.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Thursday, 02 May 2019
Permohonan Sharing Knowledge
Muhammad Alfis Budi Sanjaya
Selamat Sore Apakah memungkinkan, kami mengundang Bapak untuk melakukan Sharing Knowledge di Perusahaan? Terima kasih Best Regards Muhammad Alfis
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 6
Total Pengunjung: 1052754

Thursday, 05 Nov 2015
HARI SUMPAH PEMUDA, LAUNCHING BUKU "CARA GAMPANG MENGUBAH KARYAWAN MENJADI ASET"

HARI SUMPAH PEMUDA, LAUNCHING BUKU

"CARA GAMPANG MENGUBAH KARYAWAN MENJADI ASET"

Hari Sumpah Pemuda diperingati sebagai kebangkitan pemuda pemudi Indonesia dan jiwa nasionalismenya. Pertanyaannya, apa yang sudah kita lakukan untuk memperingati hari sumpah pemuda ini untuk kemajuan bangsa Indonesia?

Banyak pemuda dan pemudi justru galau memperingati hari sumpah pemuda. Sudah sumpah pemudanya tidak hapal, tidak pula ada karya nyata yang disumbangkan untuk memajukan bangsa. Namun berbeda dengan Suryono Ekotama. Seperti biasanya, penulis yang masih mengklaim dirinya muda usia ini memperingati hari sumpah pemuda dengan karya nyata. Ia menerbitkan buku baru untuk memperbaiki kualitas bangsa Indonesia bersama Penerbit Elex Media Komputindo (Jakarta) berjudul CARA GAMPANG MENGUBAH KARYAWAN MENJADI ASET YANG PRODUKTIF DAN MENGUNTUNGKAN. Buku ini adalah buku ke-20 dari serial buku bisnis praktis yang diterbitkan oleh Suryono Ekotama.

Buku ini didesain khusus untuk bisa dipelajari dan diaplikasikan oleh 5 pihak sekaligus:

  1. Calon karyawan yang sedang mencari pekerjaan. Gunanya, untuk memperbaiki kualitas diri sehingga mudah diterima bekerja di perusahaan / instansi yang didambakan;
  2. Karyawan, yang sedang berusaha memperbaiki kesejahteraannya. Gunanya, untuk meningkatkan kualitas kerja profesionalnya, sehingga mudah dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi dan otomatis kesejahteraannya lebih terjamin;
  3. Para staff atau pimpinan bagian HRD (human resources development), sebagai panduan untuk mengubah karyawan menjadi produktif dan mengembangkan ketrampilan karyawan dengan cara yang hemat biaya tetapi tepat sasaran;
  4. Para owner perusahaan yang seringkali dipusingkan dengan ulah karyawan, sebagai panduan untuk mengubah karyawan biasa menjadi asset perusahaan yang menguntungkan, tidak hanya bagi perusahaan tetapi juga bagi karyawan itu sendiri.
  5. Para akademisi / mahasiswa, yang sedang mempelajari bagaimana mengelola karyawan secara praktis. Buku ini dapat dijadikan buku panduan di perguruan tinggi karena 100% berisi kasus-kasus kekaryawanan yang pernah terjadi dan solusi-solusi praktisnya yang seringkali tidak diajarkan di bangku perguruan tinggi.

Pertanyaan selanjutnya, apa yang sudah Anda lakukan untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda? Bacalah buku ini, kemudian terapkan, perbaiki diri dan tingkatkan profesionalisme diri. Otomatis Anda akan menjadi orang penting (asset), tidak hanya bagi perusahaan / instansi tempat Anda bekerja, tetapi juga bagi bangsa Indonesia.


