.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Friday, 14 May 2021
Mau beli buku
Tedjo Moelyono
Saya berminat membeli buku-buku nya tapi hubungi nomer telpon tertera tidak bisa, saya bisa dihubungi di 081 230 12658
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 10
Total Pengunjung: 1365776

Tuesday, 16 May 2017
SUPERVISOR PROVOKATOR

SUPERVISOR PROVOKATOR

Sejatinya, fungsi Supervisor dalam struktur organisasi perusahaan adalah sebagai pengawas operasional pekerjaan sehari-hari. Tugasnya mengawasi kinerja unit kerjanya. Jika unit kerjanya menyimpang dari SOP atau ketentuan perusahaan, ia wajib meluruskannya kembali. Jika unit kerjanya mengalami demotivasi, ia wajib memotivasi. Jika unit kerjanya sudah termotivasi, ia wajib mengembangkan unit kerja tersebut supaya dapat berprestasi lebih tinggi. Jika unit kerja atau salah satu anggota unit kerjanya mengalami masalah yang menyebabkan kinerjanya memburuk, ia wajib memberikan bantuan berupa saran, nasehat, solusi, supaya unit kerja atau anggotanya itu produktif kembali. Jika anggota unit kerja melanggar ketentuan perusahaan, ia wajib memberikan sanksi dengan sepersetujuan atasannya yang lebih tinggi. Jadi, fungsinya sangat mulia didalam sebuah organisasi bisnis.

Lantas, mengapa ada Supervisor Provokator?
Supervisor Provokator dapat muncul karena beberapa sebab, antara lain:

  1. Supervisor tersebut gagal menjalankan fungsinya sebagai seorang Supervisor. Ia gagal memahami dan menerapkan seluruh SOP, peraturan perusahaan dan job description-nya sendiri.
  2. Supervisor tersebut memiliki niat atau tujuan tidak baik. Posisinya yang terjepit diantara Direktur dan Staff itu dimanfaatkannya untuk mengadu domba antara direktur dan staff demi menyelamatkan kepentingannya sendiri.
  3. Supervisor tidak berorientasi pada kepentingan perusahaan, tetapi hanya berorientasi pada kepentingan pribadinya.

Supaya lebih jelas, coba cermati contoh kasus berikut ini:
Seorang Direktur melihat adanya ancaman terhadap eksistensi perusahaan yang berasal dari seorang staff. Staff ini melakukan kegiatan yang menyimpang dari SOP dan termasuk dalam kategori pelanggaran berat, salah satunya adalah melakukan perdagangan atas nama pribadi didalam perusahaan menggunakan fasilitas dan sarana perusahaan (perusahaan dalam perusahaan). Dari perdagangan ini, staff mendapatkan keuntungan pribadi tetapi merugikan perusahaan karena pekerjaan utamanya sebagai staff menjadi terbengkelai, target tidak pernah tercapai. Celakanya, keuntungan dari hasil perdagangan pribadi didalam kantor tersebut mencapai dua kali lipat dibandingkan dengan gajinya, sehingga staff tersebut menyepelekan perusahaan tempatnya bekerja. Direktur memberikan instruksi tegas kepada Supervisor staff tersebut, "Staffmu sudah melanggar SOP dan peraturan perusahaan kategori berat. Pecat saja

Apa yang dilakukan seorang Supervisor kepada staffnya setelah mendapat instruksi Direktur tersebut? Ada dua tindakan yang sangat bertolak belakang hasilnya berikut ini:

1.Seorang Supervisor yang memahami fungsinya sebagai seorang Supervisor betulan, akan memanggil staffnya dan bicara empat mata dengan kata-kata, "Apa yang kamu lakukan sudah menyimpang. Tolong hentikan kegiatanmu itu. Kembalilah bekerja sesuai job description-mu supaya prestasimu kembali meningkat, sehingga perusahaan juga bisa memberikan insentif dan bonus yang besar buat kamu. Ini peringatan terakhir, jadi tolong kamu perhatikan yaaa...".
2.Supervisor Provokator akan langsung bicara (seringkali tidak empat mata, tetapi didepan umum / forum) secara lantang, "Kamu akan dipecat boss karena merugikan perusahaan....!"

