik tak terkendali. Tiket sulit didapat, kalaupun bisa mendapatkan tiket biasanya harganya sudah tidak rasional.Padahal guru ekonomiku di SMP dulu mengajarkan kepadaku prinsip ekonomi : berusahalah dengan biaya seminimal mungkin dan dapatkanlah keuntungan semaksimal mungkin. Jika pada hari-hari biasa aku biasa pergi ke Jakarta dari Jogja menggunakan pesawat dengan tiket seharga 300 - 400 ribuan rupiah, menjelang Lebaran harga itu bisa berubah menjadi 600 ribu sampai 1,2 juta rupiah sekali jalan. Jika aku tetap membeli tiket semahal itu, sementara hasilnya sama, betapa bodohnya aku? Tentu guru ekonomiku akan menyesal meluluskanku. Meskipun dulu aku suka membolos pada saat pelajaran ekonomi, tapi aku sangat menghormati guruku. Dengan cara inilah aku menghormatinya, seluruh ajarannya benar-benar kuterapkan dalam hidupku. Aku hanya mengambil intisarinya saja, supaya kepalaku tidak pecah menerima seabrek pelajaran yang belum tentu berguna.Berkebalikan denganku, justru transportasi menjelang Lebaran itu sedang ramai-ramainya. Harga tiket yang sudah tidak rasional itu menunjukkan bahwa permintaan tiket lebih banyak daripada ketersediaan tiket. Masih ingat pelajaran ekonomi dasar yang sudah kusebutkan di butir pertama diatas kan? Akhirnya hanya orang-orang dengan daya beli tinggi sajalah yang mampu memenangkan persaingan membeli tiket itu. Ironisnya, lagi-lagi hal ini dilakukan pada saat bulan puasa menjelang Lebaran? Bukankah puasa itu adalah menahan hawa nafsu? Apakah membeli tiket yang harganya tidak rasional itu sama dengan menahan hawa nafsu? Bisnisku bergerak dalam bidang otomotif. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri dan mendengar dengan telingaku sendiri. Ketika bulan puasa menjelang Lebaran, pelanggan bertaburan layaknya bintang di langit. Sangat indah sekali bagiku. Tapi disisi lain aku juga sedih sekali. Ketika mereka kutanya, kenapa menghamburkan uang untuk merawat kendaraan pada saat bulan puasa begini, jawabannya sangat simple tapi jelas menunjukkan jati diri mereka. Mereka rata-rata bilang, tidak pede jika harus mengendarai kendaraan seadanya, sehingga mereka mempercantik kendaraannya. Tahukah kalian apa yang tersirat dari pernyataan itu? Logikaku masih waras, sehingga aku bisa menyimpulkan bahwa mereka menghamburkan uang pada saat puasa menjelang Lebaran untuk memenuhi ego mereka, gengsi mereka dan yang jelas pamer kekayaan mereka. Apakah ini hakekat puasa?

 

