.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Thursday, 02 May 2019
Permohonan Sharing Knowledge
Muhammad Alfis Budi Sanjaya
Selamat Sore Apakah memungkinkan, kami mengundang Bapak untuk melakukan Sharing Knowledge di Perusahaan? Terima kasih Best Regards Muhammad Alfis
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 5
Total Pengunjung: 1080407

Friday, 30 Oct 2015

CARA GAMPANG MENGUBAH KARYAWAN MENJADI ASET YANG PRODUKTIF & MENGUNTUNGKAN


Mengapa KARYAWAN HARUS MENJADI ASET?

Banyak karyawan mengeluh karena kesejahteraannya terbatas. Apakah benar karyawan kesejahteraannya terbatas? Ternyata tidak...! Karyawan yang mampu menunjukkan prestasi kerja bagus, kesejahteraannya melimpah. Bahkan banyak yang akhirnya pensiun dan mendapatkan saham perusahaan. Kok bisa ya, ada karyawan yang kesejahteraannya terbatas dan suka demonstrasi, dan disisi lain ada karyawan yang kesejahteraannya melimpah? Jawabannya adalah: karyawan yang kesejahteraannya melimpah itu mampu mengubah dirinya sendiri (atau bersedia diubah oleh atasan/perusahaan) menjadi asset bagi perusahaan. Karyawan yang sudah menjadi asset istilah kerennya key person, kesejahteraannya pasti melimpah. Bahkan dapat dikatakan ia tidak perlu memikirkan apapun selain bekerja, karena semua kebutuhannya dicukupi oleh perusahaan. Saat ini sangat sulit mencari dan mendapatkan karyawan tipe ini. Kebanyakan calon karyawan sukanya instan, kerja ringan gaji besar fasilitas mewah. Mungkin karena terlalu banyak makan mie instan ketika muda dulu.

 

Apakah sulit bagi KARYAWAN UNTUK MENJADI ASET bagi perusahaan supaya kesejahteraannya terjamin?

Tidak...! Menjadi asset bagi perusahaan supaya kesejahteraannya terjamin itu semudah kita makan tiap harinya. Cara paling gampang adalah selalu mencapai target atau melampaui target yang ditetapkan. Dalam waktu beberapa tahun kedepan, Anda sudah menjadi asset bagi perusahaan. Bukan Anda yang mencari pekerjaan atau jabatan, justru pekerjaan atau jabatan itu yang mencari Anda. Buku ini menyajikan ratusan trik cara mengubah karyawan menjadi asset.

 

Apakah merubah KARYAWAN MENJADI ASET itu menyakitkan atau melanggar HAM?

Tentu saja tidak...! Prinsipnya, siapa yang bekerja, dialah yang akan mendapatkan hasilnya. Karyawan tidak akan tersakiti atau terlanggar HAM-nya. Justru buku ini memberikan wawasan baru kepada pembaca, bahwa peningkatan kesejahteraan itu selalu seiring sejalan dengan peningkatan kinerja karyawan.

 

Apa saja trik-trik yang disajikan dalam buku ini?

Buku ini menyajikan 101 trik yang semuanya bermula dari keluhan karyawan yang klise (selalu terjadi dimanapun). Sebuah keluhan jika dikelola dengan baik dapat berubah menjadi tantangan. Buku ini menyajikan cara-cara paling sederhana untuk mengubah sampah (keluhan) menjadi uang (kinerja yang bagus).

 

Buku ini diperuntukkan bagi siapa saja?

Buku ini didesain khusus supaya bisa dibaca, dipelajari dan diterapkan oleh 5 pihak sekaligus:

  1. Calon karyawan yang sedang mencari pekerjaan, untuk meningkatkan kualitas pribadinya, sehingga mudah mendapatkan pekerjaan;
  2. Karyawan yang sudah bekerja tetapi ingin meningkatkan kesejahteraan, supaya tidak hanya menjadi karyawan biasa, tetapi menjadi key person perusahaan dan kesejahteraannya terjamin;
  3. Para staff dan pimpinan bagian HRD yang mencari formula paling mudah mengembangkan karyawan;
  4. Owner / pemilik perusahaan yang sering kesulitan memotivasi dan meningkatkan kinerja karyawannya;
  5. Para akademisi atau mahasiswa yang ingin mendapatkan wawasan paling factual tentang dunia kerja dan kekaryawanan di Indonesia. Buku ini menyajikan contoh-contoh actual yang tidak pernah dibahas di buku teks.

 

Mengapa buku ini menjadi sangat berharga?