Jika Anda menjadi staff dimaksud, apa yang Anda rasakan?

1.Ketika Anda mendengar peringatan terakhir dari Supervisor yang disampaikan secara halus tersebut, Anda tidak tersinggung. Bahkan mungkin malah tersenyum dan berterimakasih karena sudah diingatkan. Setelah itu Anda bertekad untuk mengubah perilaku supaya lebih produktif dan menguntungkan perusahaan, sehingga insentif dan bonus yang didapatkan sangat besardan bisa mencukupi kebutuhan hidup Anda sehari-hari.
2.Ketika Anda mendengar suara lantang Supervisor Provokator tersebut, Anda menjadi naik pitam. Emosi Anda menggelegak dan menuduh Direktur tidak suka dengan Anda sehingga secara sewenang-wenang akan memecat Anda. Setelah itu, Anda berseteru dengan Direktur. Direktur sadar dan merasa diadu domba sehingga ia berusaha menyadarkan Anda, tetapi Anda sudah terlanjur emosional. Direktur menggunakan kewenangannya untuk mengaudit kinerja Anda dan memang terbukti Anda merugikan perusahaan. Anda tetap marah, tidak mau tahu, merasa tidak nyaman dan akhirnya melarikan diri dari perusahaan tersebut untuk menghindari tanggung jawab. Supervisor yang memprovokasi Anda akhirnya tidak bisa duduk nyaman di kursinya, karena begitu Anda melarikan diri, Supervisorlah yang menanggung semua kerugian perusahaan akibat ulah Anda.

Didalam sebuah struktur organisasi, ada tiga tingkatan manajerial yang memungkinkan sebuah perusahaan beroperasional, maju dan berkembang, yakni:

1.Level Direktur, biasanya disebut juga Level Eksekutif. Tugasnya berpikir, menganalisis, mencari peluang, merumuskan strategi bisnis dan menanggung resiko bisnis secara keseluruhan.
2.Level Manajer / Supervisor. Manajer berada di Level Middle Management, sedangkan Supervisor berada di Level Low Management. Level ini terjepit ditengah-tengah antara Direktur dan Staff. Tugasnya adalah membantu Direktur untuk mengelola bisnisnya, terutama menggerakkan tim/unit kerjanya, supaya mencapai target-target yang ditetapkan perusahaan. Manajer membawahi tim kerja yang bekerja pada bidang tertentu yang terdiri dari beberapa unit kerja. Supervisor membawahi unit-unit kerja khusus yang terdiri dari beberapa personel saja. Disini Supervisor harus dapat berfungsi sebagai mediator, yakni menerjemahkan bahasa Eksekutif / bahasa Manajerial menjadi bahasa teknis yang dimengerti oleh Staff. Supervisor juga harus dapat menerjemahkan kepentingan perusahaan menjadi action yang produktif bagi para staffnya. Supervisor menggerakkan staffnya supaya dapat bekerja professional untuk mencapai tujuan perusahaan, bukan malah mengadu domba staff dengan manajer / direkturnya.
3.Level staff, biasanya disebut juga Level Pelaksana Teknis. Tugasnya hanya bekerja sesuai dengan SOP dan peraturan perusahaan saja. Untuk menjamin kinerja Staff sesuai dengan SOP dan peraturan perusahaan, mereka diawasi oleh Supervisor.

Adapun perbedaan kepentingan yang sangat mencolok adalah sebagai berikut:

1.Direktur berkepentingan supaya tujuan perusahaan tercapai. Direktur tidak memikirkan dirinya sendiri.
2.Staff berkepentingan supaya kebutuhan hidupnya tercapai. Jarang sekali staff yang memikirkan tujuan perusahaan tercapai. Staff yang sudah bisa memikirkan bagaimana cara mencapai tujuan perusahaan, tentu sudah menduduki posisi sebagai Manajer atau Direktur.

