.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Thursday, 02 May 2019
Permohonan Sharing Knowledge
Muhammad Alfis Budi Sanjaya
Selamat Sore Apakah memungkinkan, kami mengundang Bapak untuk melakukan Sharing Knowledge di Perusahaan? Terima kasih Best Regards Muhammad Alfis
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 2
Total Pengunjung: 1115351

Friday, 30 Oct 2015

PEDOMAN MUDAH MENYUSUN S.O.P


Buku ini merupakan buku terbaru tentang SOP (Standard Operating Procedure) yang diterbitkan Suryono Ekotama. Sebagaimana kita ketahui bersama, buku SOP karya Suryono Ekotama selalu laris manis dan diburu pembaca. Bahkan sampai buku tersebut habis pun masih banyak pembaca yang rela menunggu untuk mendapatkan bukunya. Mengapa demikian? Sebab buku SOP karya Suryono Ekotama merupakan buku SOP yang paling mudah dipahami dan diaplikasikan. Penyebabnya tidak lain karena disusun oleh Suryono Ekotama yang notabenenya seorang pengusaha, membuat sistem sendiri, menerapkan sistem sendiri, mengembangkan sistem sendiri dan menuliskan pengalamannya tersebut dalam bukunya. Sehingga buku SOP karya Suryono Ekotama paling masuk akal untuk diaplikasikan di perusahaan. Apalagi ditunjang dengan gaya bahasa sederhana, sehingga dapat dimengerti siapa saja.

Buku SOP yang pertama kali diterbitkan berjudul CARA GAMPANG BIKIN SOP (Standard Operating Procedure): Agar Roda Usaha Lebih Tertata, penerbit Media Pressindo. Buku dengan sampul berwarna dominan kuning ini diterbitkan tahun 2010 dan dicetak ulang beberapa kali.
Pada tahun 2013, penerbit memutuskan untuk me-refresh (re-cover) buku tersebut dengan judul CARA MUDAH BIKIN SOP (Standard Operating Procedure): Agar Bisnis Lebih Praktis. Buku dengan sampul dominan warna merah dan putih ini juga dicetak beberapa kali sampai kehabisan stok, sedangkan calon pembaca masih membanjir.
Akhirnya pada tahun 2015, penerbit memutuskan untuk me-refresh (re-cover) kedua kalinya buku ini dengan judul PEDOMAN MUDAH MENYUSUN SOP (Standard Operating Procedure): Agar Bisnis Cepat Besar, Outlet Gampang Diperbanyak, Sistem Kontrol dan Pendelegasian Tugas Menjadi Lebih Mudah. Buku inilah yang masih dijual di toko-toko buku diseluruh Indonesia saat ini dan mulai kehabisan stok lagi. Beruntunglah lagi Anda yang segera mendapatkannya.

Mengapa buku SOP karya Suryono Ekotama menjadi sangat fenomenal dan sangat laris? Karena tingkat orisinialitasnya yang sangat tinggi. Buku ini ditulis dari pengalaman pribadi, bukan hasil menyadur dari sana sini. Gaya bahasanya mudah dipahami, khas bahasa pengusaha yang lugas, to the point. Isi bukunya sangat berorientasi pada keuntungan perusahaan. Sementara buku-buku lainnya yang diterbitkan dengan judul serupa (atau menyerupai), isinya hanya sekedar SOP, tidak ada ruh keuntungan perusahaan disitu. Hal ini bisa dimaklumi mengingat penulisnya bukanlah pengusaha dan belum pernah membuat dan menerapkan SOP untuk perusahaan. Bahkan ada penulis buku SOP perusahaan yang notabenenya adalah ibu rumah tangga. Logisnya, ibu ini menulis trik-trik membersihkan rumah atau memasak yang lezat, bukan menulis SOP untuk perusahaan. Semoga Anda tidak salah pilih ketika di toko buku Anda dihadapkan pada banyak pilihan judul buku SOP yang bombastis dan cenderung menyihir. SOP bukanlah sesuatu yang bombastis, karena tujuannya bukan untuk pamer punya SOP, tetapi supaya perusahaan lebih tertata dan keuntungan yang tercipta lebih banyak.


