.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Tuesday, 19 Mar 2019
Perjanjian Waralaba
mutia
Halo Bapak Ekotama, Saya Mutia, saat ini saya sedang menyusun kontrak perjanjian waralaba untuk lomba contract drafting. Saya telah membaca buku bapak yang berjudul rahasia kontrak franchise, buku tersebut sangat bermanfaat untuk membimbing saya dal
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 10
Total Pengunjung: 1318762

Saturday, 18 Aug 2018
Fabian
Franchise

Pak Ekotama ada pertanyaan lagi dari saya setelah anda

menjawab pertanyaan saya pada 23 Januari 2018:
1. Membeli paket lisensi waralaba dan menyewa tempat umpama katakanlah 1,2 M, nah biasanya untuk membeli bangku - meja dan untuk dekorasi memakan biaya seberapa banyak ? Apakah pembelian bangku dan meja itu sudah diatur franchisor(?)
2. Saya ingin tahu dimana tempat mencari akuntan publik, konsultan pajak, dan konsultan pemasaran yang baik supayasebagai owner bisa mempertahankan gerainya dalam jangka panjang ? Karena tanpa konsultasi sebuah bisnis pastinya akan babak belur !
3. Ketika sudah berhasil BEP setelah membukan cabang ke - 1 dan ingin kembali membuka cabang ke - 2 apakah kita perlu kembali membeli lisensi atau cukup menyiapkan budget saja untuk dekorasi dan sewa tanah tanpa membeli lisensi lagi ?


Jawaban:
Tuesday, 21 Aug 2018

Terimakasih atensinya Bapak Fabian. Semua pertanyaan Bapak sebenarnya sudah saya bahas lengkap dalam sebuah buku berjudul JURUS JITU MEMILIH BISNIS FRANCHISE, terbitan Citra Media, Yogyakarta. Bapak dapat melihat penampakan cover bukunya di website ini (silakan klik Galery Foto di sebelah kiri bawah laman ini). Buku tersebut mungkin sudah tidak ada di toko buku karena masa edarnya sudah habis. Namun alangkah baiknya Bapak dapat searching di internet, barangkali ada yang menjual secara online, sebab saya tidak bisa menjelaskan sedetail di buku itu karena keterbatasan tempat di pojok konsultasi ini. Buku-buku lama saya saat ini banyak dijual online dan sangat menguntungkan bagi para pembaca yang membutuhkannya.

Secara singkat, pertanyaan Bapak dapat saya jawab sebagai berikut:
1. Pembelian bangku dan meja sudah diatur franchisor dan sudah termasuk dalam biaya 1,2 milyar tersebut Pak. Jika Bapak membeli hak franchise 1,2 milyar, didalamnya sudah termasuk renovasi tempat, peralatan kerja, bahan baku dan set up manajemen. Semuanya serba standar sesuai SOP franchisor. Kita sebagai franchisee tidak diperbolehkan turut campur, karena nanti akan mengacaukan standarisasi tersebut. Perlu dicatat, salah satu kekuatan bisnis franchise adalah standarisasinya. Standarisasi ini menghasilkan efisiensi dan efektifitas luar biasa, sehingga gerai franchise tersebut menguntungkan.

2. Akuntan public, konsultan pajak, konsultan pemasaran tersebar di pelosok wilayah Indonesia Pak. Cara mencari yang paling efektif adalah melalui internet atau media social. Mereka pasti aktif di internet untuk mempromosikan usahanya. Tapi jika posisi Pak Fabian adalah sebagai franchisee (orang yang membeli hak franchise dari franchisor), tidak perlu menyewa akuntan public, konsultan pajak dan konsultan pemasaran. Semua itu sudah diurus franchisor. Anda terima beres saja. Jadi, franchisee itu sebenarnya berkedudukan sebagai investor. Kalau ada franchisor yang mewajibkan franchisee-nya jualan sendiri, mengurus perusahaan sendiri, dsb, itu bukan franchise pak. Tapi kemitraan. Di Indonesia ini istilah franchise dan kemitraan dicampur aduk ga karuan. Yang nakal sebenarnya pelaku kemitraan ini. Supaya investor tertarik untuk membeli gerainya, mereka mengatasnamakan franchise. Padahal usahanya tidak memenuhi persyaratan franchise. Perbedaannya cukup mencolok kok. Franchisee cukup menginvestasikan uangnya ke franchisor, bisnisnya diurus franchisor dan ia tinggal terima beres saja. Sementara franchisee abal-abal (ditipu oleh pelaku kemitraan), sudah disuruh menginvestasikan dana, masih disuruh kerja sendiri dan menanggung resiko sendiri. Mohon dicermati.