Nah, perbedaan kepentingan inilah yang seringkali menimbulkan konflik antara manajemen (level direktur-manajer) dan staff. Direktur menginginkan perusahaan untung sebanyak-banyaknya, staff ingin bekerja bermalas-malasan tetapi juga menginginkan gaji setinggi-tingginya. Direktur menginginkan kedisiplinan tingkat tinggi, staff lebih suka berlibur memanjakan diri. Perbedaan kepentingan inilah yang harus dimediasi oleh seorang Supervisor. Seorang Supervisor harus dapat mengajak dan mengubah staffnya untuk bekerja produktif mencapai tujuan perusahaan. Kegagalan seorang Supervisor seperti dicontohkan diatas menyebabkan unit kerjanya tidak produktif dan gagal mencapai target yang dibebankan perusahaan.

Contoh kasus lain:
Direktur menetapkan target tahun 2017, "Perusahaan harus mencetak laba Rp.1 Milyar tahun 2017 ini...!"
Yang dilakukan seorang Supervisor adalah:

1.Supervisor Betulan akan berbicara didepan para staffnya, "Target perusahaan sudah ditetapkan sebesar Rp.1 Milyar tahun ini, supaya kesejahteraan kita semua makin meningkat. Mari kita bersama-sama mewujudkan target itu..."
2.Supervisor Provokator akan mengatakan, "Boss minta untung Rp.1 Milyar bersih. Kalian kudu kerja keras siang malam supaya target tercapai. Kalau tidak, kalian bakal dipecat....!"

Nah, Anda bisa merasakan bedanya?

Contoh lainnya lagi:
Ada staff yang tiba-tiba sering sakit belakangan ini. Direktur merasa prihatin dan mengatakan kepada Supervisor, "Anak buahmu sakit apa? Kok makin lama makin sering? Kalo sering sakit kan merugikan kamu. Targetmu bisa tidak tercapai..."
Yang dilakukan Supervisor:

1.Supervisor Betulan memanggil karyawan tersebut, kemudian dengan lembut ia bertanya, "Saya lihat dari absensi kok kamu sekarang sering ijin sakit. Apa ada sakit berat? Apa yang perusahaan bisa bantu?"
2.Supervisor Provokator bicara kepada karyawannya, "Boss tanya, kamu itu sakit apa?!? Sakit kok sering banget...?!? Merugikan perusahaan saja...!"

Bagaimana perasaan Anda? Supervisor provokator ini culas sekali bukan? Direktur mengatakan bahwa jika staff sering sakit itu otomatis merugikan Supervisor Provokator itu sendiri karena target unit kerjanya bisa tidak tercapai. Tetapi Supervisor Provokator ini memelintirnya sedemikian rupa sehingga seolah-olah merugikan perusahaan secara keseluruhan dan menggunakan nama boss nya sebagai tameng untuk menegur karyawannya. Bandingkan dengan yang dikatakan Supervisor Betulan diatas. Sangat menenteramkan hati bukan?

Jadi, jika Anda saat ini menjadi pemilik perusahaan atau direktur perusahaan tetapi karyawan di level pelaksana teknis Anda tidak bekerja dengan baik sesuai prosedur, bisa jadi itu karena kegagalan Supervisornya menjalankan fungsi utamanya. Jangan buru-buru menuduh staff tidak becus kerja. Telusuri sampai akar masalahnya, supaya kita dapat mengambil solusi paling bijak untuk kepentingan perusahaan.

