.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Tuesday, 19 Mar 2019
Perjanjian Waralaba
mutia
Halo Bapak Ekotama, Saya Mutia, saat ini saya sedang menyusun kontrak perjanjian waralaba untuk lomba contract drafting. Saya telah membaca buku bapak yang berjudul rahasia kontrak franchise, buku tersebut sangat bermanfaat untuk membimbing saya dal
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 7
Total Pengunjung: 1335263

Thursday, 01 May 2014
KISAH PELANCONG

KISAH PELANCONG

Tahukah kalian, bangsa Indonesia makin besar, tetapi kualitas kebangsaan dan nasionalismenya makin mengecil? Aku sangat sedih melihat kenyataan ini. Kisah-kisah yang akan kuungkapkan berikut ini adalah sedikit bukti yang menunjukkan bahwa bangsa kita jauh dari berdikari.

KISAH MRT
Temanku pulang dari melancong Singapura. Dengan bangganya dia cerita bahwa naik MRT di Singapura itu enak sekali, tidak seperti di Indonesia. Aku dengarkan semua cerita itu secermat-cermatnya. Setelah ia bercerita berapi-api, aku bertanya sambil tersenyum, "Pernahkah kamu naik KRL atau KRD di Indonesia?"
Temanku terperanjat. Ia terdiam. Kepalanya menggeleng. Kemudian aku berkata, "Kalau begitu, kenapa kau bilang naik MRT lebih enak daripada naik kereta komuter di Indonesia?"
Temanku itu wajahnya seketika merah padam. Tapi mulutnya kemudian terdiam. Semoga terdiam selamanya.

KISAH KETERTIBAN DI MANCANEGARA
Temanku ini juga pulang dari melancong Singapura. Ia bercerita sampai mulutnya berbusa-busa, bahwa di Singapura itu bersih, kotanya enak, semuanya tertib. Katanya, kalau meludah atau buang sampah sembarangan akan kena denda yang cukup tinggi. Temanku ini menjadi tertib di Singapura.
Suatu ketika di Indonesia, ia terbatuk-batuk, kemudian meludah di trotoar. Setelah ia puas membuang ingus dan meludah, aku bertanya, "Celakalah orang-orang biadab seperti kamu itu...!"
Temanku terperanjat. Ia melongo seperti kerbau. Sebelum kebodohannya tambah parah, aku berkata, "Seharusnya kamu meludah dan buang ingus seperti itu di Singapura, bukan di Indonesia. Ini tanah airmu sendiri yang harus kamu jaga kebersihannya. Kamu ini bodoh sekali, menjaga kebersihan negara lain, tetapi mengotori negara sendiri....!"
Temanku ini tambah melongo lagi. Aku tersenyum dan meninggalkan dia di pinggir jalan dengan ludah dan ingusnya. Semoga ia ditangkap Satpol PP dan didenda 50 juta karena buang sampah sembarangan, seperti di Singapura sana.

KISAH PESAWAT ASING
Temanku yang satu ini selalu membanggakan produk bangsa lain. Suatu ketika, ia secara berapi-api bercerita betapa enaknya naik pesawat Singapore Airlines dan Etihad. Celakanya, ia menjelek-jelekkan maskapai tanah air. Ia mengatakan, maskapai tanah air itu pesawatnya kayak pesawat kargo, tidak layak mengangkut manusia.
Setelah selesai bercerita, aku kemudian bertanya, "Pernahkah kamu naik Merpati sebelum bangkrut?" Temanku ini menggeleng. Tapi dari sorot matanya aku tahu bahwa ia sebenarnya tidak mengerti apa itu maskapai Merpati.
Aku hanya berdoa, semoga Tuhan menyadarkannya. Ia sudah memberikan keuntungan untuk maskapai bangsa lain yang dibangga-banggakannya itu, tetapi bikin maskapai negeri sendiri tidak laku. Setidaknya, tidak usahlah bercerita berapi-api tentang maskapai bangsa lain. Untuk apa memperkaya bangsa lain? Percuma saja ia keliling dunia jika pola pikirnya sepicik itu.

