.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Thursday, 02 May 2019
Permohonan Sharing Knowledge
Muhammad Alfis Budi Sanjaya
Selamat Sore Apakah memungkinkan, kami mengundang Bapak untuk melakukan Sharing Knowledge di Perusahaan? Terima kasih Best Regards Muhammad Alfis
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 3
Total Pengunjung: 1080386

Friday, 30 Oct 2015

TRIK JITU JUAL DIRI


Mengapa harus TRIK JITU JUAL DIRI?

Mungkinkah Anda memberi pekerjaan atau rejeki kepada orang yang tidak Anda kenal? Tentu tidak, bukan? Itulah gunanya kita JUAL DIRI. Jual Diri disini artinya kita mampu menawarkan potensi diri kita kepada orang lain, untuk ditukar dengan upah atau rejeki lainnya. Mayoritas orang gagal bukan karena pendidikannya atau asal usulnya, tetapi karena ia tidak mampu menjual potensi dirinya dengan baik. Contoh: orang yang putus sekolah bisa menjadi pengusaha sukses, bahkan konglomerat, karena ia mampu menjual potensi diri dan perusahaannya kepada konsumen dan pelanggan. Sementara lulusan sarjana atau pascasarjana justru banyak yang menganggur, karena tidak mampu menjual potensi dirinya kepada perusahaan yang membutuhkan. Padahal setiap hari perusahaan-perusahaan itu membuka lowongan kerja. Didalam buku ini Anda akan mendapatkan pencerahan, bagaimana cara menawarkan potensi diri supaya dibeli orang lain.

 

Apakah TRIK JITU JUAL DIRI itu sulit? Ataukah bisa diterapkan oleh semua kalangan, termasuk yang berpendidikan terbatas?

Semua buku SURYONO EKOTAMA, didesain khusus supaya dapat diterapkan oleh semua kalangan, mulai dari anak putus sekolah sampai pejabat. Trik-trik yang tersaji dalam buku ini bukan merupakan trik yang njlimet. Kita sudah pernah mendapatkan ilmunya di bangku sekolah dasar dan menengah. Tapi kita tidak pernah mengembangkan setelah dewasa. Akibatnya, trik-trik ini tidak berkembang dan kita gagal menjual potensi diri. Contoh trik-trik sederhana yang disajikan dalam buku ini: membaca, menulis, berhitung, berpikir, bertindak, berbicara, berpenampilan, ketrampilan kerja, kemampuan menghargai, daya tahan terhadap tekanan. Anda kaget? Itulah trik sederhananya. Pernah diajarkan kepada kita semasa kita kecil dan remaja, tapi kita lalaikan pada saat kita menginjak dewasa. Begitu Anda membaca buku ini, Anda pasti akan mengangguk-angguk tanda setuju keteledoran kita itu. Silakan pelajari isi bukunya. Anda akan mendapatkan panduan sederhana untuk sukses dan berhasil.

 

Buku TRIK JITU JUAL DIRI ini diperuntukkan bagi siapa?

Jawabannya: bagi semua kalangan...! Bagi pencari kerja, bagi karyawan yang sudah bekerja, bagi politikus yang sedang mencari massa, bagi pimpinan yang harus bermitra dengan perusahaan / instansi lain. Bahkan bagi pelajar dan mahasiswa yang ingin start lebih awal meniti kesuksesan...!

 

Mengapa buku TRIK JITU JUAL DIRI ini menjadi sangat berharga?

Buku ini dijual murah, sangat murah untuk membayar biaya kesuksesan Anda. Buku ini disusun oleh mantan karyawan yang sekarang sukses menjadi pengusaha dan berpendidikan setingkat master (S2). Semua kesuksesannya di usia muda tersebut adalah hasil dari menerapkan trik-trik yang tertuang dalam buku ini. Jadi, buku ini adalah pengalaman pribadi penulisnya. Buku ini juga diperkaya dengan pengalaman penulis sebagai interviewer selama 15 tahun dan telah mewawancarai ribuan calon karyawan dari level staff sampai level direktur. Anda penasaran? Silakan pelajari bukunya. Buku ini didesain untuk bisa dibaca habis dalam waktu beberapa jam saja untuk menghemat waktu Anda. Selebihnya Anda bisa mencoba untuk menerapkan ilmu yang didapatkan dari hasil membaca buku ini. Mari kita berkarya...!


Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2015
Alamat Penerbit : Kompas Gramedia Building Blok I Lt.5, Jl. Palmerah Barat 29-37 JAKARTA
Telp. : -
Website : www.gramediapustakautama.com
Data Buku : cetakan pertama, 2015, xviii + 136 halaman

 


Tuesday, 09 Jul 2019

PEMILU 2020 & SETERUSNYA

Pemilu serentak 2019 telah usai dengan berbagai problematikanya, meskipun sebenarnya problematika ini sifatnya klise, selalu terjadi berulang sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, supaya kita tidak memelihara kebodohan abadi dan bangsa kita cepat maju dan berkembang, penyelenggaraan Pemilu 2020 dan seterusnya harus dibenahi. Apa saja yang penting untuk dibenahi? Mari kita lihat uraiannya berikut ini:

MENGGUNAKAN ALAT BANTU MESIN
Sekarang jaman teknologi. Sebagian besar pekerjaan manual sudah tergantikan oleh mesin. Mesin dibuat untuk meringankan pekerjaan manusia. Demikian pula seharusnya pemungutan suara ini. Pemungutan suara yang dilakukan dengan bantuan mesin akan lebih efektif dan efisien. Caranya mudah saja kok. Warga negara yang mau memilih tinggal datang ke TPS, kemudian kemudian melakukan scan sidik jari atau retinanya. Setelah itu pemilih tinggal memilih gambar kontestan pemilu yang dipilihnya melalui layar atau dengan cara menekan tombol nomor. Selesai. Singkat sekali dan tidak bisa diulang. Data langsung masuk ke penyelenggara pemilu tingkat pusat. Bayangan saya, mesin pemilu ini sesederhana mesin absensi sidik jari atau mesin ATM (ada layarnya). Bahkan saya berharap, suatu ketika nanti pemungutan suara dapat dilakukan melalui handphone, sehingga pemilih dapat leluasa menggunakan hak pilihnya tanpa harus libur dan mengorbankan produktifitasnya.
Apa manfaatnya cara seperti ini?
Pertama, petugas KPPS tidak kelelahan, karena pekerjaan manualnya terbantu mesin, sehingga dapat terhindar dari sakit atau kematian yang tidak perlu. Jumlah petugas juga dapat diminimalisir, sehingga sangat efisien dari sisi biaya dan mengurangi tingkat human error.
Kedua, proses pemilu lebih cepat selesai, sehingga tidak mengganggu stabilitas ekonomi dan politik. Tidak ada lagi sistem perhitungan bertingkat (berjenjang) yang berpotensi menimbulkan keresahan dan konflik.
Ketiga, mengurangi penggunaan kertas (go-green). Ramah lingkungan bukan?
Keempat, dalam jangka panjang sangat hemat biaya, karena mesin pemilu seperti ini dapat digunakan berkali-kali di pemilu berikutnya (bukan sekali pakai seperti kertas dan kardus).
Kelima, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mengalami kemajuan, dari bangsa tradisional yang masih melakukan pemilihan secara manual dan selalu terjebak pada masalah yang sama, menjadi bangsa maju yang mampu memanfaatkan teknologi dan mampu meminimalisir masalah klise yang muncul. Ini lompatan kemajuan yang luar biasa.
Bagi orang yang anti kemajuan, pasti akan menolak dengan alasan tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini. Mengapa cara berpikirnya tidak dibalik? Jika tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini, bagaimana caranya supaya semua daerah dapat menggunakan teknologi maju seperti ini? Apa yang harus dilakukan? Sejelek-jeleknya, jika masih ada yang manual, prosentasenya tidak lebih dari 25%.

Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Copyright 2009 - 2019 :: ekotama. All Rights Reserved.