.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Tuesday, 19 Mar 2019
Perjanjian Waralaba
mutia
Halo Bapak Ekotama, Saya Mutia, saat ini saya sedang menyusun kontrak perjanjian waralaba untuk lomba contract drafting. Saya telah membaca buku bapak yang berjudul rahasia kontrak franchise, buku tersebut sangat bermanfaat untuk membimbing saya dal
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 4
Total Pengunjung: 1335224

Saturday, 02 Aug 2014
KEKAYAAN SEMU

KEKAYAAN SEMU

Pada musim Lebaran 2014 ini ada dua orang temanku yang keheranan dengan gaya hidup para pemudik (orang udik). Yang pertama, temanku yang rumahnya di desa. Tetangganya banyak yang pulang kampung membawa mobil. Tentunya mobil plat Jakarta. Ia bercerita, bahwa mobil-mobil itu ketika malam tiba berbunyi sendiri saling bersahutan. Ia merasa terganggu sekali. Usut punya usut ternyata para pemudik yang membawa mobil itu sengaja membunyikan alarm untuk menarik perhatian para tetangganya. Alarm yang berbunyi belasan detik itu tidak segera dimatikan. Jadilah para tetangga mau tidak mau menengok mobil siapa yang berbunyi itu. Aku tertawa mendengar ceritanya. Kubilang kepada temanku itu, itulah gaya hidup orang kota yang kampungan. Temanku ikut tertawa meskipun dalam hatinya ia masih jengkel, terganggu dengan musik alarm mobil yang sama sekali tidak merdu itu.

Yang kedua, temanku terjebak macet pada hari H Lebaran. Ditengah-tengah kemacetan itu ia masih sempat menganalisis. Ia mengatakan kepadaku bahwa orang Indonesia itu ternyata kaya-kaya. Terlihat nyata kalau liburan mobilnya keluar semua sampai memacetkan jalan raya. Tetapi tidak lama kemudian, ia buru-buru bertanya, “jangan-jangan kekayaan semu ya?”

Mau tidak mau aku jadi ikut berpikir. Kekayaan semu?!? Beberapa detik kemudian aku tersenyum. Kukatakan kepada temanku itu bahwa besar kemungkinan dugaannya benar. Siapa yang tahu kalau mobil dan motor yang memacetkan jalan raya itu ternyata milik bank, leasing, atau perusahaan rental mobil? Bukankah di kampungnya para pemudik ini tidak mungkin memamerkan BPKB mobil dan motornya? Yang dilihat orang pastilah fisik mobil atau motornya. Aku tertawa sendiri menyadari kecerdikan temanku itu.

Beberapa saat kemudian aku termenung. Hakikat Idul Fitri itu apa? Aku kembali terngiang pelajaran guru agamaku bahwa Idul Fitri adalah perayaan hari kemenangan. Kemenangan atas apa? Kemenangan atas hawa nafsu yang berhasil kita kekang selama bulan Ramadhan (bulan puasa). Mengingat pelajaran guru agamaku itu, dahiku berkerut. Kitab suci memang tidak mengatur bagaimana cara kita merayakan kemenangan itu. Namun apakah kita juga boleh merayakannya dengan berlebih-lebihan dan menunjukkan kekayaan yang bahkan “semu” itu?

Aku menjadi gusar. Malam itu tidak mungkin aku bertanya kepada temanku yang lain, karena mereka masih sibuk kesana kemari dengan baju baru dan kendaraan barunya ke rumah kolega dan saudara-saudaranya. Akhirnya kuputuskan untuk bertanya kepada Tuhan. Namun Tuhan tidak memberikan jawaban malam itu. Aku terjebak pada kebingunganku sendiri ditengah nyanyian binatang malam yang menyanyi riang apa adanya. Terasa damai sekali malam itu. Jauh dari hiruk pikuk kemacetan jalan raya yang saat ini sudah sampai masuk ke jalan-jalan desa.