KISAH DUBAI
Temanku pernah ke Dubai. Sepulang dari Dubai ia bercerita berapi-api juga, bahwa disana gedungnya tinggi-tinggi, bagus-bagus, bahkan ada pulau buatan segala. Disana gurun juga bisa diubah jadi lahan menghijau. Mimik wajahnya menyiratkan ia sangat kagum dengan "pemandangan semu" seperti itu. Kemudian aku bertanya, "Kenapa Indonesia tidak memiliki yang seperti itu? Justru disini hutan saja dibakar?"
Dia terbengong-bengong. Kemudian kujelaskan supaya otaknya berisi, "Karena emas kita digarong orang asing, minyak dan gas kita dicuri orang asing, batubara kita dirampok orang asing dan semua bahan tambang yang penting diembat orang asing. Kita tidak punya modal untuk membangun gedung tinggi-tinggi seperti itu. Kalau di Dubai gurun dijadikan lahan hijau, disini hutan dibakar, juga untuk kepentingan bangsa asing. Kamu tahu caranya supaya kita seperti Dubai?"
Dia menggeleng. Kujawab sendiri lagi pertanyaanku, "Revolusi...!!! Percuma saja manusia macam kamu ini hidup di Indonesia. Pendidikan boleh tinggi, kerjaannya melancong keluar negeri, tapi hanya bisa mengagumi bangsa asing. Berani kamu ikut revolusi?!?"
Temanku ini mematung, seperti patung batu yang tidak dikaruniai otak untuk berkarya oleh Tuhannya. Aku sangat tersinggung ketika ia membanggakan pulau buatan di Dubai. Padahal di Indonesia ini terdapat karunia Allah berupa belasan ribu pulau. Tidak usah bikin pulau, disini sudah ada belasan ribu pulau. Tinggal dipercantik fasilitas umumnya, jadilah resort-resort yang lebih mewah daripada Dubai.

KISAH BUDAYA
Temanku baru pulang melancong ke beberapa negara. Ia kemudian berkisah dengan bangganya, bahwa budaya orang asing itu lebih hebat daripada budaya orang Indonesia. Katanya diluar negeri itu jam kerja 8 jam ya orang hanya kerja 8 jam saja. Dia mencontohkan sopir bus, setelah 8 jam kerja, ia tidak akan mau lagi bekerja dan meninggalkan bus serta penumpangnya. Temanku ini terkagum-kagum dengan "kedisiplinan ala barat" itu, bahkan dia menjelek-jelekkan saudara sebangsanya yang suka bekerja overtime sehingga sering terjadi kecelakaan.
Mendengar kisah itu, aku tertawa. Temanku kebingungan mendengar suara tertawaku yang keras membahana. Setelah puas tertawa, aku bertanya, "Kalau begitu, kenapa kamu menyuruh anak buahmu lembur sampai malam, padahal jam kerjanya hanya 9 jam, dari jam 08.00 sampai jam 17.00? Bagaimana kalo semua anak buahmu seperti "orang barat" yang kamu banggakan itu? Pas jam 17.00 mereka pulang? Kamu gembira atau sakit kepala?!?"
Wajah temanku itu seketika berubah. Pucat pasi kayak nasi basi yang tidak enak dimakan. Kekaguman konyol yang tidak dapat ia terapkan sendiri dalam kehidupan sehari-hari.

KISAH PAKANSI
Ada temanku yang hobby pakansi keluar negeri. Ia rela menghabiskan dana puluhan juta rupiah sekali jalan untuk mengunjungi negeri-negeri orang asing itu. Foto-fotonya selalu dipamerkan di akun social media miliknya. Suatu ketika ia memamerkan passportnya yang full dengan cap imigrasi negara lain.
Aku kemudian bertanya, "Pernahkah kamu ke Tana Toraja? Pernahkah kamu ke Danau Toba? Pernahkah kamu ke Candi Plaosan yang lebih indah daripada Angkor Wat itu?"
Temanku menggeleng. Mulutnya seketika terdiam. Saking jengkelnya, aku bilang, "Bagaimana kamu tega menghabiskan uang untuk memperkaya bangsa asing, padahal kekayaan bangsa sendiri saja kamu belum pernah kunjungi?"
Rupanya temanku ini tidak terima. Ia berusaha menyanggah ucapanku, "Tapi kan disini transportasinya lebih sulit. Tidak ada perjalanan yang enak kesana. Jaminan keselamatan kita bagaimana?"
Langsung aku skakmat, "Ini bangsamu sendiri. Kalau bukan kita yang merintis, siapa lagi? Mau berkoar-koar kayak pejabat itu? Mengundang orang asing mengunjungi negeri kita, sementara dia sendiri belum pernah mengunjungi wilayah yang dikoar-koarkan itu? Kita ini bukan pejabat. Kita ini nasionalis sejati, membangun bangsa ini menjadi besar, bangga dan bisa mengelola semua kekayaan yang dimilikinya".
Temanku terdiam. Mungkin ia sedang merencanakan perjalanan ke Afrika untuk membuktikan gajah Afrika lebih besar daripada gajah Sumatra dan kemudian menyebarkan fotonya di dunia maya. Seperti katak dalam tempurung ya?