Penerbit : Media Pressindo, Yogyakarta, 2015
Alamat Penerbit  : Jl. Cempaka Putih No. 8 Deresan CT X Gejayan, Yogyakarta
Telp.  : (0274) 555939, 556043. Fax. (0274) 546020
Website : www.media-pressindo.com,
Data Buku : cetakan pertama, 2015, 180 halaman, re-fresh/re-cover ke-2.

 


Tuesday, 09 Jul 2019

PEMILU 2020 & SETERUSNYA

Pemilu serentak 2019 telah usai dengan berbagai problematikanya, meskipun sebenarnya problematika ini sifatnya klise, selalu terjadi berulang sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, supaya kita tidak memelihara kebodohan abadi dan bangsa kita cepat maju dan berkembang, penyelenggaraan Pemilu 2020 dan seterusnya harus dibenahi. Apa saja yang penting untuk dibenahi? Mari kita lihat uraiannya berikut ini:

MENGGUNAKAN ALAT BANTU MESIN
Sekarang jaman teknologi. Sebagian besar pekerjaan manual sudah tergantikan oleh mesin. Mesin dibuat untuk meringankan pekerjaan manusia. Demikian pula seharusnya pemungutan suara ini. Pemungutan suara yang dilakukan dengan bantuan mesin akan lebih efektif dan efisien. Caranya mudah saja kok. Warga negara yang mau memilih tinggal datang ke TPS, kemudian kemudian melakukan scan sidik jari atau retinanya. Setelah itu pemilih tinggal memilih gambar kontestan pemilu yang dipilihnya melalui layar atau dengan cara menekan tombol nomor. Selesai. Singkat sekali dan tidak bisa diulang. Data langsung masuk ke penyelenggara pemilu tingkat pusat. Bayangan saya, mesin pemilu ini sesederhana mesin absensi sidik jari atau mesin ATM (ada layarnya). Bahkan saya berharap, suatu ketika nanti pemungutan suara dapat dilakukan melalui handphone, sehingga pemilih dapat leluasa menggunakan hak pilihnya tanpa harus libur dan mengorbankan produktifitasnya.
Apa manfaatnya cara seperti ini?
Pertama, petugas KPPS tidak kelelahan, karena pekerjaan manualnya terbantu mesin, sehingga dapat terhindar dari sakit atau kematian yang tidak perlu. Jumlah petugas juga dapat diminimalisir, sehingga sangat efisien dari sisi biaya dan mengurangi tingkat human error.
Kedua, proses pemilu lebih cepat selesai, sehingga tidak mengganggu stabilitas ekonomi dan politik. Tidak ada lagi sistem perhitungan bertingkat (berjenjang) yang berpotensi menimbulkan keresahan dan konflik.
Ketiga, mengurangi penggunaan kertas (go-green). Ramah lingkungan bukan?
Keempat, dalam jangka panjang sangat hemat biaya, karena mesin pemilu seperti ini dapat digunakan berkali-kali di pemilu berikutnya (bukan sekali pakai seperti kertas dan kardus).
Kelima, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mengalami kemajuan, dari bangsa tradisional yang masih melakukan pemilihan secara manual dan selalu terjebak pada masalah yang sama, menjadi bangsa maju yang mampu memanfaatkan teknologi dan mampu meminimalisir masalah klise yang muncul. Ini lompatan kemajuan yang luar biasa.
Bagi orang yang anti kemajuan, pasti akan menolak dengan alasan tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini. Mengapa cara berpikirnya tidak dibalik? Jika tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini, bagaimana caranya supaya semua daerah dapat menggunakan teknologi maju seperti ini? Apa yang harus dilakukan? Sejelek-jeleknya, jika masih ada yang manual, prosentasenya tidak lebih dari 25%.

Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Copyright 2009 - 2019 :: ekotama. All Rights Reserved.