Wednesday, 08 May 2019

MEMILIH & DIPILIH

 

Banyak yang menduga saya golput gara-gara menulis artikel berjudul HAK dibawah. Padahal saya menulis artikel itu untuk meluruskan paham-paham demokrasi yang menyimpang. Memilih adalah hak, bukan kewajiban. Jika memilih adalah sebuah kewajiban, pasti ketentuannya sudah tercantum dalam undang-undang yang mengikat seluruh warga negara. Hak tidak dapat dipaksakan. Jika dipaksakan, tentu saja melanggar HAM dan menimbulkan masalah baru. Semoga para elit politik yang suka memaksakan kehendak dengan menakut-nakuti rakyat untuk memilih mereka, cepat sadar dan mau belajar kembali tentang demokrasi. Untuk menjadi bagian atau pemain dari demokrasi, kita harus memahami demokrasi itu sendiri luar dalam. Para penganut machstaat (negara berdasar kekuasaan) tidak layak hidup dalam negara demokrasi dan berbahaya bagi eksistensi demokrasi itu sendiri.

Thursday, 04 Apr 2019

HAK

 

Di negara demokrasi, memilih dan dipilih dalam sebuah event pemilu adalah HAK, bukan kewajiban. Setiap warga negara memiliki HAK UNTUK DIPILIH menjadi pemimpin bangsa, kecuali yang haknya dicabut oleh pengadilan karena tindak pidana yang dilakukannya. Sebaliknya, setiap warga negara juga memiliki HAK UNTUK MEMILIH pemimpin bangsa yang dapat mensejahterakan dirinya. Dengan demikian, pemilu diharapkan menjadi sebuah kontestasi yang adil dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Namun ada saja kelakuan orang-orang yang tidak memahami demokrasi. Pikiran mereka terpapar oleh paham otoritarian (meskipun mereka mengingkarinya). Namun fakta yang terjadi secara kasat mata menggambarkan hal itu. Mereka dengan segala kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya "memaksakan kehendak" kepada orang lain, mengubah hak menjadi kewajiban. Menurut paham mereka ini, memilih adalah kewajiban warga negara. Jika warga negara tidak melaksanakan "kewajiban" (versi mereka itu) dapat terkena sanksi. Begitu mereka menyebutkan sanksi, mereka tidak hanya "memaksakan kehendak" saja, tetapi juga "mengancam". Tentu saja ancaman ini muncul lagi-lagi karena kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya. Tanpa kewenangan dan jabatan yang melekat pada dirinya itu, mereka bukanlah siapa-siapa, tidak memiliki kemampuan memaksakan kehendak dan mengancam warga negara lainnya.

Friday, 15 Mar 2019

KEPRIBADIAN KONTESTAN PEMILU

Pemilu akan dilaksanakan sebulan lagi. Apakah Anda sudah memiliki pilihan? Siapa yang Anda pilih? Apa pertimbangannya? Apakah hanya semata karena kesamaan golongan dan kesamaan kepentingan? Ataukah ada pertimbangan lain yang lebih beradab?

Sebenarnya ada satu hal yang seharusnya menjadi pertimbangan utama kita untuk memilih kontestan pemilu, yakni kepribadiannya. Kepribadian sangat penting artinya karena menjadi dasar berpikir dan bertindak bagi seseorang. Jika kita memberikan kekuasaan kepada orang yang berkepribadian buruk, maka nasib bangsa ini bisa buruk. Sebaliknya, jika kita memberikan kekuasaan kepada orang yang berkepribadian baik, nasib bangsa ini bisa lebih baik.
Darimana kita menilai kepribadian kontestan pemilu? Caranya sangat mudah, yakni dengan melihat apa yang mereka lakukan selama menjadi kontestan pemilu. Kepribadian mereka tercermin dari pikiran dan tindakannya. Pikiran negatif dan tindakan yang tidak bermanfaat bagi masyarakat cerminan dari kepribadian yang buruk. Pikiran positif dan tindakan yang bermanfaat bagi masyarakat mencerminkan kepribadian yang baik.

Dalam menentukan baik buruknya kepribadian kontestan pemilu, indikator umum yang kita gunakan sebagai pedoman adalah:
1. Tidak melanggar peraturan (hukum positif Indonesia)
2. Tidak mengganggu kepentingan umum
3. Mengutamakan kepentingan negara diatas kepentingan pribadi dan golongan
4. Sopan dan beretika

Copyright 2009 - 2019 :: ekotama. All Rights Reserved.