Lantas bagaimana nasib Supervisor Provokator? Tentu saja nasibnya mengenaskan. Ia akan dicopot dari jabatannya dan masuk kotak, alias tidak mungkin dipromosikan lagi seumur hidupnya. Jadi, jika Anda saat ini menduduki posisi sebagai Supervisor dan menginginkan karir yang terus menanjak naik, pahamilah fungsi Supervisor dengan baik. Gerakkan anak buah Anda supaya bekerja produktif untuk mencapai tujuan perusahaan. Jangan sekali-kali menggunakan politik devide et impera untuk mengadu domba direktur / manajer dengan staff Anda. Jika Anda tidak setuju dengan kebijakan direktur / manajer, bicaralah empat mata dengan mereka. Jangan menggunakan massa. Track record kerja Anda tersimpan selamanya di file professional Anda. Tentu saja tidak ada perusahaan yang mau mempekerjakan seorang provokator bukan? Bukannya produktif tetapi malah bikin runyam saja.

 

 


Tuesday, 09 Jul 2019

PEMILU 2020 & SETERUSNYA

Pemilu serentak 2019 telah usai dengan berbagai problematikanya, meskipun sebenarnya problematika ini sifatnya klise, selalu terjadi berulang sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, supaya kita tidak memelihara kebodohan abadi dan bangsa kita cepat maju dan berkembang, penyelenggaraan Pemilu 2020 dan seterusnya harus dibenahi. Apa saja yang penting untuk dibenahi? Mari kita lihat uraiannya berikut ini:

MENGGUNAKAN ALAT BANTU MESIN
Sekarang jaman teknologi. Sebagian besar pekerjaan manual sudah tergantikan oleh mesin. Mesin dibuat untuk meringankan pekerjaan manusia. Demikian pula seharusnya pemungutan suara ini. Pemungutan suara yang dilakukan dengan bantuan mesin akan lebih efektif dan efisien. Caranya mudah saja kok. Warga negara yang mau memilih tinggal datang ke TPS, kemudian kemudian melakukan scan sidik jari atau retinanya. Setelah itu pemilih tinggal memilih gambar kontestan pemilu yang dipilihnya melalui layar atau dengan cara menekan tombol nomor. Selesai. Singkat sekali dan tidak bisa diulang. Data langsung masuk ke penyelenggara pemilu tingkat pusat. Bayangan saya, mesin pemilu ini sesederhana mesin absensi sidik jari atau mesin ATM (ada layarnya). Bahkan saya berharap, suatu ketika nanti pemungutan suara dapat dilakukan melalui handphone, sehingga pemilih dapat leluasa menggunakan hak pilihnya tanpa harus libur dan mengorbankan produktifitasnya.
Apa manfaatnya cara seperti ini?
Pertama, petugas KPPS tidak kelelahan, karena pekerjaan manualnya terbantu mesin, sehingga dapat terhindar dari sakit atau kematian yang tidak perlu. Jumlah petugas juga dapat diminimalisir, sehingga sangat efisien dari sisi biaya dan mengurangi tingkat human error.
Kedua, proses pemilu lebih cepat selesai, sehingga tidak mengganggu stabilitas ekonomi dan politik. Tidak ada lagi sistem perhitungan bertingkat (berjenjang) yang berpotensi menimbulkan keresahan dan konflik.
Ketiga, mengurangi penggunaan kertas (go-green). Ramah lingkungan bukan?
Keempat, dalam jangka panjang sangat hemat biaya, karena mesin pemilu seperti ini dapat digunakan berkali-kali di pemilu berikutnya (bukan sekali pakai seperti kertas dan kardus).
Kelima, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mengalami kemajuan, dari bangsa tradisional yang masih melakukan pemilihan secara manual dan selalu terjebak pada masalah yang sama, menjadi bangsa maju yang mampu memanfaatkan teknologi dan mampu meminimalisir masalah klise yang muncul. Ini lompatan kemajuan yang luar biasa.
Bagi orang yang anti kemajuan, pasti akan menolak dengan alasan tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini. Mengapa cara berpikirnya tidak dibalik? Jika tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini, bagaimana caranya supaya semua daerah dapat menggunakan teknologi maju seperti ini? Apa yang harus dilakukan? Sejelek-jeleknya, jika masih ada yang manual, prosentasenya tidak lebih dari 25%.

Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Copyright 2009 - 2021 :: ekotama. All Rights Reserved.