4. MENGHABISKAN TABUNGAN PADA SAAT LEBARAN
Keluarga besarku mayoritas berprofesi sebagai karyawan. Mereka mendapatkan penghasilan bulanan yang pas-pasan dari gaji dan bonus (jika ada). Hari-hari biasa, mereka berhemat. Ada yang rela makan hanya dengan nasi dan kerupuk saja. Bahkan ada yang harus bersitegang dengan kepala sekolah agar anaknya diberikan diskon dalam membayar biaya sekolah atau malah syukur-syukur dibebaskan sama sekali. Akibatnya memang lumayan bagus, dari situlah tabungan terisi. Namun ketika Lebaran tiba, hal yang sangat kontras terjadi. Tabungan dikeluarkan semua untuk pulang kampung dan membiayai segala keperluan Lebaran. Tabungan selama satu tahun habis hanya dalam waktu satu minggu. Itupun jika selama perjalanan semuanya selamat. Jika terjadi kecelakaan atau peristiwa lain, pengeluaran akan meningkat dua kali lipat. THR tidak ada lagi artinya. Semuanya habis dikonsumsi.Aku teringat dengan ajaran guru agamaku pada saat duduk di bangku SD-SMP-SMA dulu. Kepada ketiga guruku itu selalu kutanyakan hal yang sama, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Idul Fitri atau kita menyebutnya Lebaran itu? Kenapa begitu heboh orang-orang menyambutnya? Aku masih sangat polos waktu itu. Jadi mohon dimaklumi kalau kalian menganggapku bodoh mengajukan pertanyaan itu.Mereka kompak menjawab bahwa Lebaran atau Idul Fitri itu adalah hari raya kemenangan. Itulah sebabnya orang menjadi heboh merayakannya. Aku belum puas dengan jawaban itu, maka kutanyakan lagi, menang dari apa? Mereka juga kompak menjawab, kemenangan dari perang melawan hawa nafsu. Lagi-lagi aku belum puas, maka kutanyakan lagi, hawa nafsu seperti apa? Mereka kompak menjawab untuk ketiga kalinya, hawa nafsu duniawi. Dari ketiga jawaban itu akhirnya aku menyimpulkan bahwa Lebaran atau Idul Fitri itu adalah merayakan kemenangan setelah sebulan perang melawan hawa nafsu duniawi. Kata guru agamaku, perang yang paling berat adalah perang melawan diri sendiri. Jadi jika kita sudah memenangkan perang ini, maka kita bisa merayakannya dengan suka cita.Jadi, Lebaran atau Idul Fitri itu bukanlah boyongan ke kampung rame-rame yang akhirnya berubah menjadi tradisi konsumtif, pamer kekayaan, memenangkan ego daripada logika dan akhirnya menguras tabungan kita. Sampai dengan detik ini aku heran, tidak ada satu ulama atau pemuka agama pun yang meluruskan hal ini. Seandainya ketiga guru agamaku itu menjadi menteri agama atau pemuka agama yang terkenal, mungkin jalannya sejarah berubah. Lebaran atau Idul Fitri dikembalikan pada hakekatnya semula, yakni merayakan kemenangan atas perang melawan hawa nafsu, bukan merayakan kemenangan bersama-sama dengan hawa nafsu. Sehingga tabungan kerabatku atau karyawanku tetap utuh, karena hari raya sudah cukup dibiayai dari THR. Bukankah hidup terus berlanjut pasca Lebaran? Dan semua itu membutuhkan cadangan biaya?Jikalau aku berduka cita sekarang, itupun karena aku mengalami sendiri, bagaimana omzet perusahaanku sangat sepi setelah Lebaran usai. Ketika kutelpon para customer-ku mereka bilang bahwa uangnya sudah habis untuk berlebaran, jadi mereka tidak bisa membeli apa-apa lagi. Kondisi karyawanku pun sama, uang mereka terkuras habis, akibatnya kas bon jadi solusi yang tepat bagi mereka. Padahal aku selalu bilang bahwa kas bon itu adalah manajemen keuangan dan manajemen SDM terburuk dalam perusahaan. Apakah tradisi ini akan berlanjut dan lebih heboh lagi?

 