Kisah-kisah itu hanyalah sekelumit cerita konyol yang memuakkan, karena tidak bermanfaat untuk kemajuan bangsa Indonesia. Aku membenci kisah-kisah tentang bangsa asing ini, karena mengerdilkan kita sendiri. Aku ingin menjadi bagian dari bangsa yang besar, bangsa yang kisahnya diceritakan di negeri-negeri manca sampai puluhan abad lamanya. Perbedaan aku dengan temanku itu adalah, aku tidak pernah cerita tentang hebatnya bangsa asing. Tanganku yang berbicara untuk membesarkan bangsa Indonesia. Bagaimana dengan kalian?!?

 


Tuesday, 09 Jul 2019

PEMILU 2020 & SETERUSNYA

Pemilu serentak 2019 telah usai dengan berbagai problematikanya, meskipun sebenarnya problematika ini sifatnya klise, selalu terjadi berulang sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, supaya kita tidak memelihara kebodohan abadi dan bangsa kita cepat maju dan berkembang, penyelenggaraan Pemilu 2020 dan seterusnya harus dibenahi. Apa saja yang penting untuk dibenahi? Mari kita lihat uraiannya berikut ini:

MENGGUNAKAN ALAT BANTU MESIN
Sekarang jaman teknologi. Sebagian besar pekerjaan manual sudah tergantikan oleh mesin. Mesin dibuat untuk meringankan pekerjaan manusia. Demikian pula seharusnya pemungutan suara ini. Pemungutan suara yang dilakukan dengan bantuan mesin akan lebih efektif dan efisien. Caranya mudah saja kok. Warga negara yang mau memilih tinggal datang ke TPS, kemudian kemudian melakukan scan sidik jari atau retinanya. Setelah itu pemilih tinggal memilih gambar kontestan pemilu yang dipilihnya melalui layar atau dengan cara menekan tombol nomor. Selesai. Singkat sekali dan tidak bisa diulang. Data langsung masuk ke penyelenggara pemilu tingkat pusat. Bayangan saya, mesin pemilu ini sesederhana mesin absensi sidik jari atau mesin ATM (ada layarnya). Bahkan saya berharap, suatu ketika nanti pemungutan suara dapat dilakukan melalui handphone, sehingga pemilih dapat leluasa menggunakan hak pilihnya tanpa harus libur dan mengorbankan produktifitasnya.
Apa manfaatnya cara seperti ini?
Pertama, petugas KPPS tidak kelelahan, karena pekerjaan manualnya terbantu mesin, sehingga dapat terhindar dari sakit atau kematian yang tidak perlu. Jumlah petugas juga dapat diminimalisir, sehingga sangat efisien dari sisi biaya dan mengurangi tingkat human error.
Kedua, proses pemilu lebih cepat selesai, sehingga tidak mengganggu stabilitas ekonomi dan politik. Tidak ada lagi sistem perhitungan bertingkat (berjenjang) yang berpotensi menimbulkan keresahan dan konflik.
Ketiga, mengurangi penggunaan kertas (go-green). Ramah lingkungan bukan?
Keempat, dalam jangka panjang sangat hemat biaya, karena mesin pemilu seperti ini dapat digunakan berkali-kali di pemilu berikutnya (bukan sekali pakai seperti kertas dan kardus).
Kelima, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mengalami kemajuan, dari bangsa tradisional yang masih melakukan pemilihan secara manual dan selalu terjebak pada masalah yang sama, menjadi bangsa maju yang mampu memanfaatkan teknologi dan mampu meminimalisir masalah klise yang muncul. Ini lompatan kemajuan yang luar biasa.
Bagi orang yang anti kemajuan, pasti akan menolak dengan alasan tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini. Mengapa cara berpikirnya tidak dibalik? Jika tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini, bagaimana caranya supaya semua daerah dapat menggunakan teknologi maju seperti ini? Apa yang harus dilakukan? Sejelek-jeleknya, jika masih ada yang manual, prosentasenya tidak lebih dari 25%.

Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Copyright 2009 - 2021 :: ekotama. All Rights Reserved.