Buku CARA GAMPANG MENGUBAH KARYAWAN MENJADI ASET YANG PRODUKTIF DAN MENGUNTUNGKAN ini menjadi sangat berharga karena berisi fakta-fakta terbaru tentang dunia kerja yang seringkali menjadi factor utama pemicu kegagalan karyawan dalam berkarir, disertai solusi-solusi praktis yang tidak memakan biaya. Buku ini ditulis oleh mantan karyawan yang pernah menduduki posisi level staff, level manajerial sampai level direktur dan kini mengelola perusahaan sendiri serta perusahaan orang lain (klien). Pengalaman-pengalamannya itulah yang dituangkan didalam buku ini. Anda akan menemukan kebenaran sejati ketika membaca bab demi bab didalam buku ini, kemudian tertawa dan memahami betapa mudahnya kita menemukan solusi yang produktif. Silakan buktikan.


Penerbit : Elex Media Komputindo, Jakarta, 2015
Alamat Penerbit : Kompas Gramedia Building, Jl. Palmerah Barat 29-37 JAKARTA
Telp. : (021) 53650110, 53650111 ext. 3214
Website : www.elexmedia.co.id
Data Buku : cetakan pertama, 2015, xii + 238 halaman

 


Tuesday, 09 Jul 2019

PEMILU 2020 & SETERUSNYA

Pemilu serentak 2019 telah usai dengan berbagai problematikanya, meskipun sebenarnya problematika ini sifatnya klise, selalu terjadi berulang sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, supaya kita tidak memelihara kebodohan abadi dan bangsa kita cepat maju dan berkembang, penyelenggaraan Pemilu 2020 dan seterusnya harus dibenahi. Apa saja yang penting untuk dibenahi? Mari kita lihat uraiannya berikut ini:

MENGGUNAKAN ALAT BANTU MESIN
Sekarang jaman teknologi. Sebagian besar pekerjaan manual sudah tergantikan oleh mesin. Mesin dibuat untuk meringankan pekerjaan manusia. Demikian pula seharusnya pemungutan suara ini. Pemungutan suara yang dilakukan dengan bantuan mesin akan lebih efektif dan efisien. Caranya mudah saja kok. Warga negara yang mau memilih tinggal datang ke TPS, kemudian kemudian melakukan scan sidik jari atau retinanya. Setelah itu pemilih tinggal memilih gambar kontestan pemilu yang dipilihnya melalui layar atau dengan cara menekan tombol nomor. Selesai. Singkat sekali dan tidak bisa diulang. Data langsung masuk ke penyelenggara pemilu tingkat pusat. Bayangan saya, mesin pemilu ini sesederhana mesin absensi sidik jari atau mesin ATM (ada layarnya). Bahkan saya berharap, suatu ketika nanti pemungutan suara dapat dilakukan melalui handphone, sehingga pemilih dapat leluasa menggunakan hak pilihnya tanpa harus libur dan mengorbankan produktifitasnya.
Apa manfaatnya cara seperti ini?
Pertama, petugas KPPS tidak kelelahan, karena pekerjaan manualnya terbantu mesin, sehingga dapat terhindar dari sakit atau kematian yang tidak perlu. Jumlah petugas juga dapat diminimalisir, sehingga sangat efisien dari sisi biaya dan mengurangi tingkat human error.
Kedua, proses pemilu lebih cepat selesai, sehingga tidak mengganggu stabilitas ekonomi dan politik. Tidak ada lagi sistem perhitungan bertingkat (berjenjang) yang berpotensi menimbulkan keresahan dan konflik.
Ketiga, mengurangi penggunaan kertas (go-green). Ramah lingkungan bukan?
Keempat, dalam jangka panjang sangat hemat biaya, karena mesin pemilu seperti ini dapat digunakan berkali-kali di pemilu berikutnya (bukan sekali pakai seperti kertas dan kardus).
Kelima, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mengalami kemajuan, dari bangsa tradisional yang masih melakukan pemilihan secara manual dan selalu terjebak pada masalah yang sama, menjadi bangsa maju yang mampu memanfaatkan teknologi dan mampu meminimalisir masalah klise yang muncul. Ini lompatan kemajuan yang luar biasa.
Bagi orang yang anti kemajuan, pasti akan menolak dengan alasan tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini. Mengapa cara berpikirnya tidak dibalik? Jika tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini, bagaimana caranya supaya semua daerah dapat menggunakan teknologi maju seperti ini? Apa yang harus dilakukan? Sejelek-jeleknya, jika masih ada yang manual, prosentasenya tidak lebih dari 25%.

Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Copyright 2009 - 2019 :: ekotama. All Rights Reserved.