.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Tuesday, 19 Mar 2019
Perjanjian Waralaba
mutia
Halo Bapak Ekotama, Saya Mutia, saat ini saya sedang menyusun kontrak perjanjian waralaba untuk lomba contract drafting. Saya telah membaca buku bapak yang berjudul rahasia kontrak franchise, buku tersebut sangat bermanfaat untuk membimbing saya dal
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 5
Total Pengunjung: 1335258

Wednesday, 06 Nov 2013
CARA GAMPANG MENATA PASAR

CARA GAMPANG MENATA PASAR

 

Aku menulis artikel ini karena aku adalah pengunjung tetap pasar tradisional sejak aku lahir sampai usiaku hampir kepala empat sekarang. Nenekku adalah pedagang pasar tradisional, sejak balita aku sudah diajak menetap di pasar. Ketika aku duduk di bangku SD sampai SMA, aku selalu membantu ibuku belanja di pasar tradisional. Ibuku hanya seorang PNS yang gajinya pas-pasan (jaman Soeharto dulu), sehingga supaya gaji cukup untuk hidup sebulan, mau tidak mau harus belanja barang kebutuhan ke pasar tradisional. Setelah itu, sejak kuliah aku harus mandiri. Uang saku pas-pasan membuat aku harus berburu barang kebutuhan ke pasar. Sampai dengan saat ini, ketika aku sudah menjadi "pengusaha" pun aku masih rutin naik motor ke pasar tradisional untuk mendapatkan barang kebutuhan sehari-hari. Rumahku hanya berjarak 700 meter dari pasar tradisional.


Jadi, aku tahu betul seperti apa bentuk dan isi pasar tradisional itu. Aku hapal lorong-lorongnya, baunya, perilaku pedagangnya dan kualitas barang-barangnya. Sudah 36 tahun aku hidup di dunia ini dan pasar tradisional adalah bagian dari hidupku. Kalian tidak perlu meragukan isi artikel ku ini. Aku bukanlah orang-orang kota yang tiap hari belanja kebutuhan barang kebutuhan sehari-hari di hypermarket. Aku ketawa sekeras-kerasnya, ketika mendapati mereka yang tidak tahu pasar tradisional berkoar-koar tentang revitalisasi pasar. Bahkan ada yang dengan gagahnya memperlihatkan diri sebagai "pahlawan kesiangan" dengan membela keberadaan pasar tradisional dari kehadiran pasar modern (padahal dirinya adalah pelanggan pasar modern).
Seperti yang aku lihat, aku rasakan dan aku renungkan, pasar tradisional di Indonesia itu dapat menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat kalau dikelola secara optimal. Tentunya yang mengelola adalah orang-orang yang biasa belanja di pasar tradisional (bukan di pasar modern) dan punya visi mulia untuk menumbuhkembangkan ekonomi rakyat. Ini poin-poin penting yang ada di kepalaku:

1. Pengelola Pasar


Selama ini pengelolaan pasar diserahkan kepada Dinas Pasar atau perusahaan daerah yang mengelola pasar. Tidak ada yang salah dengan dinas pasar atau perusahaan daerah yang mengelola pasar tersebut. Tapi lihatlah siapa yang ada di dalamnya. Jika kalian menempatkan orang-orang yang sok modern dengan gaya hidup mewah untuk bekerja di dinas pasar atau perusahaan pengelola pasar, itu istilah kerennya the wrong man in the wrong place. Kalian salah menempatkan orang! Itulah sebabnya mereka tidak bisa mengubah pasar menjadi tempat yang menarik untuk bertransaksi dan tidak mampu mengendalikan perilaku pedagang. Tempatkanlah orang yang betul-betul qualified untuk mengelola pasar. Caranya gampang kok. Lihat saja gaya hidupnya, kalau yang bersangkutan selalu membeli baju di mall dan berbelanja di minimarket, jangan sekali-sekali orang seperti ini kalian tempatkan di dinas pasar atau perusahaan pengelola pasar. Mereka tidak akan pernah menjiwai pekerjaannya. Sia-sia saja rakyat Indonesia menggaji tinggi mereka per bulan.