3. Jika ingin membuka cabang ke-2, prosesnya sama dengan membeli hak franchise yang pertama.
Semoga mencerahkan.

Sukses selalu...!





Tuesday, 09 Jul 2019

PEMILU 2020 & SETERUSNYA

Pemilu serentak 2019 telah usai dengan berbagai problematikanya, meskipun sebenarnya problematika ini sifatnya klise, selalu terjadi berulang sejak pemilu-pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, supaya kita tidak memelihara kebodohan abadi dan bangsa kita cepat maju dan berkembang, penyelenggaraan Pemilu 2020 dan seterusnya harus dibenahi. Apa saja yang penting untuk dibenahi? Mari kita lihat uraiannya berikut ini:

MENGGUNAKAN ALAT BANTU MESIN
Sekarang jaman teknologi. Sebagian besar pekerjaan manual sudah tergantikan oleh mesin. Mesin dibuat untuk meringankan pekerjaan manusia. Demikian pula seharusnya pemungutan suara ini. Pemungutan suara yang dilakukan dengan bantuan mesin akan lebih efektif dan efisien. Caranya mudah saja kok. Warga negara yang mau memilih tinggal datang ke TPS, kemudian kemudian melakukan scan sidik jari atau retinanya. Setelah itu pemilih tinggal memilih gambar kontestan pemilu yang dipilihnya melalui layar atau dengan cara menekan tombol nomor. Selesai. Singkat sekali dan tidak bisa diulang. Data langsung masuk ke penyelenggara pemilu tingkat pusat. Bayangan saya, mesin pemilu ini sesederhana mesin absensi sidik jari atau mesin ATM (ada layarnya). Bahkan saya berharap, suatu ketika nanti pemungutan suara dapat dilakukan melalui handphone, sehingga pemilih dapat leluasa menggunakan hak pilihnya tanpa harus libur dan mengorbankan produktifitasnya.
Apa manfaatnya cara seperti ini?
Pertama, petugas KPPS tidak kelelahan, karena pekerjaan manualnya terbantu mesin, sehingga dapat terhindar dari sakit atau kematian yang tidak perlu. Jumlah petugas juga dapat diminimalisir, sehingga sangat efisien dari sisi biaya dan mengurangi tingkat human error.
Kedua, proses pemilu lebih cepat selesai, sehingga tidak mengganggu stabilitas ekonomi dan politik. Tidak ada lagi sistem perhitungan bertingkat (berjenjang) yang berpotensi menimbulkan keresahan dan konflik.
Ketiga, mengurangi penggunaan kertas (go-green). Ramah lingkungan bukan?
Keempat, dalam jangka panjang sangat hemat biaya, karena mesin pemilu seperti ini dapat digunakan berkali-kali di pemilu berikutnya (bukan sekali pakai seperti kertas dan kardus).
Kelima, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mengalami kemajuan, dari bangsa tradisional yang masih melakukan pemilihan secara manual dan selalu terjebak pada masalah yang sama, menjadi bangsa maju yang mampu memanfaatkan teknologi dan mampu meminimalisir masalah klise yang muncul. Ini lompatan kemajuan yang luar biasa.
Bagi orang yang anti kemajuan, pasti akan menolak dengan alasan tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini. Mengapa cara berpikirnya tidak dibalik? Jika tidak semua daerah dapat menggunakan teknologi seperti ini, bagaimana caranya supaya semua daerah dapat menggunakan teknologi maju seperti ini? Apa yang harus dilakukan? Sejelek-jeleknya, jika masih ada yang manual, prosentasenya tidak lebih dari 25%.

Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Copyright 2009 - 2021 :: ekotama. All Rights Reserved.