5. NYAWA MELAYANG SIA-SIA
Jika kalian pergunakan search engine google untuk menemukan berita-berita tentang korban kecelakaan lalin yang tewas pada saat arus mudik dan arus balik, kalian akan terbelalak melihat faktanya. Jumlah korban yang tewas meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan pada tahun 2012 ini, mengutip dari berbagai berita di media massa, hampir seribu orang mati di jalan raya sia-sia dalam waktu hanya 14 hari saja. Semuanya adalah orang-orang yang hendak merayakan Lebaran, tapi kebablasan merayakan kematian.Aku teringat kembali kepada ajaran guru-guru agamaku di SD-SMP-SMA dulu. Tidak ada satupun guru agamaku yang mengajarkan Lebaran = Kematian. Lebaran adalah merayakan kemenangan perang melawan hawa nafsu, bukan merayakan kemenangan kematian akibat nafsu yang terlalu tinggi. Pertanyaanku kemudian, mudik ke kampung halaman itu nafsu atau bukan? Nafsu itu adalah hasrat yang mampu menggerakkan kita melakukan sesuatu. Berarti jika orang berbondong-bondong mudik ke kampung halaman itu sama dengan nafsu? Nafsu apa? Nafsu untuk memenuhi ego pribadinya. Ada yang punya alasan itu kelaziman sehingga jika tidak melakukan nanti dianggap tidak lazim (nafsu supaya dianggap lazim), ada juga yang beralasan bahwa itu sudah menjadi tradisi (nafsu untuk mengikuti tradisi), dan ada yang mengutarakan alasan sangat tidak masuk akal, yakni menyambung tali silaturahmi.Menyambung tali silaturahmi itu hakekatnya adalah komunikasi. Jika kita sudah melakukan komunikasi secara rutin, berarti tali silaturahmi tersambung dengan sendirinya. Silaturahmi tidak harus melakukan kontak fisik. Itu cara jaman baheula. Ini abad 21. Bangsa barat sudah mempersembahkan cara yang paling mudah, murah dan bijaksana supaya bangsa timur seperti kita ini dapat bersilaturahmi dan mempererat tali silaturahmi dengan lancar tanpa halangan apapun. Apa sarananya? Sarananya adalah HP, jejaring social di internet dan kemudahan transaksi di perbankan.Jika hanya sekedar kirim uang atau mau bagi-bagi uang ke sanak saudaranya, tidak perlu menunjukkan muka kita. Tinggal transfer saja langsung kelar. Bukankah ego pribadi yang menyebabkan kita harus menampakkan muka pada saat memberi atau membagi-bagi uang ke sanak saudara? Supaya dianggap sebagai orang sukses? Supaya dianggap sebagai orang yang dermawan? Niat dan nafsu itu berbeda. Jika kita berniat setulus hati memberi atau membagi-bagi uang, maka kita pasti akan menyembunyikan wajah kita. Sebaliknya jika kita bernafsu memberi atau membagi-bagi uang, maka kita pasti akan menampakkan wajah kita. Manakah ajaran agama yang benar? Jika kita berniat mempererat tali silaturahmi, HP atau jejaring social bisa menjadi medianya. Bukankah HP sudah full fitur, bahkan mayoritas dari kita membeli HP berkamera dan bisa tersambung ke internet? Jika niatnya menyambung atau mempererat tali silaturahmi, maka komunikasi via HP / jejaring social dapat dilakukan tiap hari dengan biaya yang sangat murah dan sangat minim resiko. Apalagi sekarang sudah marak fitur video call yang membuat penelepon dan yang ditelepon seolah-olah berbicara berhadapan muka. Tapi jika nafsu yang berbicara, ingin menampakkan diri dimuka orang lain supaya orang lain bisa melihat apa yang kita kenakan, maka ketemu langsung adalah solusinya. Beli baju baru untuk dikenakan pada saat Lebaran adalah bukti riil yang menunjukkan bahwa silaturahmi justru dijadikan kedok untuk mempertontonkan hawa nafsu. Bukankah kalian mudah menebak, dengan mengenakan baju baru berarti orang itu ingin dilihat sebagai orang yang mampu membeli baju baru? Dimana hakekat silaturahminya? Jika hakekatnya memang silaturahmi, kenapa tidak mengenakan baju biasa yang dikenakan sehari-hari saja? Apakah karena malu? Bukankah malu adalah ego? Apa artinya baju baru jika keburu mati di jalan sebelum berlebaran? Sungguh itu bunuh diri yang sia-sia.

Tulisan ini kuberi judul LEBARAN ATAU PEMBANTAIAN karena banyak alasan. Coba kalian renungkan alasannya berikut ini :

  1. Ketika puasa yang seharusnya kita menahan hawa nafsu ternyata justru meningkatkan kegiatan belanja, bagiku itu adalah pembantaian moral dan pembantaian ekonomi umat. Siapa yang diuntungkan dengan obral hawa nafsu berbelanja pada saat puasa ini? Apakah umat itu sendiri, bangsa kita sendiri atau malah bangsa asing? Pikirkan baik-baik.
  2. Ketika puasa menjelang lebaran kita disuguhi drama kemiskinan versus pamer kekayaan yang dibungkus rapi dengan scenario sedekah atau bagi-bagi zakat fitrah, bagiku itu adalah pembantaian harga diri umat. Siapa yang diuntungkan? Apakah umat yang membutuhkan ataukah ego pribadi si kaya yang terpuaskan?
  3. Ketika menjelang Lebaran terjadi ekonomi biaya tinggi, namun tetap dikonsumsi oleh umat, bagiku adalah pembantaian logika umat. Siapa yang diuntungkan? Umat yang menjadi korban tradisi atau pelaku bisnis transportasi? Para pelaku bisnis transportasi tentu sepaham denganku, lebih baik permintaan stabil dan pendapatan merata setiap bulan, daripada pendapatan hanya melonjak satu bulan setelah itu merugi. Lebih susah mengelola subsidi silang daripada mengelola bisnis yang stabil.
  4. Ketika pada saat Lebaran terjadi pengurasan tabungan umat, bagiku itu adalah pembantaian kemampuan financial umat. Jika umatku lemah secara financial, bagaimana mereka akan mampu membeli dunia? Siapa yang diuntungkan? Dari jaman baheula sampai jaman modern ini tradisi Lebaran berjalan terus bahkan akhir-akhir ini lebih heboh, tapi tidak ada yang berkorelasi positif terhadap pemberdayaan ekonomi umat.
  5. Ketika Lebaran tiba, ribuan orang rela tercabut nyawanya demi ego-nya, bagiku ini adalah pembantaian paling nyata di dunia. Lebaran itu perayaan besar atas kemenangan perang melawan hawa nafsu pribadi, bukan kemenangan untuk merayakan kematian. Tidak perlu menyalahkan jalanan rusak, pengendara mengantuk atau bahkan polisi yang korup. Mau dibikin sistem lalu lintas paling modern sekalipun, sepanjang nafsu ini merajalela, tetap ada nyawa yang melayang sia-sia hanya demi mempertontonkan diri di kampung halaman pada saat Lebaran.

