.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Thursday, 02 May 2019
Permohonan Sharing Knowledge
Muhammad Alfis Budi Sanjaya
Selamat Sore Apakah memungkinkan, kami mengundang Bapak untuk melakukan Sharing Knowledge di Perusahaan? Terima kasih Best Regards Muhammad Alfis
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 4
Total Pengunjung: 1065532

Sunday, 29 Apr 2018
Hadi Gunawan
Pembagian Keuangan Kantor

Sebelumnya perkenalkan nama saya Hadi, saya sebagai head adm di salah satu perusahaan kontraktor bangunan. Singkat cerita, sistem management pembagian keuangan kantor, di kantor kami terdapat 5 divisi, yang mana masing" divisi pegang peran di bidang masing".

- DIVISI MURAL
- DIVISI SIPIL
- DIVISI DEKORATIF
- DIVISI FLOORING
- DIVISI FURNITURE
Modal awal pembentukan kantor ini sumbernya dari 1 orang, tapi nantinya jikalau perusahaan ini sudah berkembang dan perputaran keuangan sudah bagus, maka modal awal ini akan di bagi" rata ke masing" 5 divisi yang ada di kantor, jadi intinya kantor/perusahaan ini milik bersama. 
Di kantor terdapat :
- Kepala Marketing (Support)
- Staff marketing (Setiap Divisi memunyai marketing masing")
- Staff ADM
Sistem pembagian sederhana untuk saat ini:
contoh:
Total nilai project Divisi Flooring yaitu 200.000.000
di potong operasional untuk keperluan lapangan 50.000.000
Sisa Omset 150.000.000
Dari sisa omset ini, akan di kurangi lagi dari:
Contoh:
Omset 150.000.000
Di kurangin operasional kantor 20% senilai 20.000.000
Di kurangin gaji + bonus team marketing 10.000.000
Sisa omset 130.000.000
( operasional kantor akan di bagi ke 5 divisi yang mana masing" divisi akan di potong 20% dari nilai opr. kantor)
Dari omset 130.000.000 ini masih di bagi lagi antara kantor dan Divisi terkait.
50:50 
Jadi Prosit bersih divisi mural yaitu: 65.000.000
Hasil pembagian dari kantor sendiri yaitu senilai 65.000.000, ini akan di potong lagi untuk
- Direktur %
- gaji + bonus team kepala marketing. %
- Kepala ADM %
* Poin pertanyaan:
1. Apakah sistem menegement pembagian keuangan kantor ini sudah cukup, salah. Jika salah mohon solusinya.
2. Presentase yang harus di bagikan antara kantor dan masing" divisi
3. Solusi lainnya.
Solusi dan pendapat akan sangat berarti bagi kami, demi kemajuan perusahaan kami ini.
Salam.


Jawaban:
Friday, 04 May 2018

Terimakasih atas atensinya Bapak Hadi Gunawan. Berikut ini jawaban atas pertanyaan Bapak:

Saya tidak dapat menyatakan manajemen yang Bapak terapkan itu sudah benar atau salah karena setiap perusahaan memiliki cara sendiri untuk mengelola usahanya. Berikut ini saya akan sharing saja pengalaman saya mengelola perusahaan yang mirip dengan perusahaan Bapak. Nanti Bapak bisa bandingkan dengan manajemen Bapak dan mengambil manfaatnya: Perusahaan yang saya kelola memiliki satu kantor pusat dan 7 divisi. Kantor pusat di perusahaan kami disebut Cost Center, karena tidak menghasilkan pemasukan (omzet), mengeluarkan biaya. Kantor pusat kami berisi direksi, bagian keuangan, bagian SDM dan bagian Umum. Sedangkan 7 divisi di kantor kami disebut Profit Center,karena bertugas menghasilkan pemasukan (omzet) bagi perusahaan. Ke-7 divisi ini masing-masing dikepalai seorang kepala divisi. Sistem kerjanya: ke-7 divisi ini bekerja menghasilkan omzet untuk perusahaan, sedangkan kantor pusat bertugas mengelola keuangan, SDM dan pengembangan bisnis. Masing-masing divisi dibebani dengan target omzet tertentu tiap bulan. Jika gagal memenuhi target, kepala divisinya diganti dengan yang lebih produktif. Omzet (pemasukan) langsung disetor ke kantor pusat dan dikelola oleh kantor pusat. Untuk biaya operasional sehari-hari, Kepala Divisi dapat mengajukan permohonan pencairan anggaran kepada Bagian Keuangan kantor pusat. Target omzet untuk ke-7 divisi ditentukan berdasarkan analisis bisnis kantor pusat.

