.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Thursday, 02 May 2019
Permohonan Sharing Knowledge
Muhammad Alfis Budi Sanjaya
Selamat Sore Apakah memungkinkan, kami mengundang Bapak untuk melakukan Sharing Knowledge di Perusahaan? Terima kasih Best Regards Muhammad Alfis
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 5
Total Pengunjung: 1080390

Friday, 30 Oct 2015

SUKSES MENEMBUS SELEKSI KARYAWAN


Mengapa harus SUKSES MENEMBUS SELEKSI KARYAWAN?

Karena pengangguran di Indonesia mencapai jutaan jiwa. Untuk mendapatkan satu pekerjaan, para pencari kerja harus bersaing dengan ribuan orang lainnya. Jika tidak memiliki trik khusus, maka para pelamar seringkali langsung gagal. Lamarannya langsung masuk ke tempat sampah tanpa pernah dibaca oleh recruiter.Buktinya, banyak pelamar melamar berkali-kali tanpa pernah dipanggil sekalipun untuk mengikuti seleksi selanjutnya.

 

Apa Saja Trik Supaya SUKSES MENEMBUS SELEKSI KARYAWAN?

Dimulai dari cara menyusun surat lamaran. Didalam buku ini disertakan contoh lamaran yang diinginkan perusahaan. Pembaca dapat mempelajari, kemudian menerapkan untuk dirinya sendiri. Rahasia pertama SUKSES MENEMBUS SELEKSI KARYAWAN adalah surat lamarannya. Jika surat lamarannya sudah menarik, Anda pasti dipanggil untuk mengikuti seleksi selanjutnya.
Didalam buku ini juga disertakan trik-trik lain supaya lamaran datang tepat waktu, langsung dibaca oleh recruiter dan Anda langsung mendapatkan panggilan seleksi berikutnya menyisihkan ribuan pelamar lainnya.

 

Buku SUKSES MENEMBUS SELEKSI KARYAWAN ini diperuntukkan bagi siapa?

Buku ini dapat dijadikan pedoman bagi para pelamar kerja yang baru pertama kali melamar kerja, para pencari kerja yang sudah berpengalaman, bahkan para eksekutif perusahaan yang hendak mencari pekerjaan lain. Buku ini juga dapat dijadikan pedoman bagi guru / dosen dalam memberikan wawasan kepada peserta didik mengenai dunia kerja.

 

Mengapa buku SUKSES MENEMBUS SELEKSI KARYAWAN ini menjadi sangat berharga?

Buku ini disusun oleh penulis yang pernah menjadi karyawan dari level staff, level manajerial, sampai level eksekutif (tertinggi), dan sekarang menjadi owner perusahaan. Pengalaman-pengalamannya dahulu ketika membuat lamaran kreatif yang mengantarkannya selalu naik jabatan sampai dengan pengalamannya saat ini membuka lowongan dan menyeleksi calon karyawan, dituangkan semua dalam buku ini. Anda akan mendapatkan ilmu dan wawasan yang tidak ada duanya. Ilmu praktis didalam buku ini merupakan catatan hidup penulisnya. Anda dapat mengambil hikmahnya untuk memperbaiki kualitas hidup Anda sendiri.

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2015
Alamat Penerbit : Kompas Gramedia Building Blok I Lt.5, Jl. Palmerah Barat 29-37 JAKARTA
Telp. : -
Website : www.gramediapustakautama.com
Data Buku : cetakan pertama, 2015, xii + 216 halaman


Tuesday, 09 Jul 2019

PEMILU 2020 & SETERUSNYA

Pemilu serentak 2019 telah usai dengan berbagai problematikanya, meskipun sebenarnya problematika ini sifatnya klise, selalu terjadi berulang sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, supaya kita tidak memelihara kebodohan abadi dan bangsa kita cepat maju dan berkembang, penyelenggaraan Pemilu 2020 dan seterusnya harus dibenahi. Apa saja yang penting untuk dibenahi? Mari kita lihat uraiannya berikut ini:

MENGGUNAKAN ALAT BANTU MESIN
Sekarang jaman teknologi. Sebagian besar pekerjaan manual sudah tergantikan oleh mesin. Mesin dibuat untuk meringankan pekerjaan manusia. Demikian pula seharusnya pemungutan suara ini. Pemungutan suara yang dilakukan dengan bantuan mesin akan lebih efektif dan efisien. Caranya mudah saja kok. Warga negara yang mau memilih tinggal datang ke TPS, kemudian kemudian melakukan scan sidik jari atau retinanya. Setelah itu pemilih tinggal memilih gambar kontestan pemilu yang dipilihnya melalui layar atau dengan cara menekan tombol nomor. Selesai. Singkat sekali dan tidak bisa diulang. Data langsung masuk ke penyelenggara pemilu tingkat pusat. Bayangan saya, mesin pemilu ini sesederhana mesin absensi sidik jari atau mesin ATM (ada layarnya). Bahkan saya berharap, suatu ketika nanti pemungutan suara dapat dilakukan melalui handphone, sehingga pemilih dapat leluasa menggunakan hak pilihnya tanpa harus libur dan mengorbankan produktifitasnya.
Apa manfaatnya cara seperti ini?
Pertama, petugas KPPS tidak kelelahan, karena pekerjaan manualnya terbantu mesin, sehingga dapat terhindar dari sakit atau kematian yang tidak perlu. Jumlah petugas juga dapat diminimalisir, sehingga sangat efisien dari sisi biaya dan mengurangi tingkat human error.
Kedua, proses pemilu lebih cepat selesai, sehingga tidak mengganggu stabilitas ekonomi dan politik. Tidak ada lagi sistem perhitungan bertingkat (berjenjang) yang berpotensi menimbulkan keresahan dan konflik.
Ketiga, mengurangi penggunaan kertas (go-green). Ramah lingkungan bukan?
Keempat, dalam jangka panjang sangat hemat biaya, karena mesin pemilu seperti ini dapat digunakan berkali-kali di pemilu berikutnya (bukan sekali pakai seperti kertas dan kardus).
Kelima, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mengalami kemajuan, dari bangsa tradisional yang masih melakukan pemilihan secara manual dan selalu terjebak pada masalah yang sama, menjadi bangsa maju yang mampu memanfaatkan teknologi dan mampu meminimalisir masalah klise yang muncul. Ini lompatan kemajuan yang luar biasa.
Bagi orang yang anti kemajuan, pasti akan menolak dengan alasan tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini. Mengapa cara berpikirnya tidak dibalik? Jika tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini, bagaimana caranya supaya semua daerah dapat menggunakan teknologi maju seperti ini? Apa yang harus dilakukan? Sejelek-jeleknya, jika masih ada yang manual, prosentasenya tidak lebih dari 25%.

Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Copyright 2009 - 2019 :: ekotama. All Rights Reserved.