 

Bukankah yang aku tulis adalah fakta? Kenapa banyak orang mengabaikan ajaran guru-guru sekolahnya? Padahal bagiku, ajaran guru-guru sekolah itu adalah ajaran-ajaran yang sangat berguna. Apakah mereka lupa pernah sekolah dahulu? Apakah mereka lupa mereka punya guru-guru yang ajarannya luhur? Mengapa sekarang banyak orang diperbudak ego konsumtif-nya? Siapa guru yang mengajari untuk konsumtif? Betulkan kalian sudah merdeka? Ataukah kalian diperbudak oleh kemerdekaan dan menjadi jajahan bangsa lain yang mengambil keuntungan pada saat Lebaran?

Sadarlah wahai kawan...!

 

 

 


Tuesday, 09 Jul 2019

PEMILU 2020 & SETERUSNYA

Pemilu serentak 2019 telah usai dengan berbagai problematikanya, meskipun sebenarnya problematika ini sifatnya klise, selalu terjadi berulang sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, supaya kita tidak memelihara kebodohan abadi dan bangsa kita cepat maju dan berkembang, penyelenggaraan Pemilu 2020 dan seterusnya harus dibenahi. Apa saja yang penting untuk dibenahi? Mari kita lihat uraiannya berikut ini:

MENGGUNAKAN ALAT BANTU MESIN
Sekarang jaman teknologi. Sebagian besar pekerjaan manual sudah tergantikan oleh mesin. Mesin dibuat untuk meringankan pekerjaan manusia. Demikian pula seharusnya pemungutan suara ini. Pemungutan suara yang dilakukan dengan bantuan mesin akan lebih efektif dan efisien. Caranya mudah saja kok. Warga negara yang mau memilih tinggal datang ke TPS, kemudian kemudian melakukan scan sidik jari atau retinanya. Setelah itu pemilih tinggal memilih gambar kontestan pemilu yang dipilihnya melalui layar atau dengan cara menekan tombol nomor. Selesai. Singkat sekali dan tidak bisa diulang. Data langsung masuk ke penyelenggara pemilu tingkat pusat. Bayangan saya, mesin pemilu ini sesederhana mesin absensi sidik jari atau mesin ATM (ada layarnya). Bahkan saya berharap, suatu ketika nanti pemungutan suara dapat dilakukan melalui handphone, sehingga pemilih dapat leluasa menggunakan hak pilihnya tanpa harus libur dan mengorbankan produktifitasnya.
Apa manfaatnya cara seperti ini?
Pertama, petugas KPPS tidak kelelahan, karena pekerjaan manualnya terbantu mesin, sehingga dapat terhindar dari sakit atau kematian yang tidak perlu. Jumlah petugas juga dapat diminimalisir, sehingga sangat efisien dari sisi biaya dan mengurangi tingkat human error.
Kedua, proses pemilu lebih cepat selesai, sehingga tidak mengganggu stabilitas ekonomi dan politik. Tidak ada lagi sistem perhitungan bertingkat (berjenjang) yang berpotensi menimbulkan keresahan dan konflik.
Ketiga, mengurangi penggunaan kertas (go-green). Ramah lingkungan bukan?
Keempat, dalam jangka panjang sangat hemat biaya, karena mesin pemilu seperti ini dapat digunakan berkali-kali di pemilu berikutnya (bukan sekali pakai seperti kertas dan kardus).
Kelima, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mengalami kemajuan, dari bangsa tradisional yang masih melakukan pemilihan secara manual dan selalu terjebak pada masalah yang sama, menjadi bangsa maju yang mampu memanfaatkan teknologi dan mampu meminimalisir masalah klise yang muncul. Ini lompatan kemajuan yang luar biasa.
Bagi orang yang anti kemajuan, pasti akan menolak dengan alasan tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini. Mengapa cara berpikirnya tidak dibalik? Jika tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini, bagaimana caranya supaya semua daerah dapat menggunakan teknologi maju seperti ini? Apa yang harus dilakukan? Sejelek-jeleknya, jika masih ada yang manual, prosentasenya tidak lebih dari 25%.

Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Copyright 2009 - 2021 :: ekotama. All Rights Reserved.