.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Thursday, 02 May 2019
Permohonan Sharing Knowledge
Muhammad Alfis Budi Sanjaya
Selamat Sore Apakah memungkinkan, kami mengundang Bapak untuk melakukan Sharing Knowledge di Perusahaan? Terima kasih Best Regards Muhammad Alfis
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 3
Total Pengunjung: 1065531

Saturday, 28 Apr 2018
ahmad abdullah
manage usaha

salam pak ekotama saya sudah membaca 2 buku bapak yang menarik yaitu matinya perusahaan gara gara sop dan cara mudah menyusun sop,saya ingin bercerita sedikit dan berkonsultasi dengan anda agar menemukan solusi dari problematika di usaha yang sedang saya jalani,saya memiliki usaha toko sepatu yg sudah berdiri selama 19 tahun tetapi tidak berkembang dikarenakan memang tidak ada niatan untuk dikembangkan karena cukup omset untuk kebutuhan,dan sekarang kami ingin mengembangkan usaha kami agar lebih menguasai pangsa pasar,nah singkat cerita problem usaha yaitu kami memiliki omset yang alhamdulilah lumayan besar sekitar 30-40jt per bulan sedangkan kami mempunyai hutang usaha yang sebesar 15jt dan kami cicil untuk bayar dan sisa uang kami selalu belikan barang barang baru untuk update agar tidak usah display,nah permasalahan nya omset kami selalu tergerus oleh barang2 tidak ada keuntungan sama sekali saya ingin diberikan solusi bagaimana me manage kulak barang dengan benar supaya sesuai dengan kebutuhan masyarakat,terima kasih banyak pak ekotama semoga sehat selalu saya harap untuk menjawab saya...terima kasih



Jawaban:
Friday, 04 May 2018

Terimakasih atensinya Bapak Ahmad Abdullah. Berikut ini jawaban atas pertanyaan Bapak:
Kulakan barang yang ideal adalah kulakan BARANG YANG DIBUTUHKAN KONSUMEN. Ini memerlukan kepekaan intuisi Bapak sebagai pebisnis sepatu. Kebutuhan sepatu konsumen berubah-ubah. Model kekinian mungkin terlihat norak bagi kita yang berusia 50 tahun, tetapi justru itulah yang dibutuhkan konsumen saat ini. Oleh karena itu, sebelum kulakan kita harus tahu terlebih dahulu, model seperti apa yang dibutuhkan konsumen, berapa harga yang diinginkan konsumen dan berapa banyak kebutuhan konsumen setiap bulannya. Mau tidak mau Bapak harus melakukan survey. Caranya juga mudah kok. Tinggal cek saja model yang laku terjual paling banyak tiap bulan dan menghasilkan keuntungan paling banyak, itulah yang dikulak. Model lain yang seret penjualannya dihentikan saja kulakannya dan barang yang masih tersisa di toko, diobral saja seharga harga beli, supaya modal bisa diputar kembali. Jangan lupa sering update informasi di internet, terutama di online shop, sepatu-sepatu yang laris terjual. Itulah yang nanti dijual di toko Bapak. Jika Bapak memiliki putra putri atau cucu usia produktif (20-45 tahun), mereka juga bisa dimintai masukan tentang model-model sepatu terkini yang laris manis di pasaran.
Selain itu, supaya omzet meningkat, tidak bisa hanya jualan offline saja (membuka toko saja). Bapak juga harus mengikuti cara jualan kekinian, yakni jualan online. Jadi toko Bapak juga melayani penjualan online.Tidak sulit kok pak. Pramuniaga yang ada, daripada nganggur menunggu pembeli, diberdayakan saja untuk turut menjual online. Kalau laku, Bapak bisa memberikan insentif kepada mereka. Dengan cara ini, pemasaran toko Bapak tidak hanya pasif, tetapi juga aktif. Mari kita jemput bola konsumen, supaya omzet kita bisa banyak.
Semoga membantu. Sukses selalu.





Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Friday, 15 Mar 2019

KEPRIBADIAN KONTESTAN PEMILU

Pemilu akan dilaksanakan sebulan lagi. Apakah Anda sudah memiliki pilihan? Siapa yang Anda pilih? Apa pertimbangannya? Apakah hanya semata karena kesamaan golongan dan kesamaan kepentingan? Ataukah ada pertimbangan lain yang lebih beradab?

Sebenarnya ada satu hal yang seharusnya menjadi pertimbangan utama kita untuk memilih kontestan pemilu, yakni kepribadiannya. Kepribadian sangat penting artinya karena menjadi dasar berpikir dan bertindak bagi seseorang. Jika kita memberikan kekuasaan kepada orang yang berkepribadian buruk, maka nasib bangsa ini bisa buruk. Sebaliknya, jika kita memberikan kekuasaan kepada orang yang berkepribadian baik, nasib bangsa ini bisa lebih baik.
Darimana kita menilai kepribadian kontestan pemilu? Caranya sangat mudah, yakni dengan melihat apa yang mereka lakukan selama menjadi kontestan pemilu. Kepribadian mereka tercermin dari pikiran dan tindakannya. Pikiran negatif dan tindakan yang tidak bermanfaat bagi masyarakat cerminan dari kepribadian yang buruk. Pikiran positif dan tindakan yang bermanfaat bagi masyarakat mencerminkan kepribadian yang baik.

Dalam menentukan baik buruknya kepribadian kontestan pemilu, indikator umum yang kita gunakan sebagai pedoman adalah:
1. Tidak melanggar peraturan (hukum positif Indonesia)
2. Tidak mengganggu kepentingan umum
3. Mengutamakan kepentingan negara diatas kepentingan pribadi dan golongan
4. Sopan dan beretika

Copyright 2009 - 2019 :: ekotama. All Rights Reserved.