2. Fisik Pasar


Masalah abadi yang mendera pasar tradisional sejak aku lahir tahun 1977 sampai sekarang tahun 2013 ini adalah kebersihan, kerapian, keamanan, kenyamanan. Pasar tradisional itu selalu kumuh, berbaru tidak sedap, banyak tikusnya, kalau hujan lorong-lorongnya berubah menjadi becek berlumpur penuh penyakit. Padahal guru-guru kita selalu mengajarkan bahwa kebersihan itu pangkal kesehatan, kebersihan itu bagian dari iman. Jangan salahkan anak-anak kita yang tidak mau berkunjung ke pasar tradisional karena ajaran guru-gurunya memang berkebalikan dengan situasi pasar tradisional itu. Pasar tradisional itu selalu tidak rapi, pengunjung menjadi korban. Kita mau berjalan saja susah saking banyaknya barang-barang pedagang yang ditumpuk sampai di lorong-lorong. Bagaimana pengunjung banyak jika lorongnya saja sudah ditumpuki barang seperti gudang? Pasar tradisional juga selalu identik dengan keberadaan preman pasar. Siapa yang nyaman dengan preman? Pengunjung harus mengamankan dirinya sendiri, sehingga mereka lari ke pasar modern (minimarket s/d hypermarket) yang bebas preman, malah dijaga security segala. Pasar tradisional itu juga selalu identik dengan parkir yang amburadul. Pengunjung susah parkir, sehingga daripada kehilangan / menanggung kerusakan kendaraan yang harganya belasan hingga ratusan juta, mereka memilih parkir di pasar modern (minimarket s/d hypermarket) yang menyediakan tempat parkir memadai, aman dan nyaman.


Solusinya mudah bukan? Bersihkan pasar tradisional, sehingga berbau harum. Rapikan pasar tradisional, sehingga pengunjung membludak. Amankan pasar tradisional dari preman pasar dan tugaskan security seperti di pasar modern. Nyamankan pengunjung pasar tradisional dengan memberikan tempat parkir yang luas. Kalian tidak perlu kuatir, tanah negara masih banyak yang nganggur, bisa diberdayakan.
Satu hal lagi yang membuat kita malas masuk pasar tradisional adalah atapnya yang rendah, sumpek, tidak memiliki alur udara segar yang cukup. Caranya gampang. Bikin bangunan pasar seperti bangunan jaman belanda itu. Tinggikan atapnya. Anggaran renovasi atau pendirian pasar jangan dikorupsi. Aku yakin, jika semua pasar atapnya dibikin seperti hangar pesawat terbang atau atap pabrik yang tinggi-tinggi itu, tidak ada lagi keluhan sumpek, panas, dan kurang oksigen. Indonesia punya uang cukup untuk merenovasi pasar seperti ini, asal jangan dikorupsi.

3. Pengaturan Pedagang Pasar


Pedagang pasar itu manusia yang hanya paham berdagang. Di kepala mereka hanya ada gambaran menyediakan barang sebanyak-banyaknya dan menjual sebanyak-banyaknya pula. Mereka tidak paham bagaimana cara menarik pelanggan. Dinas pasar atau perusahaan pengelola pasar harus mampu mengatur para pedagang ini. Belajarlah dari cara hypermarket mengatur barang-barangnya. Target utamanya adalah bukan seberapa banyak barang yang ditumpuk, tetapi seberapa nyaman pelanggan datang dan memilih barang. Sediakan lorong yang cukup bagi pelanggan untuk berlalu lalang. Di satu sisi pelanggan merasa nyaman, disisi lain keamanan terjamin. Mudah bukan?

4. Pengaturan Barang Yang Dijual Di Pasar


Barang-barang yang dijual di pasar itu seringkali dikeluhkan kualitasnya. Banyak makanan yang dijual menggunakan pewarna tekstil misalnya. Padahal rakyat Indonesia makin lama makin cerdas. Mereka mulai peduli dengan kesehatan. Dinas pasar atau perusahaan pengelola pasar harus memiliki standar aturan yang jelas tentang barang yang dijual di pasar, mulai dari jenisnya, kemasannya sampai dengan isinya. Jenisnya diutamakan barang-barang kebutuhan pokok masyarakat yang harganya seringkali tidak stabil itu. Kemasannya harus aman bagi kesehatan dan memudahkan pelanggan untuk membawa (menjadi daya tarik tersendiri bagi pelanggan). Khusus untuk kualitas isinya, libatkan badan POM. Jangan sampai Badan POM itu bekerja hanya kalau mau lebaran saja. Tiap hari mereka harus melakukan sampling di pasar tradisional. Untuk mengendalikan kualitas, pedagang harus memiliki ijin dari Badan POM. Caranya barang yang akan dijual (khususnya makanan dan minuman) dikirimkan sampelnya dulu ke Badan POM. Jika lolos uji, baru diberikan ijin untuk dijual di pasar. Mudah bukan?

