.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Thursday, 02 May 2019
Permohonan Sharing Knowledge
Muhammad Alfis Budi Sanjaya
Selamat Sore Apakah memungkinkan, kami mengundang Bapak untuk melakukan Sharing Knowledge di Perusahaan? Terima kasih Best Regards Muhammad Alfis
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 3
Total Pengunjung: 1052776

Friday, 30 Oct 2015

CARA GAMPANG MENGUBAH KARYAWAN MENJADI ASET YANG PRODUKTIF & MENGUNTUNGKAN


Mengapa KARYAWAN HARUS MENJADI ASET?

Banyak karyawan mengeluh karena kesejahteraannya terbatas. Apakah benar karyawan kesejahteraannya terbatas? Ternyata tidak...! Karyawan yang mampu menunjukkan prestasi kerja bagus, kesejahteraannya melimpah. Bahkan banyak yang akhirnya pensiun dan mendapatkan saham perusahaan. Kok bisa ya, ada karyawan yang kesejahteraannya terbatas dan suka demonstrasi, dan disisi lain ada karyawan yang kesejahteraannya melimpah? Jawabannya adalah: karyawan yang kesejahteraannya melimpah itu mampu mengubah dirinya sendiri (atau bersedia diubah oleh atasan/perusahaan) menjadi asset bagi perusahaan. Karyawan yang sudah menjadi asset istilah kerennya key person, kesejahteraannya pasti melimpah. Bahkan dapat dikatakan ia tidak perlu memikirkan apapun selain bekerja, karena semua kebutuhannya dicukupi oleh perusahaan. Saat ini sangat sulit mencari dan mendapatkan karyawan tipe ini. Kebanyakan calon karyawan sukanya instan, kerja ringan gaji besar fasilitas mewah. Mungkin karena terlalu banyak makan mie instan ketika muda dulu.

 

Apakah sulit bagi KARYAWAN UNTUK MENJADI ASET bagi perusahaan supaya kesejahteraannya terjamin?

Tidak...! Menjadi asset bagi perusahaan supaya kesejahteraannya terjamin itu semudah kita makan tiap harinya. Cara paling gampang adalah selalu mencapai target atau melampaui target yang ditetapkan. Dalam waktu beberapa tahun kedepan, Anda sudah menjadi asset bagi perusahaan. Bukan Anda yang mencari pekerjaan atau jabatan, justru pekerjaan atau jabatan itu yang mencari Anda. Buku ini menyajikan ratusan trik cara mengubah karyawan menjadi asset.

 

Apakah merubah KARYAWAN MENJADI ASET itu menyakitkan atau melanggar HAM?

Tentu saja tidak...! Prinsipnya, siapa yang bekerja, dialah yang akan mendapatkan hasilnya. Karyawan tidak akan tersakiti atau terlanggar HAM-nya. Justru buku ini memberikan wawasan baru kepada pembaca, bahwa peningkatan kesejahteraan itu selalu seiring sejalan dengan peningkatan kinerja karyawan.

 

Apa saja trik-trik yang disajikan dalam buku ini?

Buku ini menyajikan 101 trik yang semuanya bermula dari keluhan karyawan yang klise (selalu terjadi dimanapun). Sebuah keluhan jika dikelola dengan baik dapat berubah menjadi tantangan. Buku ini menyajikan cara-cara paling sederhana untuk mengubah sampah (keluhan) menjadi uang (kinerja yang bagus).

 

Buku ini diperuntukkan bagi siapa saja?

Buku ini didesain khusus supaya bisa dibaca, dipelajari dan diterapkan oleh 5 pihak sekaligus:

  1. Calon karyawan yang sedang mencari pekerjaan, untuk meningkatkan kualitas pribadinya, sehingga mudah mendapatkan pekerjaan;
  2. Karyawan yang sudah bekerja tetapi ingin meningkatkan kesejahteraan, supaya tidak hanya menjadi karyawan biasa, tetapi menjadi key person perusahaan dan kesejahteraannya terjamin;
  3. Para staff dan pimpinan bagian HRD yang mencari formula paling mudah mengembangkan karyawan;
  4. Owner / pemilik perusahaan yang sering kesulitan memotivasi dan meningkatkan kinerja karyawannya;
  5. Para akademisi atau mahasiswa yang ingin mendapatkan wawasan paling factual tentang dunia kerja dan kekaryawanan di Indonesia. Buku ini menyajikan contoh-contoh actual yang tidak pernah dibahas di buku teks.

 

Mengapa buku ini menjadi sangat berharga?

Buku CARA GAMPANG MENGUBAH KARYAWAN MENJADI ASET YANG PRODUKTIF DAN MENGUNTUNGKAN ini menjadi sangat berharga karena berisi fakta-fakta terbaru tentang dunia kerja yang seringkali menjadi factor utama pemicu kegagalan karyawan dalam berkarir, disertai solusi-solusi praktis yang tidak memakan biaya. Buku ini ditulis oleh mantan karyawan yang pernah menduduki posisi level staff, level manajerial sampai level direktur dan kini mengelola perusahaan sendiri serta perusahaan orang lain (klien). Pengalaman-pengalamannya itulah yang dituangkan didalam buku ini. Anda akan menemukan kebenaran sejati ketika membaca bab demi bab didalam buku ini, kemudian tertawa dan memahami betapa mudahnya kita menemukan solusi yang produktif. Silakan buktikan.


Penerbit : Elex Media Komputindo, Jakarta, 2015
Alamat Penerbit : Kompas Gramedia Building, Jl. Palmerah Barat 29-37 JAKARTA
Telp. : (021) 53650110, 53650111 ext. 3214
Website : www.elexmedia.co.id
Data Buku : cetakan pertama, 2015, xii + 238 halaman

 


Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Friday, 15 Mar 2019

KEPRIBADIAN KONTESTAN PEMILU

Pemilu akan dilaksanakan sebulan lagi. Apakah Anda sudah memiliki pilihan? Siapa yang Anda pilih? Apa pertimbangannya? Apakah hanya semata karena kesamaan golongan dan kesamaan kepentingan? Ataukah ada pertimbangan lain yang lebih beradab?

Sebenarnya ada satu hal yang seharusnya menjadi pertimbangan utama kita untuk memilih kontestan pemilu, yakni kepribadiannya. Kepribadian sangat penting artinya karena menjadi dasar berpikir dan bertindak bagi seseorang. Jika kita memberikan kekuasaan kepada orang yang berkepribadian buruk, maka nasib bangsa ini bisa buruk. Sebaliknya, jika kita memberikan kekuasaan kepada orang yang berkepribadian baik, nasib bangsa ini bisa lebih baik.
Darimana kita menilai kepribadian kontestan pemilu? Caranya sangat mudah, yakni dengan melihat apa yang mereka lakukan selama menjadi kontestan pemilu. Kepribadian mereka tercermin dari pikiran dan tindakannya. Pikiran negatif dan tindakan yang tidak bermanfaat bagi masyarakat cerminan dari kepribadian yang buruk. Pikiran positif dan tindakan yang bermanfaat bagi masyarakat mencerminkan kepribadian yang baik.

Dalam menentukan baik buruknya kepribadian kontestan pemilu, indikator umum yang kita gunakan sebagai pedoman adalah:
1. Tidak melanggar peraturan (hukum positif Indonesia)
2. Tidak mengganggu kepentingan umum
3. Mengutamakan kepentingan negara diatas kepentingan pribadi dan golongan
4. Sopan dan beretika

Copyright 2009 - 2019 :: ekotama. All Rights Reserved.