Dua hari kemudian aku menulis artikel ini. Ternyata kesimpulan yang kutulis hanya dua hal saja:

  1. Merayakan Idul Fitri ala kadarnya lebih indah dan bermakna daripada merayakannya secara berlebihan, karena berlebihan itu sama dengan memanjakan hawa nafsu;
  2. Menunjukkan kekayaan semu kepada orang lain sama dengan menunjukkan betapa miskinnya diri kita ditengah mewahnya kehidupan yang dijalani.

 

 


Tuesday, 09 Jul 2019

PEMILU 2020 & SETERUSNYA

Pemilu serentak 2019 telah usai dengan berbagai problematikanya, meskipun sebenarnya problematika ini sifatnya klise, selalu terjadi berulang sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, supaya kita tidak memelihara kebodohan abadi dan bangsa kita cepat maju dan berkembang, penyelenggaraan Pemilu 2020 dan seterusnya harus dibenahi. Apa saja yang penting untuk dibenahi? Mari kita lihat uraiannya berikut ini:

MENGGUNAKAN ALAT BANTU MESIN
Sekarang jaman teknologi. Sebagian besar pekerjaan manual sudah tergantikan oleh mesin. Mesin dibuat untuk meringankan pekerjaan manusia. Demikian pula seharusnya pemungutan suara ini. Pemungutan suara yang dilakukan dengan bantuan mesin akan lebih efektif dan efisien. Caranya mudah saja kok. Warga negara yang mau memilih tinggal datang ke TPS, kemudian kemudian melakukan scan sidik jari atau retinanya. Setelah itu pemilih tinggal memilih gambar kontestan pemilu yang dipilihnya melalui layar atau dengan cara menekan tombol nomor. Selesai. Singkat sekali dan tidak bisa diulang. Data langsung masuk ke penyelenggara pemilu tingkat pusat. Bayangan saya, mesin pemilu ini sesederhana mesin absensi sidik jari atau mesin ATM (ada layarnya). Bahkan saya berharap, suatu ketika nanti pemungutan suara dapat dilakukan melalui handphone, sehingga pemilih dapat leluasa menggunakan hak pilihnya tanpa harus libur dan mengorbankan produktifitasnya.
Apa manfaatnya cara seperti ini?
Pertama, petugas KPPS tidak kelelahan, karena pekerjaan manualnya terbantu mesin, sehingga dapat terhindar dari sakit atau kematian yang tidak perlu. Jumlah petugas juga dapat diminimalisir, sehingga sangat efisien dari sisi biaya dan mengurangi tingkat human error.
Kedua, proses pemilu lebih cepat selesai, sehingga tidak mengganggu stabilitas ekonomi dan politik. Tidak ada lagi sistem perhitungan bertingkat (berjenjang) yang berpotensi menimbulkan keresahan dan konflik.
Ketiga, mengurangi penggunaan kertas (go-green). Ramah lingkungan bukan?
Keempat, dalam jangka panjang sangat hemat biaya, karena mesin pemilu seperti ini dapat digunakan berkali-kali di pemilu berikutnya (bukan sekali pakai seperti kertas dan kardus).
Kelima, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mengalami kemajuan, dari bangsa tradisional yang masih melakukan pemilihan secara manual dan selalu terjebak pada masalah yang sama, menjadi bangsa maju yang mampu memanfaatkan teknologi dan mampu meminimalisir masalah klise yang muncul. Ini lompatan kemajuan yang luar biasa.
Bagi orang yang anti kemajuan, pasti akan menolak dengan alasan tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini. Mengapa cara berpikirnya tidak dibalik? Jika tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini, bagaimana caranya supaya semua daerah dapat menggunakan teknologi maju seperti ini? Apa yang harus dilakukan? Sejelek-jeleknya, jika masih ada yang manual, prosentasenya tidak lebih dari 25%.

Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Copyright 2009 - 2021 :: ekotama. All Rights Reserved.