5. Operasional Pasar


Kebutuhan manusia itu berlangsung selama 24 jam. Itu pula yang ditangkap oleh pengusaha yang membuka usaha pasar modern (minimarket s/d hypermarket). Sedangkan pasar tradisional rata-rata buka jam 5 pagi dan jam 10 pagi sudah sepi. Masuklah pasar tradisional jam 14.00, maka kalian akan dapati los-los kosong melompong. Bahkan pasar tradisional terbesar di jogja tutup jam 17.00. Pertanyaannya, apakah kebutuhan kalian dapat dihentikan sampai dengan jam 17.00 tiap hari?


Jika pasar tradisional lebih sepi daripada pasar modern, itu mudah dimaklumi. Pasar tradisional beroperasi 5 jam (dari jam 05.00 s/d 10.00), sedangkan pasar modern beroperasi 14 jam nonstop (dari pukul 07.00 s/d 22.00). Pasar tradisional besar beroperasi 12 jam (dari jam 05.00 s/d 17.00), sedangkan pasar modern bisa beroperasi sampai 24 jam. Dari rentang waktu operasional saja sudah kelihatan, siapa yang akan mendulang konsumen / pelanggan terbanyak.


Aku lebih suka kalau pasar tradisional itu buka 24 jam, sehingga seluruh kebutuhan hidupku selama 24 jam itu tercukupi. Aku pernah mengalami peristiwa kematian salah satu anggota keluarga malam hari pukul 20.05, harus mencari segala macam kebutuhan upacara kematian malam itu supaya jenazah bisa dikuburkan keesokan harinya. Jangan salahkan aku kalau semua kebutuhan itu akhirnya aku dapatkan bukan dari pasar tradisional, tetapi dari toko-toko modern yang buka sampai tengah malam. Tidak ada pejabat dinas pasar atau pejabat perusahaan pengelola pasar yang peduli dengan kebutuhan pelanggan seperti ini. Aku yakin kalian juga pernah mengalami hal ini.

6. Kebijakan Umum Tentang Pasar Tradisional


Aku tertawa ngakak ketika banyak pimpinan daerah dan anggota dewan perwakilan rakyat daerah berteriak-teriak untuk menutup pasar modern dengan alasan mematikan pasar tradisional. Teriakan mereka ini mencerminkan kekosongan otak mereka. Aku yakin seyakin-yakinnya, mereka yang berteriak-teriak itu adalah orang munafik sejati. Mereka pelanggan pasar modern, bukan pasar tradisional. Ketidakmengertian mereka tentang pasar tradisional itulah yang membuat mereka berteriak-teriak seperti tong kosong nyaring bunyinya.


Yang membuat pasar tradisional ditinggalkan pelanggannya itu yak arena fisiknya, kualitas barangnya, perilaku pedagangnya, tingkat keamanan dan kenyamanannya yang rendah, dsb. Pelanggan akhirnya menggunakan logika, sama-sama mengeluarkan uang, memilih tempat transaksi yang fisiknya bagus, kualitas barang terjamin, perilaku pedagangnya beretika dan menghormati pelanggan, tingkat keamanannya bagus, tingkat kenyamannya terjamin. Jadi, supaya pasar tradisional itu terus hidup, caranya mudah: ubahlah pasar tradisional itu sendiri. Bikin kebijakan yang orientasinya adalah mengangkat derajat hidup pasar tradisional. Bukan malah membiarkan pasar tradisional terlunta-lunta dalam keterpurukannya, kemudian mengeluarkan kebijakan menutup pasar modern. Itu kebijakan ngawur sekaligus tidak memakai otak. Jika kebijakan seperti ini dijadikan pedoman, maka kita sebagai rakyat Indonesia tidak akan punya tempat berbelanja yang layak. Pasar modern ditutup dengan alasan mematikan pasar tradisional, sedangkan pasar tradisional yang sekarat itu tidak segera diperbaiki supaya hidup lagi. Akhirnya dua-duanya mati. Para pejabat akan menggunakan cara "melarikan diri" jaman baheula, saling menyalahkan satu sama lain.