Contoh:  

1.       Kantor pusat dibebani target laba oleh pemilik perusahaan senilai Rp.30.000.000,-  sebulan. Margin laba rata-rata adalah 30%, sedangkan biaya operasional (termasuk gaji direksi dan karyawan) serta pengadaan bahan baku (modal kerja) mencapai 70%.  Oleh karena itu Direktur menetapkan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan, setiap bulan perusahaan harus mendapatkan pemasukan bersih Rp.100.000.000,- dengan asumsi untuk biaya operasional Rp.70.000.000,- dan laba Rp.30.000.000,-;  

2.       Target Omzet (pemasukan) perusahaan, dibebankan kepada 7 divisi sebagai berikut:

a.       Divisi A Rp.30.000.000,-

b.      Divisi B Rp.20.000.000,-

c.       Divisi C Rp.15.000.000,-

d.      Divisi D Rp.10.000.000,-

e.      Divisi E Rp.10.000.000,-

f.        Divisi F Rp.10.000.000,-

g.       Divisi G Rp.5.000.000,-;

sehingga totalnya Rp.100.000.000,- omzet dalam sebulan.

 

3.       Penentuan besaran omzet divisi berdasarkan kemampuan divisi tersebut dalam menghasilkan omzet. Divisi yang menghasilkan omzet terbanyak, gaji karyawan dan kepala divisinya lebih besar daripada divisi yang menghasilkan omzet lebih sedikit. Disini digunakan sistem fixed salary ditambah bonus dan insentif, supaya fair. 

4.       Biaya operasional masing-masing divisi sudah terukur melalui rencana kerja dan anggaran divisi yang dibuat oleh kepala divisi tiap awal tahun. Kantor pusat tinggal mencairkan saja sesuai permintaan / kebutuhan berdasarkan rencana kerja dan anggaran tersebut. Jika ada biaya yang belum dianggarkan tetapi harus dikeluarkan, kepala divisi harus menghadap direksi untuk membuat keputusan strategis berkaitan dengan hal tersebut. Termasuk jika membutuhkan modal kerja cukup banyak karena tiba-tiba ada proyek besar diluar rencana.  

5.       Pertanggungjawaban keuangan (pengelolaan keuangan) ada di kepala bagian keuangan, sehingga kepala divisi dapat fokus untuk bekerja mendapatkan omzet yang dibebankan kepadanya.  

6.       Laporan keuangan perusahaan disusun oleh direktur, dibantu Bagian Keuangan. Dengan cara ini, meminimalisir alur keuangan rumit yang membuka celah penyimpangan atau penyalahgunaan. Pertanggungjawaban laporan keuangan perusahaan menjadi tanggung jawab direktur.     Demikian yang pernah saya lakukan untuk mengelola sebuah perusahaan dengan satu kantor pusat dan 7 kantor divisi. Semoga memberikan wawasan lebih luas dan semoga bermanfaat. Sukses elalu untuk Bapak Hadi Gunawan dan perusahaannya. 





Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Friday, 15 Mar 2019

KEPRIBADIAN KONTESTAN PEMILU

Pemilu akan dilaksanakan sebulan lagi. Apakah Anda sudah memiliki pilihan? Siapa yang Anda pilih? Apa pertimbangannya? Apakah hanya semata karena kesamaan golongan dan kesamaan kepentingan? Ataukah ada pertimbangan lain yang lebih beradab?

Sebenarnya ada satu hal yang seharusnya menjadi pertimbangan utama kita untuk memilih kontestan pemilu, yakni kepribadiannya. Kepribadian sangat penting artinya karena menjadi dasar berpikir dan bertindak bagi seseorang. Jika kita memberikan kekuasaan kepada orang yang berkepribadian buruk, maka nasib bangsa ini bisa buruk. Sebaliknya, jika kita memberikan kekuasaan kepada orang yang berkepribadian baik, nasib bangsa ini bisa lebih baik.
Darimana kita menilai kepribadian kontestan pemilu? Caranya sangat mudah, yakni dengan melihat apa yang mereka lakukan selama menjadi kontestan pemilu. Kepribadian mereka tercermin dari pikiran dan tindakannya. Pikiran negatif dan tindakan yang tidak bermanfaat bagi masyarakat cerminan dari kepribadian yang buruk. Pikiran positif dan tindakan yang bermanfaat bagi masyarakat mencerminkan kepribadian yang baik.

Dalam menentukan baik buruknya kepribadian kontestan pemilu, indikator umum yang kita gunakan sebagai pedoman adalah:
1. Tidak melanggar peraturan (hukum positif Indonesia)
2. Tidak mengganggu kepentingan umum
3. Mengutamakan kepentingan negara diatas kepentingan pribadi dan golongan
4. Sopan dan beretika

Copyright 2009 - 2019 :: ekotama. All Rights Reserved.