Jika kalian tidak percaya dengan apa yang aku tulis ini, datanglah ke pasar tradisional yang jaraknya 700 meter dari rumahku. Pasar ini sudah hidup sejak aku belum lahir. Selama 36 tahun umurku, tidak ada perubahan berarti. Ketika aku balita dulu, aku melihat kondisi yang sama, sekarang pun yang katanya sudah abad 21, kondisinya masih tetap sama. Lorong-lorongnya tidak pernah berubah, masih becek. Aromanya tidak pernah menjadi harum, masih bau comberan. Ketika aku akan membeli makanan, disamping makanan itu seringkali kulihat tikus-tikus berkeliaran. Mungkinkah aku atau kalian membeli makanan yang disampingnya sudah dikelilingi tikus-tikus pasar? Padahal didepan pasar itu ada kantor Dinas Pasar. Tidak ada satu pun petugas dinas pasar yang mati-matian membersihkan lorong-lorong pasar, menangkap tikus-tikus pasar, atau memberangus preman-preman pasar. Mereka lebih suka duduk sampil ngopi dan merokok sambil baca koran. Kalian bisa membayangkan betapa ironisnya kan?

 

 

 


Tuesday, 09 Jul 2019

PEMILU 2020 & SETERUSNYA

Pemilu serentak 2019 telah usai dengan berbagai problematikanya, meskipun sebenarnya problematika ini sifatnya klise, selalu terjadi berulang sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, supaya kita tidak memelihara kebodohan abadi dan bangsa kita cepat maju dan berkembang, penyelenggaraan Pemilu 2020 dan seterusnya harus dibenahi. Apa saja yang penting untuk dibenahi? Mari kita lihat uraiannya berikut ini:

MENGGUNAKAN ALAT BANTU MESIN
Sekarang jaman teknologi. Sebagian besar pekerjaan manual sudah tergantikan oleh mesin. Mesin dibuat untuk meringankan pekerjaan manusia. Demikian pula seharusnya pemungutan suara ini. Pemungutan suara yang dilakukan dengan bantuan mesin akan lebih efektif dan efisien. Caranya mudah saja kok. Warga negara yang mau memilih tinggal datang ke TPS, kemudian kemudian melakukan scan sidik jari atau retinanya. Setelah itu pemilih tinggal memilih gambar kontestan pemilu yang dipilihnya melalui layar atau dengan cara menekan tombol nomor. Selesai. Singkat sekali dan tidak bisa diulang. Data langsung masuk ke penyelenggara pemilu tingkat pusat. Bayangan saya, mesin pemilu ini sesederhana mesin absensi sidik jari atau mesin ATM (ada layarnya). Bahkan saya berharap, suatu ketika nanti pemungutan suara dapat dilakukan melalui handphone, sehingga pemilih dapat leluasa menggunakan hak pilihnya tanpa harus libur dan mengorbankan produktifitasnya.
Apa manfaatnya cara seperti ini?
Pertama, petugas KPPS tidak kelelahan, karena pekerjaan manualnya terbantu mesin, sehingga dapat terhindar dari sakit atau kematian yang tidak perlu. Jumlah petugas juga dapat diminimalisir, sehingga sangat efisien dari sisi biaya dan mengurangi tingkat human error.
Kedua, proses pemilu lebih cepat selesai, sehingga tidak mengganggu stabilitas ekonomi dan politik. Tidak ada lagi sistem perhitungan bertingkat (berjenjang) yang berpotensi menimbulkan keresahan dan konflik.
Ketiga, mengurangi penggunaan kertas (go-green). Ramah lingkungan bukan?
Keempat, dalam jangka panjang sangat hemat biaya, karena mesin pemilu seperti ini dapat digunakan berkali-kali di pemilu berikutnya (bukan sekali pakai seperti kertas dan kardus).
Kelima, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mengalami kemajuan, dari bangsa tradisional yang masih melakukan pemilihan secara manual dan selalu terjebak pada masalah yang sama, menjadi bangsa maju yang mampu memanfaatkan teknologi dan mampu meminimalisir masalah klise yang muncul. Ini lompatan kemajuan yang luar biasa.
Bagi orang yang anti kemajuan, pasti akan menolak dengan alasan tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini. Mengapa cara berpikirnya tidak dibalik? Jika tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini, bagaimana caranya supaya semua daerah dapat menggunakan teknologi maju seperti ini? Apa yang harus dilakukan? Sejelek-jeleknya, jika masih ada yang manual, prosentasenya tidak lebih dari 25%.

Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Copyright 2009 - 2021 :: ekotama. All Rights Reserved.